Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

KADER POSYANDU: ANTARA KELUARGA DAN MASYARAKAT

Gambar
 Rabu pertama setiap bulan menjadi hari yang harus saya dan ibu ingat. Bagi saya, ini hari dimana Isya (3,5 tahun) dan Himda (1,5 tahun) ke Posyandu untuk di timbang berat badannya. Bagi ibu, karena beliau kader Posyandu, sehari sebelumnya ibu sudah berkoordinasi dengan kader lain menentukan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) apa yang akan dibuat esok hari. Entah sudah berapa tahun ibu menjadi kader Posyandu. Seingat saya, sejak saya SD, di rumah pernah menjadi tempat Posyandu. Dulu masih jamannya Kartu Menuju Sehat (KMS), dimana tumbuh kembang anak dicatat di kertas yang bisa dilipat menjadi 3 bagian. seiring waktu berjalan, Poyandu dilakukan bergiliran di rumah para kader. Saat ini Posyandu sudah istiqomah di rumah Bu Neni yang menjadi ketua kader Posyandu di RW 2 tempat kami tinggal Menjadi kader Posyandu, tidak sekedar menimbang, ada Bidan yang mendampingi untuk imunisasi tiap bulan. Berat badan anak di kontrol, jika bulan berikutnya berkurang, kader harus menanyakan pada

SERUNYA NGE-BLOG BARENG MY TELKOMSEL

Gambar
  gambar dari : www.telkomsel.com Wah, alhamdulillah gak terasa nih, udah setahunan punya laptop sendiri. Bisa nge-blog dan internetan kapan saja (selama urusan rumah tangga kelar dan anak-anak udah tidur). Maklumlah, emak-emak, mesti keluarga kan yang utama? Dulu, saya dan suami punya satu laptop. Karena suami pulang tiap akhir pekan, saya cuma bisa pake pas beliau di rumah. Sering sampe lembur malam pas anak-anak tidur. Akibatnya laptop nge-hank. Kecapean di pake full seminggu. Di bawa ke reparasi,  ternyata harus ganti yang baru. Untunglah data-data bisa di selamatkan. Semua data-data penting, dari foto-foto kita, kerjaan suami, dan tugas-tugas kuliahnya. Alhamdulillah deh data nya selamat. Dan alhamdulillah lagi, Allah memberi rezeki untuk beli yang baru. Selalu ada yang bisa disyukuri di setiap musibah :) Mungkin geregetan sama saya yang selalu menyabotase laptopnya pas di rumah, suami saya membeli 2 laptop. Kebetulan pas pameran komputer jadi harganya agak miring. Y

SEHAT (SEHARUSNYA) MILIK SEMUA

Gambar
Bocah itu tak mau lepas dari pangkuan ibunya. Sesekali menangis, ia menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Bocah itu bernama Ratna (8). Sejak 26 November 2013 lalu ia dirawat di RS. Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa, Bogor. Ia didiagnosis menderita gangguan gizi, Marasmus Kwashiorkor dan anemia.Ratna merupakan pasien gangguan gizi ke-14 yang ditangani oleh RST Dompet Dhuafa. Selama lebih dari 1 tahun berdiri, RST Dompet Dhuafa telah menangani 36 kasus pasien gangguan gizi. Sebanyak 14 pasien ditangani di rawat inap dan sisanya merupakan pasien rawat jalan  Ratna didampingi ibunya. Gambar dari sini Menurut Direktur Utama Dompet Dhuafa  Ahmad Juwaini, dalam Republika , pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum berdampak pada menurunnya jumlah penduduk miskin di Indonesia. Alhasil, target pemerintah untuk mengurangi angka kemiskinan hingga delapan persen pada 2014 dirasa sulit direalisasikan. Jika menggunakan definisi Badan Pusat Statsitik (BPS), pada 2012,

