Antara Macet dan Mudik Lebaran

Info lengkap disini

Alhamdulillah, kita telah melewati shaum Ramadhan dan Idul Fitri di tahun ini. Bagi kami sekeluarga, setiap ramadhan memiliki cerita yang berbeda. Dan karena tahun ini tahun kedua kami tinggal di Wonosobo, kali ini kami berlebaran di rumah orang tua di Purbalingga dan 3 hari kemudian berangkat melanjutkan silaturahim megunjungi orang tua dan keluarga besar di Jepara. Dan seperti biasa, setiap liburan usai menyisakan cerita yang tak pernah sama dari tahun ke tahun.

Puasa tahun ini, Isya ( 5 tahun) dan Himda (3 tahun) sudah mulai belajar puasa. Mereka sahur jam 6.00 pagi lalu buka puasa saat adzan Dhuhur, dan disambung puasa lagi sampai Ashar atau Maghrib, semampunya. Mereka antusias banget latihan puasa, jika ditanya puasa atau tidak, Isya akan menjawab mantap, Puasa Bedhug (puasa sampai Dhuhur). Mereka berdua juga semangat mengikuti rutinitas rutin selama bulan ramadhan di kompleks perumahan kami yaitu sehabis Ashar anak-anak mengaji Qiroati di TPQ lalu pulang sebentar dan sekitar jam 17.00 berangkat lagi untuk mengaji khusus materi Ramadhan yang diajarkan oleh remaja masjid. Setelah mengaji selesai, anak-anak diberi ta'jil untuk berbuka puasa bersama di masjid sehingga sepuluh hari pertama puasa, saya berbuka sendiri di rumah karena anak-anak berbuka di masjid dan suami mengajar kitab di kampus hingga maghrib.

Tahun ini, ramadhan juga berbeda karena saya tengah hamil muda. Di kehamilan ketiga ini, menurut bidan cukup rawan karena banyak energi yang terkuras untuk 2 persalinan sebelumnya dan saya harus lebih ekstra hati-hati dan makan makanan bergizi yang lebih banyak, untuk janin, kesehatan diri, dan juga menyiapkan untuk persalinan nanti. Dari awal, saya memang merasa kehamilan ketiga ini berbeda, memang jarang muntah-muntah tidak seperti kehamilan sebelumnya yang lumayan parah. Mungkin kondisi saat ini, kami sudah tidak tinggal dengan orangtua sehingga membuat segalanya harus lebih mandiri. Dan mungkin mempengaruhi kondisi psikis sehingga frekuensi muntah lebih sedikit. Selain itu, di kehamilan ini saya juga merasa lebih cepat lelah, tidak sekuat di kehamilan berikutnya, Selama ramadhan, saya juga sempat 2 hari tidak berpuasa karena kondisi badan yang drop. Mungkin karena hamil muda sambil mengurus 2 balita yang super aktif. Sementara, hanya itu yang ada dipikiran saya.

Karena berlebaran di rumah orang tua, saya tidak repot menyiapkan hidangan lebaran, kue-kue pun cukup hanya dari parsel dari kantor suami. Selebihnya kami memfokuskan untuk persiapan mudik. Berpamitan dan berkomunikasi dengan tetangga, beberes rumah, dan mengkondisikan mobil dalam keadaan fit, bersih dan siap dipakai untuk perjalanan jauh. Dan yang tak kalah penting menyiapkan fisik untuk perjalanan yang tidak sebentar dengan mengkondisikan badan sehat dan siap suplemen seperti madu.

Kami sampai di Purbalingga pada hari Kamis atau 2 hari sebelum lebaran. Esok harinya, kami langsung menuju ke Bidan Dorys, bidan yang menangani 2 kehamilan dan persalinan saya sebelumnya. Sayangnya, klinik penuh, Mba Ela sang asisten meminta kami untuk menunggu sekitar 1 jam karena akan ada kuret. Di ruang tunggu, kami melihat tidak sedikit pasien yang juga tengah mengantri. Daripada menunggu kami memilih pulang, toh stok vitamin masih cukup sampai seminggu sehabis lebaran. Ternyata bukan cuma pasar dan toko yang ramai menjelang lebaran.

