Sabtu, 24 Januari 2015

Kado Jilid 1

contoh mobil remote control (gambar dari sini)

Gak terasa sudah setahun kami tinggal di rumah (kontrakan) ini. Isya sudah masuk TK kecil, dan Himda sudah bisa jalan. Di TK, Isya mendapat pelajaran tambahan ngaji Yanbu'a. Dia masih Jilid 1. Pelajarannya sepulang sekolah, biasanya Isya pulang jam 9.30 dan untuk hari rabu, kamis dan Jumat ada tambahan ngaji Yanbu'a dia pulangnya jam 10.30. Di rumah, setiap sore Isya juga ikut ngaji TPQ, disini menggunakan metode Qiroati, Isya masuk Jilid 1 dan belum juga selese. Kadang hujan, sempet mogok gak mau berangkat ke TPQ sampe hampir 3 bulanan, libur ngaji selama bulan ramadhan (diganti pengajian ramadhan) dan libur karena ustadzahnya melahirkan, selain itu tiap masuk dia gak pasti lulus. Jika ada yang belum bisa, harus diulang sampai bisa, sampai ustadzahnya menulis huruf L (lulus) di buku prestasinya. Karena kemampuan anak beda-beda, buat kami yang penting anak MAU berangkat mengaji. Pertolongan Allah, waktu dan proses belajar yang yang akan membuat dia bisa. Selain di sekolah dan di TPQ, Isya juga mengaji di rumah, kadang mau sama saya, kadang maunya sama Abinya. Yang penting MAU mengaji. Karena di rumah waktunya lebih fleksibel, Isya sudah hampir khatam Jilid 1. Saat ini di rumah ia tengah belajar huruf hijaiyah yang disambung. Di TPQ, ia baru sampai huruf "dzo" dan di sekolah kurang lebih sama.

Dan, selama setahun ini Isya dan Himda alhamdulillah belum pernah ke toko mainan. Yang saya ingat, selama tahun 2014 kemarin, saya sekali beli balon kuning untuk Himda, sekali dibeliin oleh-oleh miniatur pesawat Air Asia sepulang Abi dari Batam dan 2-3 kali beli gelembung sabun untuk mereka. Mainan mereka bawa dari rumah Purbalingga. Untungnya, mereka punya simbah-simbah yang baik. Simbah dari Purbalingga membelikan truk minyak untuk Isya dan boneka Masha untuk Himda. Mereka juga dapat kado mainan dari keluarga di Jepara, mobil polisi untuk Isya dan Unta untuk Himda. Tapi tetep aja beda kalau belum beli sendiri, alias belum dibeliin Abi Umminya. Dan kami pun membuat perjanjian, Isya akan dibelikan mainan kalau ngajinya sudah selesai dan insyaallah dalam waktu dekat dia akan khatam Jilid 1 versi ngaji di rumah (kalau di PQ dan sekolah kayaknya masih lama). Yah namanya anak, Isya pastinya mupeng liat mainan, pas kami silaturahmi di Purwokerto, ia lihat mainan pancing ikan, dan bilang"Kak Isya pengen mainan itu." Saya jawab,"entar beli mainannya kalo ngajinya dah selese." Lain waktu, kami silaturahmi ke Purbalingga dan Isya liat mainan pesawatnya yang sudah rusak dan ia berkata,"nanti kalau ngajinya sudah selesai, Kak Isya mau dibeliin pesawat kayak gini." Dan ia meminta simbahnya menyimpankan mainan pesawatnya yang sudah rusak. Sampai sebegitunya, saking kepengennya punya mainan baru. Dan kami bertahan, tidak akan beli sampai ia selesai paling tidak untuk Jilid 1. Pas liat temannya punya mainan parasut, kami bikin sendiri dari tas plastik yang di beri tali, pesawat, topeng, juga bikin sendiri dari kardus, kertas atau apalah yang tersedia di rumah. Dulu, saat Isyabaru berusia setahun, ia pernah punya mobil remote control tapi rusak karena memang belum waktunya kami membelikan mainan ini. Dan sekarang ia pengen banget mobil remote control ini sebagai hadiah untuknya yang telah selesai Jilid 1. Dan kami kembali membuat perjanjian, akan ada hadiah setiap menyelesaikan setiap Jilid Yanbu'a. "Kalau Kak Isya bisa baca Qur'an, nanti dikasih hadiah?"
"Insyaallah iya." jawab kami.
"Kalau Kak Isya hafal Qur'an dapat hadiah juga?"
"Insyaallah iya, hadiah dari Allah juga pastinya."
"Oooww..gitu ya, Mi." 

