Kamis, 28 Agustus 2014

MENIKMATI EKSOTISME JEPARA DI PANTAI BANDENGAN DAN PULAU PANJANG


Memiliki suami yang berasal dari Jepara membuat saya menginjakkan kaki di bumi Kartini ini sekaligus mengenal beberapa tempat wisatanya yang menarik untuk dikunjungi. Oh iya, sekilas mengenai Kabupaten Jepara,
Kabupaten Jepara terletak di pantura timur Jawa Tengah yang bagian barat dan utaranya dibatasi oleh laut. Bagian timur wilayah kabupaten ini merupakan daerah pegunungan.
Wilayah Kabupaten Jepara juga meliputi Kepulauan Karimunjawa, yakni gugusan pulau-pulau di Laut Jawa. Dua pulau terbesarnya adalah Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan. Sebagian besar wilayah Karimunjawa dilindungi dalam Cagar Alam Laut Karimunjawa. Penyeberangan ke kepulauan ini dilayani oleh kapal ferry yang bertolak dari Pelabuhan Jepara. Karimunjawa juga terdapat Bandara Dewandaru yang didarati pesawat dari Bandara Ahmad Yani Semarang. Jepara sendiri memiliki garis pantai sepanjang 72 Km. Selain di kenal sebagai kota ukir, Jepara juga terkenal sebagai tanah kelahiran pahlawan wanita Indonesia, RA Kartini. Nah, dengan kondisi geografis yang berbatasan dengan Laut Jawa, Jepara memiliki banyak wisata pantai yang menarik untuk di kunjungi, diantaranya Pantai Bandengan

PANTAI BANDENGAN JEPARA
Mengapa dinamakan Pantai Bandengan?
Pantai Bandengan Terletak di Desa Bandengan, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Asal-usul pantai bandengan berawal dari sunan muria yang hendak menyebarkan agama islam ke pulau karimunjawa. Ketika memasuki wilayah pantai Beliau menemukan ikan Bandeng yang jumlahnya begitu banyak. Oleh sebab itu wilayah ini dinamakan dengan Bandengan.

Menjelang kenaikan kelas di saat liburan pertama, NY. OVINK SOER dan suaminya mengajak R.A. Kartini beserta adik-adiknya Roekmini dan Kardinah menikmati keindahan pantai bandengan yang letaknya 7 kmke Utara Kota Jepara, yaitu sebuah pantai yang indah dengan hamparan pasir putih yang memukausebagaimana yang sering digambarkan lewat surat-suratnya kepada temannya Stella di negeri Belanda. RA Kartini dan kedua adiknya mengikuti Ny. Ovink Soer mencari kerang sambil berkejaran menghindariombak, kepada RA Kartini ditanyakan apa nama pantai tersebut dan dijawab dengan singkat yaitu Pantai Bandengan.Kemudian Ny. Ovink Soer mengatakan bahwa di Holland pun ada sebuah pantai yang hampir sama dengan bandengan namanya Klein Scheveningen secara spontan mendengar itu R.A .Kartini menyela kalau begitu kita sebut saja Pantai Bandengan ini dengan nama Klein Scheveningen.

Pantai Tirto Samudro atau Pantai Klein Scheveningen atau yang dikenal oleh masyarakat umum dengan sebutan Pantai Bandengan adalah pantai yang terletak 7 km sebelah utara dari pusat kota Jepara, Jawa Tengah. Pantai berpasir putih ini banyak dikunjungi untuk melihat matahari terbit dan matahari terbenam. Pantai ini juga acap digunakan untuk acara tingkat nasional maupun internasional berupa festival layang-layang dan ajang motor kross.

Kami berangkat dari rumah di daerah Kalinyamatan (Jepara bagian selatan, berbatasan dengan Demak). Kalau dari Semarang, Kalinyamatan lebih dekat jaraknya dari pada ke Jepara Pusat seperti Tahunan. Di Tahunan akan banyak kita temukan sentra ukiran khas Jepara yang sangat terkenal. Pantai Bandengan sendiri masih sekitar 7 Km dari pusat kota Jepara. Sekitar 1 jam perjalanan dengan motor kami sekeluarga tiba di Pantai Bandengan. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp. 5.000,- per orang kami segera memarkir motor lalu menuju pantai. Pantai ini sangat cocok untuk wisata keluarga, banyak pengunjung yang membawa rombongan atau keluarganya mengunjungi pantai ini. Karena selain menikmati pantai, banyak wahana menarik yang bisa kita nikmati seperti banana boat, Wave house (wahana ombak buatan untuk selancar), Jetski, kano, sandal raksasa, mainan anak, anak, dan yang gak boleh terlewatkan, naik perahu ke pulau panjang.

Sebagai obyek wisata yang cukup terkenal, Pantai Bandengan memiliki fasilitas yang cukup lengkap seperti mushola, penginapan, tempat parkir, warung makan, dan juga toko souvenir yang menjual aneka cenderamata khas Jepara. Sesampainya di pantai, kita akan disambut oleh beberapa orang yang menawarkan jasa penyewaan tikar. Tikar sendiri bisa kita sewa sebesar Rp.10.000,-. Oleh karena itu, tikar merupakan barang yang wajib dibawa selain perbekalan. Disini kita bisa duduk di atas tikar, menikmati udara pantai yang sepoi-sepoi sembari menyantap perbekalan sambil melihat pengunjung yang bermain pasir, kapal-kapal yang berlalu lalang, serta teriakan gembira para pengunjung yang tengaj menikmati banana boat atau jetski.

Karena membawa rombongan kecil, saya, suami, Isya dan Himda tidak menyewa tikar. Saya dan si kecil Himda duduk di gazebo, menikmati perbekalan sambil melihat Isya yang asyik bermain pasir dengan abinya. Gak perlu repot, pelampung bebek ini banyak di sewakan di sepanjang pantai.

Isya asik main pasir bareng abi

banyak persewaan pelampung, banana boat, dan jetski di tepi pantai Bandengan

Banyak gazebo yang disediakan untuk pengunjung Pantai Bandengan

Himda selfie with banana boat :D

Kita gak naik banana boat atau jetski, masih terlalu ekstrim buat 2 balita kami. So, setelah Isya puas main di pantai, yuuk kita naik perahu ke Pulau Panjang. Buat Isya dan Himda ini pertama kali kali naik perahu beneran menyeberang melewati laut dari Pantai Bandengan ke Pulau Panjang.