Tahun lalu, kami berlebaran di Cilacap karena suami mendapat tugas sebagai imam dan khotib di sana, dan di Cilacap pertama kalinya Isya ikut takbir keliling, tidak sampai jauh sih, tapi ternyata terekam kuat dalam memorinya sehingga tahun ini ia minta ikut takbir keliling, akhirnya suami dan Mbah uti (ibu saya) menemani Isya dan Himda ikut takbir keliling yang ternyata rutenya cukup jauh, mengitari satu RW, padahal melewati sawah-sawah dan jalan raya. Untung Himda naik sepeda kecil sehingga tidak harus digendong. Karena masih balita, mereka tidak ikut membawa obor. Isya juga makin semangat bermain kembang api sepulang dari takbir keliling. Energi anak-anak memang luar biasa. Orang tua yang mendampinginya yang harus punya tenaga ekstra.

Idul Fitri tahun 2015 di Purbalingga

Tahun ini kami berlebaran di Purbalingga, dan mungkin karena kelelahan, Isya kurang begitu semangat saat shalat Idul Fitri. siang hari hingga sore harinya, kami bersilaturahi di rumah kerabat di Purwokerto, di rumah bulik (adiknya ibu), ibu dan Isya langsung tertidur, Isya yang kelelahan dan ibu yang tak kalah lelah memasak opor, ketupat, lalu menemani cucunya keliling kampung, beruntungnya Isya dan Himda punya keluarga besar yang baik.

Keesokan harinya, hari kedua lebaran kami bersilaturahmi ke Cilacap, mengunjungi beberapa saudara yang tinggal di sana. Sepanjang jalan menuju dan keluar dari Cilacap agak macet. Hingga menjelang maghrib kami baru sampai di Purbalingga, smenyiapkan perjalanan berikutnya yaitu ke Jepara.

Hari ketiga, agak kesiangan berangkat. Kami meninggalkan rumah pukul 08.30 dan transit di Wonosobo.  Kami memang sengaja istirahat, shalat dan makan siang sekalian menengok kondisi rumah. Jarak Purbalingga-Wonosobo yang bisa ditempuh sekitar 2 jam, karena padatnya jalan raya membuat kami baru sampai di Wonosobo sekitar jam 12.00 saat Dhuhur. Setiap mudik atau perjalanan jauh, kami berusaha untuk selalu membawa bekal sendiri, selain irit, juga melatih anak-anak agar tidak boros dan meminimalkan pengeluaran selama perjalanan. Kami berangkat lagi meninggalkan rumah pukul 13.00 dan menjumpai situasi yang tidak kami duga sebelumnya.

Biasanya, pada kondisi normal Wonosobo-Temanggung bisa ditempuh 1 jam perjalanan, tapi kali ini berbeda, kami baru bisa keluar dari Wonosobo masuk kota Temanggung setelah 2 jam terjebak macet. Itupun kami sudah dialihkan melalui jalan alternatif. Di sebuah pertigaan di Wonosobo, dengan lampu lalu lintas mati, jalanan macet, 2 polisi justru duduk di pos polisi tanpa mengatur lalu lintas. Mungkin mereka lelah, mengatur kemacetan tanpa henti. Gak papa ya pak, kan setahun sekali...

Karena perjalanan jauh, untungnya kami sudah shalat jamak takdim, shalat dhuhur sekalian Ashar sehingga saat terjebak macet tidak perlu khawatir meninggalkan shalat. Anak-anak juga membawa stok cemilan yang cukup, bantal untuk tidur, dan musik selama dalam perjalanan. Sehingga meski macet, mereka bisa menikmati perjalanan sambil ngemil.

Kami memilih shalawat dan murotal untuk musik di mobil, jadi selain bikin hati tenang, kalaupun masuk ke memori anak, mereka merekam musik yang baik. Benar saja sepulang mudik, mereka kadangmenyanyikan sholawat yang diputar bolak-balik selama perjalanan. Hafal dengan sendirinya. Tapi bukan anak-anak kalau mereka cukup dengan ngemil sambil duduk manis, saat bosan, mereka kadang berantem, becanda, pindah tempat duduk dari depan-belakang-ke depan lagi. Sehingga ada insiden Isya yang keningnya kejedug dan Himda yang jatuh karena berdiri diantara dua kursi depan saat suami mengerem mendadak, Hikmahnya, Isya yang biasanya gak mau pakai sabuk pengaman saat duduk di depan kini mau pakai sabuk pengaman apalagi kalau ia merasa mengantuk.