Nah karena Isya sudah masuk beberapa halaman terakhir Yanbu'a Jilid 1, kami pun menyiapkan budget untuk beliin dia mobil remote control, sesuai janji. Banyak olshop yang menjual mainan anak termasuk mobil remote control yang kami cari. Jika selama ini dia melihat kurir mengantarkan paket untuk kami, seru juga ngebayangin ada kurir yang mengantarkan paket pengiriman untuknya. Pastinya gak pake lama karena pengirimannya pake JNE, dan ini akan memberi dia pengalaman baru menerima paket yang ditujukan untuknya, dan berisi kado impiannya selama ini, kado untukmu anak sholih, yang rajin mengaji, yang di sayang Allah dan Abi Ummi. Semoga kadonya membuatmu gembira dan makin semangat belajar dan mengaji, karena bukan tidak mungkin ada kado-kado lain menunggu.


 

Pengen Kado Bento

 Bento, bekal yang unik dan menarik ( gambar dari sini)

Gak terasa sudah setengah tahun Isya (4,5tahun) masuk TK kecil. Karena di rumah dia jarang banget jajan, pas masuk sekolah saya selalu bikinkan dia bekal. Alhamdulillah Isya nurut aja dan selalu makan apapun yang saya bawakan. Suatu ketika, sekolah mengadakan pelajaran tambahan mengaji yang membuat pulangnya jadi lebih siang. Biasanya pulang jam 9.30 menjadi jam 10.30. Cuma 3 hari seminggu, tapi membuat saya jadi mikir kasian juga nih anak gak pernah jajan, jadi kadang saya tambah bekal uang Rp. 500 atau Rp. 1000, etapi Isya masih cuek dan pernah ilang duitnya dan anehnya dia gak merasa kehilangan malah minta" Gak usah bawa uang, bawa bekal aja deh." Okelah kalo begitu, dan betapa beruntungnya emaknya ini punya anak baik yang nurut dan selalu nrimo dan makan apapun bekalnya, dan gak ngiri meski temen-temenya pada beli jajan dan mainan di sekolah.

cetakan bento mobil (gambar dari sini )

Saya jadi kepengin banget punya bento, membayangkan alangkah senangnya Isya dapet bekal yang lucu, selain bergizi. Pastinya dia tambah semangat makannya. Apalagi Himda juga kadang ikut sekolah kakaknya, selain buat bekal sekolah, bento juga bisa untuk bekal di perjalanan karena Isya dan Himda suka makan di mobil. Di rumah kami, biasanya anak-anak sarapan pagi, makan bekal di sekolah, pulang makan cemilan yang ada di rumah tus makan sore. Jadi kami memang gak membiasakan anak-anak jajan dan bikin mereka kenyang di rumah. Meski berusaha menyiapkan makanan yang bergizi, tapi masak sih penampilannya polos cuma begitu aja, apalagi anak-anak suka berimajinasi dengan bebas baik berupa bentuk maupun warna. Dan saya juga harus belajar bikin karena memang belum pernah coba sama sekali, tapi gak masalah karena banyak tutorial dan buku-buku tentang menu dan cara pembuatannya. 