PULAU PANJANG JEPARA
Pulau Panjang merupakan satu dari 29 pulau di perairan JeparaPulau dengan luas 19 hektare ini berjarak 1,5 mil laut dari Pantai Kartini, Jepara. Kita berangkat dari dermaga Pantai Bandengandengan perahu motor dengan tarif Rp. 10.000,- per orangnya. Menurut Wikipedia, pulau kecil ini masuk gugus kepulauan Sunda Besar. Pulau ini memiliki pasir putih dengan dikelilingi laut dangkal berair jernih serta memiliki terumbu karang. Bagian tengah pulau ini terdapat hutan tropis dengan pohon yang tinggi menjulang se rta diselingi perdu dan semak sebagai tempat burung laut berkembang biak. Flora di pulau ini dominasi oleh pohon Kapuk randu, Asam jawa, Dadap, serta Pinus.

Perjalanan tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 10 menit Pulau Panjang telah tersaji indah di hadapan kami. Pengemudi perahu menawarkan tambahan ongkos Rp.3.000 per orang lalu maka kami akan di bawa berputar mengitari Pulau Panjang, tapi kami menolak dan memilih untuk segera turun di dermaga Pulau Panjang. Dan ini dia Pulau Panjang yang mempesona.


Selamat datang di Pulau Panjang

Menikmati pantai pasir putih di Pulau Panjang

Sesampainya di Pulau Panjang kami membayar tiket masuk lalu berjalan-jalan di pulau tak berpenghuni ini. Saat baru datang saya tidak menjumpai pedagang selain seorang penjual es lilin. Warung makanpun tak tampak di sekitar dermaga pantai. Entah para pedagang sedang tak berjualan atau memang jarang ada pedagang disana, sehingga perbekalan makanan wajib dibawa apalagi bagi yang membawa balita seperti kami. Kami beristirahat sejenak di pondok bambu yang sepertinya biasa di manfaatkan untuk berjualan. Fasilitas disini sepertinya masih butuh perhatian dan masih perlu di kembangkan misalnya dengan membangun penginapan yang mengusung go green, yaitu dengan membangun pennginapan tapi tidak merusak ekosistem pohon-pohon. Sayangnya Pemerintah Kabupaten Jepara belum memanfaatkan tersebut. Di Pulau Panjang terdapat Makam Syekh Abu Bakar sehingga pengunjung bisa sekalian berziarah sambil berwisata.
Meski demikian kita tetap harus menjaga kebersihan dan kelestarian alam disini dengan tidak membuang sampah sembarangan. Buang sampah di tempat sampah yang disediakan atau masukkan sampah ke dalam tas, di Pantai Bandengan akan banyak kita temui tempat sampah. Pulau ini masih asri dan sepi. Kami hanya beristiahat di pondok, anak-anak belum kuat berjalan mengitari pulau. Tidak sedikit pengunjung yang bermain pasir putih atau berenang di pantai. Memiliki laut dangkal yang berair jernih serta terumbu karang di dalamnya sepertinya seru buat diving atau snorkeling ya ...

Dan sebagai pengunjung/wisatawan yang baik, selain tidak membuang sampah sembarangan kita juga harus menjaga kelangsungan ekosistim disini seperti tidak mengambil terumbu karang, atau bagi warga sekitar tidak mengambil pasir dan karang secara liar. Sungguh saya tidak menyangka kalau DULU, pada tahun 1952 luas pulau masih sekitar 60 hektare, pada tahun 1982 tinggal 30 hektare. Sekarang hanya tersisa sekitar 19 hektare. Faktor alam seperti abrasi, ulah manusia yang tidak bertanggung jawab serta peran pemerintah yang belum maksimal. Penanaman hutan mangrove dan penataan alam Pulau Panjang di perlukan agar kita Pulau Panjang tidak bernasib sama sperti Pulau Bokor. Pulau Bokor terletak di perairan barat Desa Bulakbaru, Kecamatan Kedung Jepara. Pulau karang itu kini sudah tenggelam karena faktor alam dan ulah manusia yang banyak mengambil karang di pulau tersebut pada 1970-an. Mari berwisata tanpa merusak alam dan lingkungannya.

Setelah merasa cukup berjalan-jalan di Pulau Panjang, kami kembali ke Pantai Bandengan. Kapal yang kami tumpangi tidak sepenuh saat berangkat. Begitu turun di dermaga Pantai Bandengan, kami tidak langsung pulang. Ada banyak mainan anak-anak yang sayang di lewatkan Isya dan Himda.

Dermaga kapal wisata di Panta Bandengan

Main dulu sebelum pulang


TRADISI LOMBAN DAN KECELAKAAN KAPAL DI PULAU PANJANG

Bagi saya, Jepara adalah kota yang unik dengan kultur masyarakat dan kultur budaya yang menarik. Mungkin karena faktor sejarah dimana Jepara sempat dikuasai Kerajaan Majapahit, bangsa Portugis serta banyaknya pesantren di kota ini membuat Jepara menjadi kota yang kaya wisata, wisata ziarah, wisata religi, wisata sejarah, wisata budaya, wisata alam, dan yang gak boleh ketinggalan apalagi kalo bukan wisata belanja dan wisata kuliner...:D
Masih bertema laut dan jalan-jalan nih. Di Jepara ada tradisi pesta lomba atau bakda kupat. Pesta ini adalah puncak dari pesta syawalan yang diadakan 1 minggu setelah hari raya Idul Fitri. Rasa-rasanya pesta lomban ini lebih ramai dari pada saat hari raya. Kalau di daerah asal saya, Banyumas, kita menyantap ketupat saat hari raya, di Jepara sekitar 2-3 hari sebelum bakda kupat masyarakat Jepara baru-bersiap-siap membuat ketupat dan lepet. Pusat perayaan ini berada di Pantai Kartini, Jepara, namun bisa juga disaksikan di Ujung Gelam, Pantai Koin, Karimunjawa, serta beberapa tempat yang di tentukan sebelumnya. 