Macet menguras emosi? mungkin ada benarnya. Jadi daripada menghabiskan energi untuk emosi, saya mengajak anak-anak untuk bercerita tempat-tempat yang kita lewati seperti Temanggung yang seperti Wonosobo, diapit Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, melihat banyaknya pedagang buah dan madu di sepanjang jalan Ambarawa, banyaknya polisi yang mengatur lalu lintas untuk mengurai kemacetan, atau belajar aneka macam kendaraan yang kita jumpai seperti truk minyak, kontainer, shuttle, travel, dll. Jika anak-anak terkendali tentu tidak akan mengganggu suami sebagai pengemudi yang tengah konsentrasi penuh. Di sepanjang perjalanan yang kami lalui, sebagian besar memang kendaraan pribadi dari berbagai daerah. Sedikit sekali kendaraan umum, ataupun kendaraan industri seperti truk. Yah, kan memang ini masanya mudik.

Kondisi macet seperti ini juga mengajarkan anak-anak akan arti mengantri. Yang depan yang duluan. Selain itu, kami juga berulang kali berdoa, semoga perjalanan kami lancar, semoga bisa selamat sampai Jepara, semoga semua baik-baik saja. Anak-anak jadi ikut-ikutan berdoa. Di perjalanan kali ini kali melewati pengalihan arus karena ada bus yang terguling dan melintang di tengah jalan. Beberapa waktu lalu, kamipun melewati sebuah truk yang terguling di pinggir jalan. Sedikit banyak, macet mengajarkan anak-anak akan arti sebuah pengharapan dan doa.

Meski sambil bercanda dengan Isya dan Himda, saya juga khawatir melihat suami yang tampak kelelahan. Sebenarnya Wonosobo-Jepara bisa ditempuh paling lama sekitar 5 jam, atau 6-7 jam dari Purbalingga. Bahkan sebelumnya kami pernah ke Jepara hanya 4 jam saja dari Wonosobo karena berangkat habis Shubuh, lha sekarang jam berapa?

Himda tertidur saat kami sampai di Semarang. Hari sudah malam, dan semua ponsel sudah mati kehabisan batere. Untung saat ini ada power bank meski kami tidak terpikir menggunakannya. Di pintu tol Semarang pun kami harus antri karena banyaknya kendaraan. Dari Semarang ke Demak perjalanan cukup lancar, tidak macet meski jalanan ramai. Di langit tampak kembang api bertebaran. Rasa lapar mulai datang menemani lelah yang tak terkira. Rest area di sepanjang jalan yang kami lewati tampak penuh. Rizkinya pedagang yang buka hari raya. Isya berulangkali bertanya, sudah sampai mana, masih lama sampai rumah Mbah?
Dan alhamdulillah ia sabar hingga sampai Jepara. Mbah Khah (ibu mertua) tampak panik menyambut kami. Kami baru sampai rumah pukul 20.30 atau 12 jam perjalanan dari Purbalingga-Jepar dengan transit 1 jam di Wonosobo. Meski lelah alhamdulillah lancar dan selamat.

Di Masjid Agung Jawa Tengah

Esok harinya kami memanfaatkan silaturahmi ke keluarga besar bapak dan ibu mertua, dan juga mengikuti silaturahmi keluarga besar Bani Juremi dari pihak ibu yang tahun ini diadakan di Semarang, esoknya ke Kudus, hingga hari Jumat kami menyudahi silaturahmi di Jepara dan pulang ke Wonosobo. Dalam perjalanan pulang, kami singgah silaturahmi di Magelang dan esok harinya masih melanjutkan silaturahmi ke Temanggung. Dalam libur lebaran kali ini, Isya dan Himda banyak pengalaman baru, pertama kali ke Masjid Agung Jawa Tengah, berkunjung ke rumah saudara di Cilacap, Purwokerto, Jepara, Semarang dan Kudus. Bahkan ada beberapa saudara yang mereka baru pernah bertemu.