Makanya di tahun ini saya pengen banget punya kado perlengkapan bento, saat ini banyak banget olshop yang menjual berbagai cetakan bento yang lucu-lucu. Sampe mupeng liatnya, cetakan ini memang mempermudah kita membuat aneka kararter lucu untuk bekal si kecil. Ada juga kisah seorang ibu yang sukses berbisnis bento berawal dari bekal sang anak. Sisi positifnya si kecil jadi terbiasa makan makanan rumah yang sehat, mengurangi kebiasaan jajan dan menghargai usaha orang lain. Asiknya lagi, lewat jasa pengiriman semua jadi lebih praktis. Tinggal tunggu pesanan datang lalu berkreasi, bukan cuma emaknya yang belajar kreatif, anak-anak juga bisa belajar berkreasi sekaligus membuat bekalnya sendiri. Semoga terkabul. Amiin



Kado Terindah Dari Sahabat

Tahun 2000.
Saat itu kamar yang aku tempati di pondok sangat riuh, bayangin coba ada 60-70 anak sekamar. Semua belum saling mengenal. Ada yang masih ditunggui orang tuanya, ada yang masih cangguh, ada yang langsung ngerasa nyaman. Memang tiap anak punya motif berneda-beda untuk masuk pesantren. Blok I yang aku tempati berupa sebuah ruangan besar dengan lemari 2 tingkat yang berada disisi tembok. Masing-masing anak membawa kasur lipat, selimut dan bantal sebagai perlengkapan tidur. Disinilah kami makan, tidur, sholat, belajar, mengaji dan berkumpul bersama teman-teman tiap hari. Ada yang bertahan sampai lulus, ada pula yang tidak betah dan pindah ke sekolah lain. Sekali lagi, hidup di pondok memang beda.

Disinilah semua bermula, aku mengenalnya sebagai anak yang ramah dan periang. Kami biasa memanggilnya Aya. Ia tidak membawa kasur sehingga kami berbagi tempat tidur. Bapak ibu membawakanku kasur lipat tipis ukuran single bed yang aku pakai berdua dengannya. Meski tidak pernah sekelas, kami selalu bersama. Ia sering dijuluki dewa air karena mandinya suka lama. Budaya antri memang wajib di pondok, apalagi saat shubuh, terlalu lama di kamar mandi, maka bersiaplah di teror dari luar :)
 
Meski begitu, Aya tetap nyante. Ia memang anak yang easy going. Selalu ramah, ceria, dan periang. Kami bersahabat hingga lulus SMU. Setelah itu saya melanjutkan kuliah di Bandung, dan Aya pulang ke rumahnya di Jakarta. Di Jakarta, Aya bercerita ia sedang bekerja di sebuah toko. Kami sempat berkorespondensi (saat itu ponsel masih mihil), dan melalui jasa pengiriman, ia mengirimkan kado kaset Audy, meski saat itu bukan moment ulang tahun saya.Gak tau juga kenapa Audy, mungkin karena lagu-lagunya saat itu sedang booming dimana-mana.

Untuk seorang yang agak introvert seperti saya, memiliki sahabat seperti Aya membuat masa remaja menjadi sangat berarti. Sahabat adalah salah satu anugerah terindah, kisah yang tak terlupa, meski berbeda kelas, kami mengambil ekstra kurikuler yang sama, dan alhamdulillah saya masih menyimpan foto-foto saat kami study tour ke Borobudur, dan catatan di Diary saat SMU, yang mengingatkan betapa beruntungnya saya memiliki sahabat yang baik. Meski Aya ataupun saya punya teman-teman lain, kami tetap bersahabat sampai lulus. Hanya sampe lulus karena sampe saat ini kami belum berkomunikasi, ternyata dunia socmed belum mempertemukan kami kembali. Alamat yang ditulis Aya di buku kenangan sekolah sepertinya masih kurang lengkap. Semua suatu saat nanti Allah mempertemukan kita kembali ya, Aya.



Jumat, 16 Januari 2015

Di muat di 'Buah Hati' Republika: Membuat Taman Bermain di Rumah

 











Pada tanggal 7 Januari lalu saya sempet kedap-kedip gak percaya waktu dapat email dari Leisure Republika. Hampir lupa pernah mengirim ke rubrik "Buah Hati " di Leisure. Saya mengirim tanggal 10 Oktober 2014, dan dapat kabar kalau sudah di muat tanggal 9 Desember 2014. Jadi pemberitahuannya kurang lebih sebulanan setelah naskah dimuat. Alhamdulillah, meski tidak memiliki versi cetaknya, redaksi mengirim bukti terbitnya. Ini tulisan saya sebelum diedit.