Pada saat pesta Lomban berlansung semua pasar di Jepara tutup tidak ada pedagang yang berjualan semuanya berbondong-bondong ke Pantai Kartini. Pesta Lombang berlangsung sejak jam 06.00 pagi dimulai dengan upacara Pelepasan Sesaji dari TPI Ujungbatu. Upacara ini dipimpin oleh pemuka agama desa Ujungbatu dan dihadiri oleh Bapak Bupati Jepara dan para pejabat Kabupaten lainnya. Setelah dilepas dengan do’a sesaji berupa kepala kerbau ini di”LARUNG” ke tengah lautan, pelarungan sesaji ini dipimpin oleh Bupati Jepara.
Sementara sesaji dilarung ke tengah lautan, para peserta pesta lomban menuju ke “Teluk Jepara” untuk bersiap melakukan Perang Laut dengan amunisi beragam macam ketupat dan lepet tersebut.
Selanjutnya dengan disaksikan ribuan pengunjung Pesta Lomban acara “Perang Teluk” berlangsung ribuan kupat, lepet, kolang kaling telur-telur busuk berhamburan mengenai sasaran dari perahu ke perahu yang lain. “Perang Teluk” usai setelah Bupati Jepara beserta rombongan seusai melarung sesaji kepala kerbau merapat ke Pantai Kartini dan mendarat di dermaga guna beistirahat dan makan bekal yang telah dibawa dari rumah. Di sini para peserta pesta lomban dihibur dengan tarian tradisional Gambyong dan Langen Beken dan lain sebagainya.
Puncak keramaian sendiri berlangsung di Pantai Kartini yang sekarang lebih dikenal dengan sebuta Taman Rekreasi Pantai Kartini, yang mampu menyedot pengunjung lebih dari 40.000 orang wisatawan. Di sini pula berlangsung berbagai macam lomba masyarakat nelayan Jepara, seperti : lomba dayung, lomba perahu hias, lorotan di atas air, dan aneka lomba lainnya.

Saya dan anak-anak memilih di rumah atau bersilaturahmi dengan keluarga di Jepara. Lebih ke alasan keamanan dan kenyamanan buat anak-anak sih, saat pesta Lomban jalan-jalan macet penuh oleh masyarakat yang menuju Pantai Kartini. 

Sebulan setelah kami berwisata ke Bandengan kami di kagetkan dengan peristiwa terbaliknya kapal di Pulau Panjang.  Kronologi peristiwa tersebut yakni kapal itu sudah beroperasi sejak sekitar pukul 08.00 saat tradisi lomban dimulai. Kapal itu membawa 80 penumpang dari dermaga Ngemplak, Jepara, untuk mengikuti pesta lomban dan kemudian kembali ke dermaga.

Setelah itu, dari pantai Kartini kapal tersebut mengangkut 15 wisatawan menuju Pulau Panjang.   Sekitar pukul 11.30, dari Pulau Panjang, kapal naas itu kemudian menaikkan lebih dari 40 penumpang untuk dibawa kembali ke pantai Kartini.

Kapal kemudian berangkat dari dermaga Pulau Panjang dengan posisi mundur ke belakang sejauh 150 meter. Dari posisi itu, nakhoda memutar untuk mengubah posisi kapal. Namun, sesudah posisi kapal menghadap ke utara, tiba-tiba kapal tidak terkendali dan posisi miring ke kanan. Akhirnya kapal yang sarat penumpang tersebut terbalik dan tenggelam di kedalaman 12 meter.

Kami teringat kembali saat nakhkoda kapal wisata menawarkan untuk berwisata kapal mengitari Pulau Panjang dan suami saya langsung menolak. Kami ingin segera turun dari kapal dan menjejakkan kaki di tanah. Alhamdulillah, kami sekeluarga selamat tapi hati kami juga sempat terguncang mengingat sebulan sebelumnya kami menaiki kapal wisata dengan rute yang sama. Apalagi tetangga kami juga ada yang menjadi korban. Kesimpulannya adalah, jangan berlebihan. Apapun moda transportasi yang  kita gunakan jangan sampai kelebihan muatan, baik muatan penumpang maupun barang. "Eling" pepatah singkat Jawa ini mengingatkan kita untuk "ingat". Tidak terburu-buru. Ingat Allah, ingat keselamatan diri dan keluarga, dan tidak lupa selalu berdoa memohon perlindungan pada Allah.

ISYA DAN LIANG TEH CAP PANDA

 Lho, apa hubungannya Isya dan Liang Teh cap Panda?
Biasanya kami cukup lama liburan di Jepara, pernah sampai sebulan disana. Sayang kan, jauh-jauh ke Jepara disana cuma sebentar. Apalagi ibu mertua tinggal sendirian sejak bapak meninggal dan putra-putrinya telah hidup dengan keluarganya masing-masing. Isya dan Himda juga betah disana menemani mbah utinya. Entah karena perubahan cuaca atau daya tahan tubuh yang menurun, saat di Jepara kadang anak-anak sempat ngedrop. Isya memang suka lupa minum air putih apalagi kalau keasikan main dengan kondisi Jepara yang agak panas pernah Isya menderita batuk, lumayan lama 2 mingguan. Dan liburan ini Isya kena sariawan, lumayan lama juga semingguan. Gak mau makan, gak bisa sikat gigi tapi tetap beraktivitas seperti biasa. Usia anak seumurnya memang lagi aktif-aktifnya. Karena gak bisa makan otomatis asupan gizinya berupa cairan, minum madu, minum jus buah, kuah sayur bening, kuah sup, dan minum larutan penyegar tiap hari. Mau bagaimana lagi. Apapun makanannya tak bisa masuk. Ini sariawan paling lama yang dideritanya dan pertama kali kenal larutan penyegar.
Pas pertama kali liat Liang Teh Cap Panda, malah Himda yang heboh.
"aannnndddaa aaaeeemm, aaaannnnddddaaa aaaaeeemmmm."
Panda maem, kata Himda. Ikut icip, pastinya. Apa yang dilakukan si kakak langsung di tiru si adik.
Alhamdulillah Isya, menurut, berbagi sama adiknya dan minumnya juga bertahap gak sekaligus. Abi suka yang cincau, enak katanya. Sebagai ibu, saya merasa aman saat anak-anak mengkonsumsi Liang Teh cap Panda apalagi saat mereka membutuhkannya, karena:
  • Memiliki sertifikat halal. Kehalalan adalah hal utama gak bisa ditawar untuk segala yang akan kita konsumsi
  • Terbuat dari herbal alami sehingga bisa dikonsumsi seluruh keluarga, termasuk anak juga bisa dong.
  • Rasanya enak, pas, dan tidak terlalu manis.
  • Dikemas secara modern dan higienis tanpa pengawet, pewarna dan pemanis buatan.
  • Sebagai solusi untuk mengobati panas dalam karena kurang minum air putih, cuaca panas, musim pancaroba, atau makan makanan berlemak.
  • Mempunyai banyak variasi rasa, Liang teh cap Panda, cincau, chrysanthemum, sarang burung, dan green tea.
  • Praktis bisa di bawa kemana saja dan diminum kapan saja, jangan lupa kalengnya dibuang di tempat sampah ya..
  • Siapa tak kenal Panda, anak-anak suka banget karena ada gambar Pandanya.