Bersama sepupu di Magelang

Sepulang dari perjalanan mudik, saya merasa ada yang berbeda dengan kondisi perut.  Baru sehari sampai rumah, kami harus berangkat lagi ke Purbalingga untuk halal bihalal sekalian periksa kehamilan ke Bidan Dorys. Hasilnya, kondisi kehamilan saya memang memerlukan perhatian. Posisi janin turun karena beberapa hari berturut-turut perjalanan dengan kondisi jalan yang tidak sama. Pantas saja perut saya kadang terasa nyeri, bidan Dorys memijat perut dan berusaha mengembalikan posisi janin ke tempat semula. Selesai? Belum, saya masih harus dipijit, mengurangi aktivitas berat, tidak boleh mengangkat, menggendong, dan membalik posisi tidur dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala dan minum vitamin teratur.

Saya ingat kata Bidan Dorys saat pertama kali periksa di kehamilan ketiga ini, perempuan melahirkan mengeluarkan darah sekitar 250cc apakah sudah dikembalikan? Belum lagi menyusui, lalu hamil lagi, nutrisi masuk ke janin lalu melahirkan dan kembali mengeluarkan darah, lalu menyusui selama 2 tahun. Apakah semua sudah dikembalikan? Para ibu biasanya akan mengutamakan gizi janinnya, gizi anaknya, gizi anggota keluarga padahal dirinya juga butuh gizi yang cukup untuk sehat. Gizi anak sangat penting tapi ibu yang memiliki kecukupan gizi juga tak kalah penting karena jika ibu sakit maka sekeluarga yang akan repot. Karena ibu memiliki peran penting dalam keluarga.

Mungkin ini salah saya, yang merasa masih sekuat dulu, saat hamil pertama masih kuat jalan kaki kemana-mana masih kuat naik turun tangga sampai lantai 3 saat tinggal bersama suami di rusunawa. Saya baru memakai stagen saat hamil trimester 3 untuk perjalanan jauh. Ternyata saya keliru, semua tak sama. Pada perjalanan mudik di kehamilan ketiga ini, saya tak memakai stagen atau apapun untuk melindungi perut dari goncangan. Setiap kehamilan punya cerita yang berbeda. Tapi saya tidak menyesali perjalanan silaturahmi lebaran tahun ini, karena banyak bertemu saudara yang hanya setahun sekali ketemu, bahkan beberapa tahun baru bisa bertemu kembali karena kondisi dan kesibukan masing-masing, bukankah itu hikmah silaturahmi, menyambung persaudaraan? Apalagi Isya, Himda dan suami dalam keadaan sehat hingga kembali ke rumah. Bukankah kesehatan juga nikmat yang tak ternilai.

Sepulang perjalanan mudik, saya lebih hati-hati dalam menjaga kehamilan. Khususnya dalam mengurangi aktivitas dan memakai pregnancy belt setiap hari. Baik-baiklah di sana, nak. Hingga nanti saat yang terbaik kita di pertemukan oleh Allah dalam suasana yang penuh kebaikan. Dan tidak ada yang tersisa dari ramadhan dan Idul Fitri selain doa,semoga Allah memperpanjang umur kita hingga dapat berjumpa lagi dengan ramadhan tahun depan dalam keadaan yang jauh lebih baik dan bisa beribadah lebih baik. Amiin.

Artikel ini diikutsertakan dalam #GiveAwayLebaran 




Komentar

  1. Ceritanya buat aku jadi paham bagaimana perasaan seorang ibu saat hamil :)

    Salam kenal yaa, mak Siti.. Terimakasih sudah ikut #GiveAwayLebaran :) Sering2 main ya ke blogku www.heydeerahma.com :)

    =Dee=

    BalasHapus
  2. salam kenal juga mba dee, smg sukses GA nya :)

    BalasHapus
  3. Waaaa nikmat bgt ni bisa k woonosobo, dulu aku mau k dieng, eh puter balik karena macetnya masyaalloh mb, palagi nanjak

    BalasHapus
  4. saya tinggal di wonosobo mba, silahkan mampir klo ke wonosobo :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 KEHAMILAN, 3 PENGALAMAN MENAKJUBKAN

Jamu, Menyingkap Sejarah Kesehatan Nenek Moyang Indonesia