Antri lagi....antri lagi...

Jika peristiwa yang telah terjadi dinamakan takdir, maka aku menyebutnya takdir yang indah. Yang membuatku banyak bersyukur, meski pahit diawalnya, meski tak kumengerti sebelumnya, namun rasa syukur diakhirnya bahwa orangtua selalu memilihkan yang terbaik untuk buah hatinya.

Juli 2000
Aku lulus SLTP, sebagaimana anak muda lainnya, aku juga mendambakan masuk ke sekolah favorit, SMUN 1 di kotaku. Dan alhamdulillah NEM ku lolos. Akupun berharap bisa menjadi salah satu siswa di sekolah yang terbaik di kota kami, yang memiliki lapangan luas, gedung yang bagus, beberapa lapangan olahraga indoor dan tidak jauh dari rumah. Hanya 5 menit naik sepeda. Hingga Allah mentakdirkan lain. Ibu ingin memiliki anak yang bersekolah di pesantren. 3 tahun lalu, kami sudah bersilaturahmi ke sebuah pesantren di Bumiayu, namun aku tidak jadi masuk kesana, dan masuk SLTP negeri di kotaku, dan ini kesempatan terakhir bagi ibu. Hari Rabu kami ke Bumiayu, pulang darisana, seorang penumpang di bus yang kami naiki menceritakan ada pesantren yang bagus di Wonosobo. Hari Kamis, kami ke Wonosobo mendaftar sekolah, mendaftar pesantren dan mampir bermalam di rumah bude di Magelah. Hari Jumat pulang kerumah. Dan malamnya aku harus menyiapkan segala keperluan untuk tinggal dan bersekolah di pesantren dan sabtu paginya kami bertiga berangkat ke Wonosobo.
Subhanallah, betapa Allah merencanakan dengan begitu sempurna. Seragam SMUN1 sudah ada ditanganku. Semua sudah beres. Tinggal menunggu masa orientasi, hanya karena keinginan kuat seorang ibu semua berubah dalam hitungan jam. Hanya semalam aku menyiapkan semuanya. Beberapa potong baju, seragam, jilbab, peralatan mandi dan makan. Bapak akan menyusulkan kasur lipat dan selimut untukku.

Sesampai disana, aku langsung mengikuti masa orientasi karena aku masuk pendaftaran gelombang 2. Bayangan sekolah favorit musnah sudah, sekolahku jauh berbeda dengan SMUN 1. Sekolah ini menempel dengan SLTP yang masih satu yayasan, masih banyak jalan berbatu. Jaraknya tidak terlalu jauh dari pondok, sekitar 10 menit berjalan kaki. Dan aku harus tinggal di pondok. Dengan kapasitas sekitar 60-an orang. Pesantren hanya menyediakan sebuah lemari kecil, semua perlengkapan harus kami bawa sendiri. Untuk tidur, kami berdempet layaknya ikan pindang. Demi ibu, aku melaluinya selama 3 tahun. Aku masuk di Blok I. Blok ini hampir selesai di bangun. Pembangunan dan penambahan kamar dilakukan karena santri pondok ini terus bertambah. Para tukang bekerja ditemani lagu Kuch-kuch Hota hai dari radio yang mereka bawa, saat itu demam Bollywood memang sedang merajalela.
Sebagian kecil penghuni Blok I

Di pesantren, kami harus bangun dini hari sekali. Sekitar jam 03.00 kami sudah mulai antri mandi, jika sekalian mencuci harus sebelum jam 3 pagian. Kamar mandi kami disebut kamar mandi 20. Ada 10 kamar mandi di depan dan 10 kamar mandi di belakang dengan 1 bak panjang di tengahnya. Sering kami terkantuk-kantuk di depan kamar mandi menunggu antrian sambil meneriaki teman yang mandi agar segera selesai. Meski ini bukan kamar mandi satu-satunya, tapi blok (kamar) kami mandi di kamar mandi 20 ini yang terletak di lantai dasar sementara blok kami  terletak di lantai 3 dan jemuran ada di lantai 5.Bayangkan aku harus mengangkat ember cucian dari lantai dasar menuju lantai 5, dan setelah sampai ternyata jemurannya penuh atau kseringkali baju yang para santri jemur menghilang. Entah terbang ditiup angin, terjatuh, atau di- ghosob (memakai barang tanpa seijin pemiliknya).

Setelah antri mandi, kami berjamaah shubuh di blok, diimami pembimbing blok. Pembimbing blok kami 3 orang santri senior yang berkuliah di Universitas yang masih satu yayasan atau santri blok Tahfidz yang sedang menghafal Quran. Pesantren kami, pesantren Tahafudzul Quran Al-Asyariyyah. Setiap tahun, pada 10 Muharram diadakan Haflah Akhirussanah dan Haflah Khotmil Quran. Saat Haflah, pondok akan mewisuda santri untuk 3 golongan. Khatam Juz'amma, Binnadzar, dan Bil Ghoib (hafal 30 juz dalam Al Quran).