Berwisata bersama keluarga membuat kita semakin akrab dan dekat, berwisata alam membuat kita banyak bersyukur, merasa diri tak berarti di hadapan Tuhan. Tuhan telah menciptakan alam ini dengan begitu sempurna, kita tinggal menikmati, memanfaatkan secara bijak serta menjaganya agar tidak rusak.

Selain Pantai Bandengan, banyak wisata pantai lain di Jepara seperti Pantai Kartini, Pantai Empu Rancak, Pantai Pungkruk, Pantai Guamanik Pacatu, Pantai Teluk Awur, Pantai Semat, Pantai Ombak mati, Pantai Blebak, Pantai Suweru, Pantai Bayuran dan Pantai Beringin. Banyak sekali. Iya, memang banyak sekali. Baru di satu kota, di Jepara. Indonesia sebagai negara kepulauan memang kaya akan wisata pulaunya.

Untuk menuju Pantai Bandengan, dari Semarang jika mengendarai mobil pribadi juga mudah. Berikut ini rute yang bisa kita tempuh jarak dari Semarang sekitar 75,8 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam 21 menit.
  1. Ke arah utara menuju Jl. Kakap 79M
  2. Belok kanan menuju Jl, Kakap  0,6 Km
  3. Belok kiri menuju Jl. KL Yos Sudarso  0,2 Km
  4. Ambil belokan kanan ke-1 ke Jl. Bandarharjo Selatan  0,5 Km
  5. Belok kanan menuju Jl. Empu Tantular  53M
  6. Ambil belokan kiri ke-1 ke Jl. Merak/Jl. Raya Semarang-Purwodadi  26,4 Km lanjutkan untuk mengikuti Jl. Raya Semarang-Purwodadi
  7. Terus ke Jl. Lingkar Demak/Jl. Nasional 1   6,9 Km lanjutkan mengikuti Jl. Nasional 1
  8. Belok kiri menuju Jl. Raya Welahan (rambu Jepara)  7,0 Km
  9. Terus ke Bakung 4,6 Km
  10. Terus ke Jalan raya welahan  7,0 Km
  11. Belok kiri menuju Jl. Raya Jepara-Kudus-Mayong  1,0 Km
  12. Terus ke Jl. Raya Jepara-Kudus  4,9 Km
  13. Terus ke Jl. Raya Pecangaan, Jepara-kudus 3,8 Km
  14. Terus ke Jl. Hugeng Imam Santoso  2,5 Km
  15. Di bundaran ambil jalan keluar ke-2 menuju Jl. Sukarno-Hatta  4,9 Km
  16. Terus ke Jl. KH Wahid Hasyim  1,4 Km
  17. Terus ke Jl. Pemuda   1,1 Km
  18. Di bundaran ambil jalan. keluar ke-3 menuju Jl. RA Kartini. Jalan melalui 1 bundaran 0,8 Km
  19. Terus ke Jl. Ahmad Yani   0,3 Km
  20. Terus ke Jl. Ahmad Yani  0,3 Km
  21. Belok kiri menuju Jl. Shima  0,2 Km
  22. Terus ke Jl. Shima 0,9 Km
  23. Terus ke Jl. Jendral. A. Yani  0,3 Km
  24. Belok kiri untuk tetap di Jl. Jendral A. Yani 0,3 Km
  25. Belok kiri menuju Jl. Jepara-Bangsri   0,8 Km . Tujuan ada di sebelah kiri
  26. Selamat datang di kawasan wisata Pantai Bandengan Jepara Jawa Tengah
 Mari berwisata keliling pantai Indonesia :) Mari menjelajah Pantai Bandengan Jepara, jangan lupa oleh-olehnya,  ada durian petruk, kain tenun troso, atau berbagai ukiran cantik yang bisa kita bawa pulang sebagai cenderamata khas Jepara.




Sumber Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Pantai_Tirto_Samodra
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Jepara
http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Panjang_%28Jepara%29
http://id.wikipedia.org/wiki/Pesta_Lomban
http://suaramerdeka.com/harian/0511/07/mur07.htm
http://regional.kompas.com/read/2013/08/16/1535032/Kapal.Terbalik.di.Jepara.Pemilik.dan.Nahkoda.Jadi.Tersangka.
http://www.trackpacking.com/main/light/?redirect

Rabu, 20 Agustus 2014

BALITA BALAP KARUNG

Pada perayaan tujuh belasan tahun 2013 kemarin kami masih tinggal di Purbalingga, Isya baru berusia 3 tahun dan pertama kalinya ikut lomba tujuh belasan. Dia ikut lomba bawa kelereng pake sendok. Kebetulan lombanya di depan rumah. Dia menang, tapi pas final kalah. Meski gitu, dia teteup seneng bisa menaang :D
Habis lomba anak-anak kita lihat lomba panjat pinang, di sawah deket rumah. Disana lombanya banyak banget, lomba bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, belum lagi ada panggung hiburan dan malam tasyakuran, ga cukup deh sehari. Sayang gak kepikiran untuk di dokumentasikan.

Tahun ini kita udah di Wonosobo, tinggal di perumahan, lombanya gak serame waktu di kampung dulu, tapi tetep yang namanya lomba mesti wajib ada. Untuk anak-anak ada lomba makan kerupuk dan bawa kelereng pake sendok. Lokasinya di depan Masjid Muhajirin Perumahan Argopeni Indah Wonosobo. Setelah itu lomba balap karung untuk anak-anak, biar lebih aman lombanya di kebun/pekarangan di belakang sekolah Al Madina. Setelah anak-anak yang gedean ikut, sampe jatuh guling-guling di rerumputan, sekarang giliran Isya, Jibran n Kaka. Isya paling kecil nih (kaos kuning), Jibran dan Kaka sudah 5 tahunan. Awalnya takut dan bilang gak bisa, tapi nurut aja pas mba-nya Jibran pakein karung goni. 
Baru juga mulai, Jibran langsung jatuh, Isya langsung lompat-lompat ngejar Kaka, pas Kaka, balik Isya ikutan balik, Jibran yang telat ikutan balik juga. Satu dua anak bilang,"curang,curang."
Tapi semuanya ketawa aja, gak penting menang ato kalah, yang penting anak-anak seneng, melatih rasa percaya diri,  berpartisipasi ikut lomba tujuh belasan yang cuma setahun sekali.