Liburan memang saat yang paling menyenangkan dan ditunggu-tunggu semua keluarga. Saat masih bekerja dulu, setiap awal bulan saya selalu mencermati ada berapa tanggal merah di bulan tersebut. Setelah berkeluarga dan memiliki 2 balita, Isya (4 tahun) dan Himda (2 tahun), liburan juga menjadi hari yang menyenangkan, dimana kami sekeluarga bisa menghabiskan waktu seharian bersama. Kadang jalan-jalan ke alun-alun kota,  wisata kuliner, jalan-jalan ke rumah teman, atau sekedar putar-putar keliling kota bersama melihat pemandangan kota. Tapi apa jadinya jika liburan jatuh di “hari kecepit” atau saat liburan cuaca mendung, hujan turun dengan deras yang tidak memungkinkan kita keluar rumah?
Alhamdulillah suami saya termasuk ayah yang hobi bermain dengan anak-anak. Jika liburan tiba, cuaca tidak mendukung atau suami yang kelelahan karena banyaknya pekerjaan dan malas bepergian, kami cukup menyulap rumah menjadi taman bermain untuk anak-anak. Bukan berarti kami memindahkan ayunan, mobil-mobilan atau perosotan ke dalam rumah kontrakan kami, tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli mainan, tapi kami yang membuat permainan dan bermain bersama anak-anak.
Kadang kami bermain becak-becakan, dimana kedua tangan saya dan suami saling bertaut dan berpegangan lalu Isya dan Himda naik diatasnya. Setelah itu permainan naik Abi, Isya dan Himda berebutan naik punggung abinya sambil tertawa lepas. Selain itu permainan lempar bantal dan boneka juga tak kalah seru. Seharian penuh dengan tawa lepas anak-anak.
Bermain musik juga jadi favorit Isya dan Himda. Mereka suka sholawatan, Abi menabuh galon kosong, Isya dan saya menabuh toples kosong dengan botol mineral kecil, dan Himda dengan krincingannya. Ramai pastinya.
Selain bermain, anak-anak juga suka sekali dibacakan buku cerita. Hampir setiap minggu Isya dan Himda ke Perpustakaan Daerah untuk meminjam buku. Selain itu, kadang kami nonton film bareng sambil ngemil atau makan. Film bertema anak-anak pastinya yang menjadi pilihan.
Suami saya juga pintar menciptakan permainan baru yaitu hitung-tangkap. Kalau Isya menghitung 1-10 maka Abi akan menangkap Himda untuk dipeluk dan diuwel-uwel. Sebaliknya kalau Isya nakal atau iseng pada adiknya maka abinya langsung memberi isyarat pada saya,”Ayo, Mi. Berhitung.” Begitu hitungan kesepuluh Isya sudah ada dipelukan Abinya sambil berteriak-teriak minta dilepaskan sambil tertawa lepas.”Whhuuaa, jangan Bi, udah Bi, udaaah.” Tanpa mengomel atau marah-marah, cara ini juga kadang kami gunakan jika anak-anak berbuat keliru, seperti Isya yang usil pada adiknya, atau mengganggu Abinya saat menyelesaikan kerjaan kantor di rumah.
Lelah bermain kita lalu makan bersama, sholat bersama dan anak-anakpun langsung lelap di samping Abinya. Meski Abi setiap hari kerja, tapi di rumah beliau selalu menjadikan kebersamaan keluarga sebagai quality time. Jalan-jalan ke tempat wisata memang menyenangkan, tapi jika tak memungkinkan, bermain bersama anak-anak di  taman bermain rumah juga tak kalah serunya.Ada banyak hal yang bisa kita lakukan bersama anak-anak seharian. Anak-anak tetep senang, kami bisa istirahat sekaligus menjaga kebersamaan keluarga.

Pembaca yang ingin menuliskan pengalaman mendidik anak melalui rubrik Buah Hati, silahkan mengirim naskah (2.500 karakter) dan foto ke leisure@rol.republika.co.id