Sekolah Kehidupan dari Bapak

Saat melihat dua anakku bermain dan bercanda dengan abi (suamiku), aku jadi ingat bapak. Bapak memang bukan tipe lelaki yang romantis dan humoris seperti suamiku. Bapak orang yang tegas, tapi bapak sangat sayang pada keluarga. Dulu, kami belum punya motor. Bapak memboncengkan aku kemana saja. Mengantar ke sekolah, ke dokter saat sakit, atau sekedar jalan-jalan. Saat aku beranjak remaja bapak bertanya,"apa kamu malu dibonceng bapak naik sepeda?" Aku tak malu pak, aku senang bapak menyayangiku. Bapak juga hobi jalan kaki. Kakiku sampai sakit jika ikut jalan kaki dengan bapak. Saat kami kecil, kemana-mana harus naik angkot atau bis lalu disambung jalan kaki. Saat jalan-jalan, kami sering bercerita banyak hal. Dan lagi-lagi bapak bertanya,"kamu kan sudah besar, apa gak malu jalan-jalan dengan bapak?" Ugh, bapak, apa bapak tau kenangan ini belum tentu terulang kembali. Saat ini aku lebih sering jalan-jalan dengan suami dan anak-anak. Kapan bisa jalan-jalan lagi

Kopi Instan & Cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak

Gambar
Asli, dari awal saya bukan penggila kopi, tidak pula terbiasa meminum kopi. Tapi di keluarga saya, kopi bukan minuman yang asing. Bapak hobi banget minum kopi tiap pagi dengan cangkir besarnya. Ibu kadang meneguknya   saat membuka hari, atau siang hari sebagai pelepas lelah. Kayaknya enak banget. Tiap bepergian, kita sering banget melewati berbagai warung kopi dengan berbagai nama, dari yang westren sampai nama lokal. Tempatnya pun beragam, dari warung kopi pinggir jalan, ada yang lesehan sampai coffee shop yang mewah dan elegan. Dari dulu saya pengen banget ngerasain kopi capucino, liat iklannya kok kayaknya enak banget dan ga perlu jauh-jauh ke coffe shop . Dirumah aja bisa karena ada Kopi instan &cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak. Cappuccino bikin penasaran, liat tampilannya yang creamy dengan taburan granule di atas foam aja udah kebayang enaknya. Jauh banget dengan bayangan kopi tempo dulu yang hitam, kental, pahit dan berampas di dasar gelas seusai min

Antri lagi....antri lagi...

Gambar
Jika peristiwa yang telah terjadi dinamakan takdir, maka aku menyebutnya takdir yang indah. Yang membuatku banyak bersyukur, meski pahit diawalnya, meski tak kumengerti sebelumnya, namun rasa syukur diakhirnya bahwa orangtua selalu memilihkan yang terbaik untuk buah hatinya. Juli 2000 Aku lulus SLTP, sebagaimana anak muda lainnya, aku juga mendambakan masuk ke sekolah favorit, SMUN 1 di kotaku. Dan alhamdulillah NEM ku lolos. Akupun berharap bisa menjadi salah satu siswa di sekolah yang terbaik di kota kami, yang memiliki lapangan luas, gedung yang bagus, beberapa lapangan olahraga indoor dan tidak jauh dari rumah. Hanya 5 menit naik sepeda. Hingga Allah mentakdirkan lain. Ibu ingin memiliki anak yang bersekolah di pesantren. 3 tahun lalu, kami sudah bersilaturahmi ke sebuah pesantren di Bumiayu, namun aku tidak jadi masuk kesana, dan masuk SLTP negeri di kotaku, dan ini kesempatan terakhir bagi ibu. Hari Rabu kami ke Bumiayu, pulang darisana, seorang penumpang di bus yang kami

Mendulang Berkah di Lautan Masalah

Gambar
  Seminggu sebelum bulan ramadhan, saya membawa 2 balita saya Isya (3 tahun) dan Himda (1 tahun) untuk bersilaturahmi ke rumah neneknya di Jepara, sementara suami saya akan menjemput di terminal Terboyo Semarang. Awalnya, perjalanan kami dengan bus patas lancar-lancar saja. Anak-anak yang tidak rewel dan perjalanan yang lancar. Ketidaknyamanan dimulai ke tika bus yang kami naiki ternyata tidak turun di Terminal Terboyo, kami diturunkan di pintu Tol Banyumanik lalu diantar dengan shuttle menuju terminal sementara bus kembali mengambil penumpang yang telah menumpuk di agen, balik ke Purwokerto. Suami saya yang telah menunggu di terminal, di depan agen bus tersebut segera keluar terminal karena shuttle tidak bisa masuk terminal. Turun dari shuttle kami berempat jalan kaki menuju terminal, berjalan diantara truk-truk besar dan bus-bus yang melaju. Bus jurusan semarang-jepara langsung penuh sejak di terminal. Bus ekonomi yang sesak membuat bungsu saya sesekali menangis. Namun, cobaan