 #GolokalPhotoContest1

Lokasi: Lomba tujuh  belasan di komplek Perumahan Argopeni Indah Wonosobo tanggal 16-08-2014

Minggu, 17 Agustus 2014

MENGENALKAN BENCANA PADA BALITA

Baru dua minggu kami tinggal di Wonosobo, kami mengalami peristiwa yang lumayan mengkhawatirkan. Seluruh Indonesia pastinya tahu bahwa pada Kamis malam tanggal 13 Februari 2014 Gunung Kelud meletus. Berbagai media menyiarkannya. Televisi yang jarang menyala menjadi teman setia seharian melihat perkembangan peristiwa tersebut apalagi selama 2-3 hari setelah Gunung Kelud meletus debunya sampai di Wonosobo. Bayangkan, Wonosobo-Kediri jaraknya kurang lebih 326 KM. Pada Jumat pagi kami sekeluarga melihat dari balik jendela hujan debu lembut menutupi dedauan, atap, teras dan jalan di depan rumah. Dan pastinya ini menjadi fenomena yang menarik dan menggelitik rasa penasaran dan keingintahuan kedua buah hati kami, Isya (4th) dan Himda (2th). Telepon berulang kali berdering, saling menanyakan kabar terutama dari keluarga dan saudara. Isya dan Himda juga melihat bagaimana Abinya berangkat kerja dengan memakai "baju perang" jas hujan dengan sarung tangan, masker dan helm rapat. Seharian kami beraktivitas di dalam rumah.
Keesokan harinya, kami mengira hujan abu sudah berhenti. Kami pun keluar, berbagi kabar dengan tetangga. Beberapa tetangga tampak sedang membersihkan kendaraan dan rumahnya dari debu. Sedikit anak memakai masker. Oke, saya pikir kondisi baik-baik saja. Sampai malam harinya Isya dan Himda panas, demam dan batuk-batuk. Karena Himda masih ASI dan di bantu ramuan herbal, alhamdulillah cepat pulih. Namun tidak dengan kakaknya, batuknya tak kunjung berhenti dan alhamdulillah sembuh beberapa hari kemudian setelah di bawa ke dokter. Saat Gunung Merapi meletus pada Oktober 2010, Isya berusia 3 bulan, ia pun menderita batuk seperti ini. Dan ternyata peristiwa ini terekam erat di memorinya, antara sakit batuk, hujan debu dan gunung meletus.

Saat ini kami tinggal di Wonosobo, kota kecil yang sejuk dan indah dengan dua Gunung berapi, Gunung Sindoro ((3.136 meter) dan Gunung Sumbing (3.371 meter). Daerah utara merupakan bagian dari Dataran Tinggi Dieng, dengan puncaknya Gunung Prahu (2.565 meter). Di sebelah selatan, terdapat Waduk Wadaslintang. Setiap hari kami disuguhi pemandangan yang indah, gunung tinggi menjulang, perbukitan dan pepohonan dimana-mana. 
Pernah suatu ketika Isya bertanya,"Ummi, kalau Gunung Sindoro meletus gimana?"
kita harus mengungsi, jawab saya saat itu. Pertanyaan sederhana yang membuat perasaan khawatir.

Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau. Indonesia memiliki lebih dari 400 gunung berapi dan 130 di antaranya termasuk gunung berapi aktif. Sebagian dari gunung berapi terletak di dasar laut dan tidak terlihat dari permukaan laut. Indonesia merupakan tempat pertemuan 2 rangkaian gunung berapi aktif (Ring of Fire). Terdapat puluhan patahan aktif di wilayah Indonesia. Indonesia memiliki Gunung api terbanyak karena terletak di atas tiga lempeng tektonik, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Australia dan lempeng pasifik.Lempeng bumi selalu bergerak sepanjang waktu. Lempeng selalu bergerak sepanjang waktu. Lempeng bisa bergerak saling bertumbukan, menjauh atau begeser. Ketika dua lempeng bertumbukan, salah satu lempeng bisa terdorong ke bawah lempeng yang lain dan meleleh. Gunung berapi terbentuk di daerah tempat lempeng-lempeng saling bertumbukan atau menjauh.
Gunung Tambora yang terletak di Pulau Sumbawa meletus bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index. Dan dianggap sebagai letusan gunung terdasyat di dunia. Letusan tersebut menjadi letusan terbesar sejak letusan danau Taupo pada tahun 181. Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut.Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh, tetapi angka ini diragukan karena berdasarkan atas perkiraan yang terlalu tinggi.Lebih dari itu, letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia. Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai Tahun tanpa musim panas karena perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari letusan Tambora ini. Akibat perubahan iklim yang drastis ini banyak panen yang gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya kelaparan terburuk pada abad ke-19.
 

Masih seputar lempeng bumi. Pergerakan lempeng bumi secara tiba-tiba akan menimbulkan gempa bumi. Pada daerah batas lempeng sering terjadi gempa bumi dan banyak gunung berapi. Oleh karena itu, batas lempeng merupakan daerah yang rawan terkena bencana tsunami. Batas lempeng tektonik paling aktif di dunia terdapat di Samudera Pasifik. Daerah ini dikenal dengan nama Lingkar Api Pasifik/Cincin api Pasifik. Lingkar Api Pasifik berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 Km. Daerah ini juga sering disebut sebagai sabuk gempa Pasifik. Sekitar 90% dari gempa bumi yang terjadi dan 81% dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang Cincin Api ini. Daerah gempa berikutnya (5–6% dari seluruh gempa dan 17% dari gempa terbesar) adalah sabuk Alpide yang membentang dari Jawa ke Sumatra, Himalaya, Mediterania hingga ke Atlantika.
Lingkar Api Pasifik merupakan batas lempeng tektonik paling aktif dan rawan terkena bencana tsunami. Indonesia terletak pada salah satu bagian Lingkar api pasifik, yakni diantara tiga lempeng tektonik. Oleh karena itulah, Indonesia memiliki banyak pantai rawan tsunami. Seperti tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 di Aceh. Tsunami dan gempa bumi berskala 9,3 SR ini sangat mengguncang Indonesia dan dunia. Peristiwa ini merupakan salah satu bencana alam paling buruk sepanjang sejarah. Tsunami tidak hanya menimbulkan korban jiwa tetapi juga kerugian material yang sangat besar, trauma dan kesedihan yang mendalam.
Pernah saya mendengar sebuah ucapan, hidup deket gunung kena gunung meletus hidup deket pantai kena tsunami, di tengah-tengah kena banjir atau tanah longsor.