Setelah kami shalat shubuh, kami mengaji bersama simbah KH Muntaha Al Hafidz, di aula depan. Beliau merupakan sosok ulama kharismatik di negeri ini, dan meninggal tahun 2004 atau 1 tahun setelah saya lulus. Dan paska mengaji kami menyebar mencari sarapan pagi, harus cepat karena antri..dan antri..:D
Di jalan menuju sekolah

Setelah sarapan kami segera bersiap ke sekolah, dan berjilbabpun harus antri karena jumlah cermin tidak sebanding dengan pemakainya, setelah itu kami setengah berlari ke sekolah sebelum Pak Slamet dan Pak Muhlis si satpam berkumis menutup pintu gerbang. Saat awal sekolah, banyak diantara kami yang tidur di kelas. Dan tidak ada sanksi apapun dari guru dan pihak sekolah. Mereka memaklumi kegiatan kami yang super padat. Pulang sekolah, kami makan siang, antri mandi, shalat Ashar lalu kembali mengaji bersama Simbah, setelah itu kembali menyebar membeli makan untuk makan malam dan harus kembalisebelum Maghrib. Simbah memang membebaskan para santrinya membeli makan dan keperluan santri di luar sehingga kesejahteraan masyarakat sekitar pondok ikut terangkat. Hari Jumat adalah hari libur ngaji. Sekolah tetap masuk. Kami bisa keluar pondok setelah mengantongi ijin dari Kantor Putri, kami juga bisa menerima tamu dan menerima telepon di kantor Pusat. Saat itu belum marak penggunaan handphone.

Kami shalat Maghrib di blok, lalu mengaji bersama mba-mba pembimbing disambung shalat Isya lalu belajar diniyah hingga pukul 21.00. Setelah itu diadakan wajib belaja 1 jam setelah diniyah. Awalnya, aku merasa berat, lelah dan tidak betah. Namun kakak kelas menyemangati untuk bertahan, pas awal-awal sekolah, banyak santri-santri yang berguguran. Ada yang pindah karena tidak betah ataupun sakit. Alhamduillah aku bisa selesai bersekolah disini. Mungkin karena keridhaan ibu. Katanya sih, kalau orang tua merindukan si anak maka anak tersebut bisa tidak betah mondok.

Selain tradisi antri, ada banyak kenangan manis di tempat ini, aku mendapat berbagai teman dari berbagai pelosok Indonesia. Jika selama ini pemahamanku tentang daerah hanya sebatas Purbalingga dan sekitarnya, di pondok aku bukan cuma mendapat banyak teman, juga mengenal banyak karakter, bahasa, makanan, kebiasaan dan hal-hal unik lainnya. Awalnya memang pahit, tapi manis pada akhirnya. Aku mengenal makna "keberkahan" yaitu kebaikan yang bertambah-tambah. Merasakan kuatnya doa orang tua, merasakan kebanggaan orangtua saat melihatku memakai baju wisuda mengikuti khataman juz'amma dan binnadzar. Disini, aku bergaul dengan para penuntut ilmu, para pecinta Quran, Allah mempertemukanku dengan Kyai kharismatik yang menjadi berilmu, para guru yang ikhlas, sungguh mengingat semua kenangan itu rasanya membuatku malu karena banyaknya ilmu yang terlepas dari ingatan.

Aku lulus tahun 2003. Berpisah dengan teman-teman membawa berjuta kenangan. Awalnya aku dan sahabat-sahabatku saling berkirim surat meneruskan persaudaraan kami, hingga kini banyak media online yang mendekatkan kami. Entah bagaimana kondisi sekolah dan pesantren saat ini. Terakhir ke Wonosobo sekitar 3 tahun yang lalu, sudah banyak yang berubah. Bangunan lebih bagus, toko-toko lebih banyak, waktu membuat begitu banyak hal berubah tanpa kita sadari. Memang benar kata Chrisye, ...masa-masa paling indah kisah kasih di sekolah...

Komentar

  1. Saya pernah mondok, tapi biasanya pas liburan sekolah saja. Pengalamannya mirip dengan yang Mbak ceritakan. Tapi karena pas liburan, jadi kegiatan saya dulu tak sepadat waktu normal. Setelah salat dhuha kami boleh tidur sebentar. Suasanya benar2 guyub di dalam pondok. Tak terlihat perbedaan kaya dan miskin. Semuanya kompak.. Salam kenal. Ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga mb ira..:)
      iya mb, benar2 guyub awalny bukan siapa2 Tp jadi saudara...mksh sdh berkunjung

      Hapus
  2. dulu aku wakti di pesantren waktu SMK..sempat mengidolakan bisa kuliah di kampus milik Al As'ariyyah wonosobo mbak..hemmmmm tapi nggak jadi..tapi aku teteap menjadi anak pondok hingga lulus kuliah..dan aku mencintai dunia pesantren sampai entah kapan aku akan mencintainya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sy cuma 3 th mb di al asyariyyah, sy juga mencintai dunia pesantren,alhmdulillah suami jg dr pesantren dan smg anak2 suatu saat nanti bs merasakan indahnya sekolh di pesantren :)

      Hapus
  3. banyak kenangan ya Mbak di pesantren itu...
    semoga silaturahmi tetap terjaga ya :)

    Makasih udah share ceritanya..
    OK. Tercatat sebagai peserta^^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 KEHAMILAN, 3 PENGALAMAN MENAKJUBKAN

Jamu, Menyingkap Sejarah Kesehatan Nenek Moyang Indonesia