Kita mengenal dua macam bencana. Bencana alam dan bencana karena ulang manusia yang tidak bertanggung jawab seperti banjir, erosi dan tanah longsor yang disebabkan penebangan hutan secara liar, kebiasaan membuang sampah sembarangan, kesalahan pengelolaan lahan, wilayah pemukiman yang terlalu padat dan juga getaran mesin, kendaraan dan penggunaan bahan peledak yang ikut memicu kestabilan tanah.

Sebelumnya, mari kita bersyukur di takdirkan Tuhan dilahirkan di tanah Indonesia. Abu vulkanik dari letusan gunung api mengandung berbagai mineral yang diperlukan oleh tumbuhan, oleh karena itu kita mengenal Indonesia yang kaya sumberdaya alam, sumberdaya panas bumi dan memiliki pemandangan alam yang indah. Tidak terhitung kekayaan alam dan keindahan Indonesia yang diakui dunia. Bencana alam yang mungkin akan kita hadapi membuat kita harus menghimpun informasi tentang bencana, penanggulangan dan antisipasinya.

BELAJAR DARI JEPANG

Jepang adalah negara kepulauan seperti Indonesia. Istilah tsunami sendiri berasal dari bahasa Jepang yang berarti “gelombang pasang” (tidal wave) yang datang mendadak. Itu berarti Jepang memang sebuah negeri tsunami. Bukan itu saja, Jepang terletak di zona seismik aktif, dengan topografi yang bergunung-gunung yang kaya akan gunung api dan sekaligus juga terletak pada jalur taifun. Maka Jepang sering dilanda berbagai bencana alam seperti gempa bumi, taifun, letusan gunung api, dll. sejak dulu kala.
Salah satu tsunami terdahsyat yang tercatat dalam sejarah Jepang adalah Tsunami Gempa Meiji Sanriku yang terjadi pada tahun 1896. Tsunami ini menewaskan lebih dari 20.000 orang. Setelah itu, pada tahun 1933 Gempa dan Tsunami Sanriku melanda daerah yang sama lagi dan menelan sekitar 3000 jiwa dan orang hilang. Jelaslah ada jeda selama 40 tahun antara keduanya sehingga orang menjadi tidak waspada. 
 Pemerintah dan rakyat Jepang merasa mendorong untuk melakukan usaha bersama terpimpin untuk melestarikan tanah dan mengendalikan banjir serta meningkatkan metode peramalan badai dan banjir serta sistem peringatan dini di tempat-tempat yang sering dilanda bencana. Berkat daya-upaya demikian, tahun demi tahun jumlah korban akibat bencana alam makin berkurang. Tanggal 1 September telah ditunjuk sebagai Hari Pencegahan Bencana di Jepang. Selama Minggu Reduksi Bencana yang berpusat pada hari tersebut, lebih dari 3,5 juta orang Jepang, termasuk Perdana Menteri, ikut serta dalam latihan-latihan kesiapan menghadapi bencana yang diadakan di seluruh Jepang. Untuk mendapatkan hasil yang memadai dalam usaha menekan seminimal mungkin akibat bencana terhadap penduduk, diperlukan penerapan latihan demikian secara berulang-ulang, tidak saja bagi mereka yang langsung terlibat dalam usaha penanggulangannya tetapi juga rakyat umum. Selain itu, langkah pemantauan terhadap “ulah alam” juga tak kalah pentingnya untuk menentukan kesiagaan penduduk menghadapi bencana.
Di Jepang, pengelolaan upaya penanggulangan bencana mendapat perhatian serius dari pemerintah, untuk itu ada Dewan Pusat Pengelolaan Penanggulangan Bencana (Central Disaster Management Council) yang dipimpin langsung oleh Perdana Menteri dibantu oleh Menteri negara untuk Pengelolaan Penanggulangan Bencana (Minister of State for Disaster Management).
Untuk tahun fiskal 2001, Pemerintah Jepang menyediakan budget sebesar sekitar 3 trilyun Yen untuk pengelolaan upaya penanggulangan bencana. Budget ini diperuntukkan :
1) Penelitian dan Pengembangan;
2) Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana;
3) Pelestarian Tanah Nasional;
4) Pemulihan dan Pembangunan Kembali Pasca Bencana.
Agar segala kegiatan penanggulangan bencana dapat dilakukan secara cepat dan lancar, maka terus dilakukan peningkatan kemampuan berbagai fasilitas dan perlengkapan berikut ini : satelit-satelit meteorologis, radar observasi cuaca dan seismometer; barang dan perlengkapan untuk tindak tanggap darurat, seperti perlengkapan pemadam kebakaran, tanki air, dan generator listrik; sistem penghubung dan komunikasi informasi darurat; sarana transportasi seperti helikopter, kapal, dan mobil; fasilitas evakuasi dan markas besar tindak penanggulangan bencana.
Segala daya upaya pemerintah tersebut (hingga ke tingkat pemerintah daerah) mendapat dukungan dari rakyat, a.l. dengan adanya berbagai organisasi relawan masyarakat lokal, termasuk para relawan Palang Merah Jepang. Selain itu, barisan Penjaga Pantai Jepang (Japan Coastal Guard) dan Pasukan Bela-Diri Jepang selalu siap melakukan tugas penyelamatan dalam bencana, termasuk juga unit-unit medisnya.
Khusus untuk tsunami, dilakukan langkah-langkah untuk melindungi kawasan-kawasan pantai guna menghindari atau mengurangi kerugian yang ditimbulkan oleh tsunami. Antara lain diberlakukannya sistem peringatan dini secara cepat dan penyiaran informasi ramalan tsunami, juga pembangunan dan perbaikan tembok-tembok laut, pintu-air pada tembok laut, dll. Di pulau Okushiri, misalnya, telah dibangun tembok penghambat tsunami sepanjang 14 kilometer garis pantai, dengan tinggi 12 meter. Diperlukan biaya yang cukup tinggi untuk pemeliharaan tembok panjang ini.
Sistem peringatan dini tsunami di Jepang telah mengalami penyempurnaan dan peningkatan sejak dibangun pada tahun 1952. Ada 6 pusat regional pemantauan dalam sistem ini yang berpusat di Tokyo. Di samping itu, 180 stasiun sinyal seismik terdapat di berbagai penjuru Jepang, sementar sensor-sensor yang dipasang di laut selalu dipantai terus menerus selama 24 jam sehari oleh Earthquake and Tsunami Observation System (ETOS) yang dijalankan dengan komputer. Jepang mempunyai teknologi maju dalam penyusunan data base yang dapat menganalisa gempa bumi dan memperkirakan tsunami.
Selain itu, di tempat-tempat yang diperkirakan rawan bencana, seperti gempa bumi dan tsunami, letusan gunung api, dll., penduduk mendapat buku petunjuk mengenai bencana yang bersangkutan. Pemerintah daerah pun mengajak penduduk untuk menjalani latihan penyelamatan secara reguler, dan membangun jalan-jalan khusus untuk menyelamatkan diri. Peringatan dini bencana dilakukan oleh pemerintah daerah antara lain dengan membunyikan sirene, memberikan pengumuman dengan pengeras suara berkeliling dan menyiarkannya melalui televisi. Pemerintah daerah mempunyai akses informasi melalui sistem satelit dan sistem komunikasi lainnya. Demikian pula untuk bantuan yang diperlukan.

PENANGGULANGAN BENCANA DI INDONESIA

Strategi penanggulangan bencana berdasarkan Pedoman Umum Penanggulangan Bencana dan Pe-nanganan Pengungsi  yang  ditetapkan melalui Keputusan Sekretaris Bakornas PBP No.  2 tahun 2001 adalah sebagai berikut:
  1. Tahap penyelamatan; saat kerusuhan terjadi, dilakukan dengan memberikan pertolongan, per-lindungan, dan penampungan sementara, bantuan pangan, sandang, obat-obatan, air bersih, sanitasi dan pembinaan serta pem-berdayaan tanpa membedakan perlakuan
  2. Tahap pemberdayaan; dilakukan dengan upaya perbaikan fisik dan non-fisik serta pemberdayaan, membina kerukunan dan me-ngembalikan harkat hidup pengungsi secara manusiawi sebagai warga negara yang memiliki hak hidup di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
  3. Tahap rekonsiliasi; dilakukan pembinaan terhadap tokoh masya-rakat, pemuka agama, dan tokoh adat yang berpengaruh pada masing-masing pihak serta mendamaikan kembali dengan pendekatan sosial budaya, HAM, dan hukum
  4. Tahap penempatan, pengungsi diarahkan pada 3 (tiga) alternatif yaitu: diutamakan kembali ke tempat semula, penyisipan pada lokasi atau desa yang terdekat atau ke permukiman baru (resettlement) atau transmigrasi lokal yang aman.
Sedangkan,  kegiatan penanganan pe-ngungsi meliputi  kegiatan-kegiatan:
  1. Penyelamatan.
  2. Pendataan.
  3. Bantuan tanggap darurat.
  4. Pelibatan masyarakat/ LSM
(Sekretariat Bakornas PBP, 2001 : 2).


adanya tsunami di Aceh juga memunculkan kesadaran dari masyarakat atas kesadaran untuk melakukan tindakan penanggulangan bencana seperti yang dilakukan PIBA (Pusat Informasi Bencana Aceh) sebuah situs yang berisi informasi lengkap yang pemahaman semua pihak tentang pentingnya sistem informasi kebencanaan baik yang terkait dengan peta risiko maupun informasi bencana secara umum. Informasi yang disediakan PIBA juga sangat lengkap meliputi bencana gempa bumi, tsunami, longsor, gunung api, bankjir, badai, gelombang, kekeringan dan kebakaran hutan. Ada juga organisasi nirlaba seperti gerakan masyarakat penanggulangan bencana Indonesia (MPBI) yang memiliki misi untuk menciptakan masyarakat yang aman dan terlindungi dari bencana, maka MPBI berupaya untuk melakukan kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana (PB) yang melibatkan para pemangku kepentingan agar PB dapat menjadi lebih baik. Selain itu masyarakat juga mulai sadar atas bahaya membuang sampah sembarangan, kesalahan tata kelola lahan, dan pentingnya hutan bakau di pantai.

MENGENALKAN BENCANA PADA KELUARGA

Selain pemerintah sebagai pemangku kebijakan, masyarakat juga harus proaktif. Dimulai dari keluarga sebagai pondasi utama. Melihat Isya yang antusias saat menghadapi gunung meletus dan merasakan dampaknya, kami membayangkan bagaimana rasanya menjadi korban bencana. Kehilangan keluarga/saudara baik karena meninggal ataupun hilang, kerugian material, sakit, trauma psikis, dan terganggunya masa depan seperti anak-anak yang tak bisa sekolah karena mengalami bencana. Sebagaimana Jepang yang mengenalkan bencana pada masyarakatnya, kita juga bisa mengenalkan sedari dini lingkungan sekitar pada keluarga khususnya buah hati agar mereka mengenal alam sekitar, mengenal lingkungan, mengenal negerinya, mengenal Tuhannya, dan minimal memiliki pengetahuan bencana yang mungkin terjadi karena kondisi alam disekitarnya. Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan pada keluarga/buah hati kita.
  • Melalui makanan. Mengenal alam Indonesia melalui makanan. Misalnya, Kita bisa mengajarkan dari mana asal nasi. Dari padi yang ditanam petani di sawah lalu kita menunjukkan sawah pada si kecil. Menceritakan bagaimana petani menanam bibit padi hingga memanennya. Lalu memberikan variasi menu. seperti cumi-cumi dari laut, sayuran dari pegunungan, buah dari kebun, ikan nila dari kolam air tawar. Dalam buku Totto-Chan, kepala sekolah Sosaku Kobayashi mengajarkan murid-muridnya untuk membawa bekal makan siang "sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan". Anak juga belajar makanan khas dari daerahnya dan dari mana makanan tersebut berasal.
  • Belajar menanam. Dari mana asal makanan? Selain membeli, kita juga bisa menanam beberapa jenis sayuran di rumah. Atau jika mungkin memelihara kolam ikan atau beternak. Selain lebih ekonomis dan higienis, mengajarkan menanam membuat anak belajar bahwa Allah memberi kita alam Indonesia yang subur mudah ditanami berbagai macam tanaman sehingga kita harus menjaga alam agar tidak rusak.
  • Melatih membuang sampah pada tempatnya. Hal penting namun sepele yang bisa kita mulai dari rumah. Saat dalam perjalanan kita bisa membawa kantung untuk sampah yang kita buang di tempat sampah yang kita temui, tidak membuangnya sembarangan. Anak akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya.
  • Mengenalkan bencana dari buku. Saat ini banyak buku-buku tentang sains dan ilmu pengetahuan diantaranya penjelasan tentang bencana yang disampaikan dengan gambar dan bahasa yang mudah dicerna. 
  • Dari buku tersebut kita bisa menjelaskan bencana kepada anak sekaligus akan kebesaran Allah, Allah yang menciptakan gunung, lautan dan alam seisinya dan hanya Allah yang mengetahui kapan bencana alam terjadi.
  • Melakukan percobaan-percobaan untuk mengenalkan anak akan bencana.
  • Belajar berbagi. Melatih simpati dan empati anak pada mereka yang sakit, menderita musibah atau bencana. Belajar berbagi bisa dimulai dari menolong teman yang jatuh, menjenguk teman yang sakit, atau memberi sumbangan pada daerah yang terkena bencana.
Beberapa percobaan yang bisa kita lakukan bersama si kecil diantaranya:
 
 TSUNAMI
Bagaimana tsunami terjadi? Lakukan percobaan berikut untuk mengetahui bagaimana tsunami terjadi.
Alat-alat yang dibutuhkan: 
1. Ember besar
2. Air
3. Balok dengan 2 ukuran besar dan kecil
4. Mainan
 
Tahap-tahap yang harus dilakukan:
1. Siapkan ember berukuran besar. Susun dua balok kayu berdampingan di dalam ember.
2. Letakkan lego/mainan di atas balok kayu yang lebih besar
3. Isilah ember dengan air sampai balok yang lebih kecil terendam air.
4. Dorong balok kayu yang lebih kecil ke tepi ember. Amati apa yang terjadi.

Penjelasan.
Apa yang terjadi pada saa balok kayu yang lebih kecil didorong ke tepi ember yang berisi air? Balok yang didorong akan menimbulkan gangguan pada air di dalam ember. Air di dalam ember akan membanjiri balok yang lebih besar dan sebagian akan tumpah ke luar. Mainan, mobil-mobilan dan lego di atas balok kayu besar pun bergulingan tersapu oleh air.
Hal yang sama juga terjadi pada saat tsunami. Balok kecil bisa kita anggap sebagai lempeng samudera, sedangkan permukaan balok yang besar bisa dianggap sebagai daratan. Lempeng yang tiba-tiba bergerak akan menimbulkan gempa bumi. Getaran akibat gempa bumi akan mengguncang air laut dan menimbulkan gelombang besar yang akan menghantam daratan. Bangunan, pepohonan dan orang-orang yang ada di daerah pantai bisa tersapu oleh gelombang tsunami.

Percobaan yang saya lakukan.
Karena tidak memiliki balok kayu, saya memakai dua media yang bisa tenggelam di air(tidak terapung). Pinggan sebagai ganti balok kecil, bangku plastik biru sebagai ganti balok besar.
Saat pinggang didorong ke tepi ember, air bergelombang, bangku palstik terdorong dan mainan berjatuhan ke air.



sebelum didorong

setelah didorong

GUNUNG MELETUS

Bagaimana gunung meletus bisa terjadi? Lakukan percobaan berikut untuk mengetahui bagaimana gunung meletus bisa terjadi.

Alat-alat yang dibutuhkan:
1. Pasir
2. Botol plastik
3. Soda bikarbonat
4. Cuka
5. Pewarna makanan berwarna merah
6. Papan kayu

Tahap-tahap yang dilakukan:
1. Buatlah gunung kerucut dari pasir di atas papan
2. Masukkan satu sendok teh soda ke dalam botol plastik. Campurkan dengan sedikit air hangat. Kocok perlahan sampai bubuk soda tercampur dengan air dalam botol tertutup.
3. Tambahkan sedikit pewarna makanan berwarna merah ke dalam botol. Lalu aduk menggunakan lidi sampai tercampur.
4. Masukkan botol plastik ke dalam gunung pasir.
5. Teteskan sedikit cuka ke dalam botol plastik. Beberapa saat kemudian, gunung plastik akan mengeluarkan cairan dan buih berwarna merah seperti lava yang keluar pada saat gunung meletus.

Penjelasan.
Apa yang terjadi pada gunung pasir setelah kita memasukkan cuka dan soda bikarbonat Asam dalam cuka akan bereaksi dengan soda. Reaksi itu akan membuat cuka dan soda terdorong ke luar. Busa berwarna merah akan menyembur dari gunung pasir terlihat seperti lava yang menyembur saat gunung berapi meletus. Magma yang ada di bawah permukaan terdorong karena adanya enaga dari dalam bumi. Magma yang keluar ini disebut lava, yang kita lihat pada saat gunung berapi meletus.

Percobaan saya:
Karena tidak memiliki soda bikarbonat, saya mencoba menggunakan soft drink berwarna merah. Meski efeknya tidak sebaik menggunakan soda bikarbonat, soft drink akan "mendidih" dan mengeluarkan gelembung-gelembung saat diberi cuka. 


TANAH LONGSOR
Bagaimana mengetahui tanah longsor dapat terjadi? Lakukan percobaan berikut untuk mengetahui bagaimana tanah longsor bisa terjadi.
 
Alat yang dibutuhkan
1. Kardus bekas
2. Tanah
3. Rumput
4. Alat penyiram tanah
 
Tahap-tahap yang dilakukan:
1. Siapkan kardus bekas. Potong secara diagonal
Isi kedua potongan kardus dengan tanah sehingga membentuk lereng
3. Tanam rumput pada salah satu kardus sehingga berumput. Kardus yang satu biarkan tanpa rumput.
4. Siram kedua bagian kardus dengan air.
5. Amati perbedaan yang terjadi pada kedua karus tersebut.
 
Penjelasan
Setelah disiram air, tanah tanpa rumput akan lebih mudah terbawa air dibandingkan pada tanah yang ditanami rumput. Sama seperti jika terjadi longsor di lereng. Pada lereng yg gundul lebih mudah longsor pada saat turun hujan. Sedangkan lereng yang ditanami pepohonan lebih kuat menahan air saat turun hujan. resiko tanah longsor pun berkurang.




Ada banyak cara untuk mengenalkan bencana alam pada buah hati kita. Semoga saat besar nanti, akan banyak yang bisa mereka lakukan untuk menjaga kelestarian alam, melakukan penanggulangan bencana dan bisa menghadapi dengan hati yang tegar dan bisa berbagi dengan sesamanya.




Sumber Referensi:
Bencana alam di Indonesia: Gunung Meletus, Erlangga, 2007
Bencana alam di Indonesia: Banjir dan tanah longsor, Erlangga 2007
Bencana alam di Indonesia: Tsunami, Erlangga, 2007
Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela, Tetsuko Kuroyanagi,Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2004
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Wonosobo
http://www.pojokmedia.com/2014/02/daftar-rekor-indonesia-di-dunia-yang.html
http://www.id.emb-japan.go.jp/aj310_03_8.html
 http://www.esaunggul.ac.id/article/urgensi-undang-undang-penanggulangan-bencana-di-indonesia/
 http://www.mpbi.org/content/tentang-kami