Rabu, 03 Maret 2021

Nectars Body Lotion Review

Siapa yang setuju kalau merawat kulit tubuh termasuk investasi.Bukan hanya kulit wajah yang  perlu diperhatikan, kulit tubuh juga agar tetap segar dan tidak kusam.

Untuk perawatan kulit tubuh kita bisa melakukan cleansing dan moisturizing. Untuk cleansing, udah tau dong, yaitu dengan mandi setiap hari menggunakan sabun yang sesuai dengan jenis kulit kita, dan setelah mandi, gunakan pelembab tubuh atau body lotion.  Beraktivitas setiap hari, terkena terik matahari, polusi dan AC tentu akan membuat kulit kusam  dan kering jika tidak dirawat. Aku sendiri lebih seneng menggunakan produk organik apalagi jika produk tersebut merupakan produk lokal. Nah, di postingan kali ini aku mau cerita tentang pengalamanku menggunakan body lotion dari Nectars.

Buat yang belum familiar dengan Nectars organic skincare merupakan skincare yang membuat produknya dengan berbasis natural organik secara eksklusif handmade agar sampai ke tangan konsumen dalam keadaan segar, tanpa kimiawi sintetik keras, menggunakan pengawet alami (natural preservative), dan didampingi oleh formulator bersertifikat  dan memiliki wewenang ilmiah dari salah satu sekolahformulasi  independen yang kredibel di dunia, Formula Botanica. Produknya sendiri menggunakan bahan baku ekstrak tanaman segar sehingga aman dan hahal bagi promil, bumil/busui, lansia, pejuang kanker ataupun autoimune.

Komposisi

Aqua, Cocos Nucifera (Coconut) Oil, Cetyl Alcohol, Glycerine, Stearic Acid, Vegetable Glyserin, Theobroma Cacao (Cocoa) Butter, Argania Spinosa, (Argan) Oil, Cucumis Sativus (Cucumber) Seed Oil, Simmondsia Chinensis (Jojoba) Oil, Shorea Stenoptera (Illipe) Butter, ottasium Sorbate, Sodium Benzoate, Citric Acid, Tocopheryl Acetate (Vitamin E)

Kemasan produk ini sangat simple. Dikemas dalam botol plastik dengan tutup putar berwarna silver. Dibagian tutup terdapat kode produksi


Lotion ini terdiri dari dua varian yaitu Greentea yang dipakai pada siang hari yang berfungsi mencerahkan, melembabkan dan menyehatkan kulit dengan bahan alami dan kopi digunakan pada malam hari menjelang tidur.

Tekstur lotion ini kental banget, namun ringan di kulit dan langsung meresap. Tidak lengket meskipun kulit berkeringat atau terkena air. Untuk varian kopi lotion berwarna kecoklatan dengan aroma perpaduan kopi dan coklat yang kuat. Sementara untuk greentea, lotion berwarna kehijauan. Menurutku produk organik memiliki aroma yang khas dari bahan bakunya.

FYI, aku udah menggunakan lebih dari setengah botol dan suka banget dengan manfaat yang diberikan. Kulit tidak kering, seger, dan suka banget sama aromanya dan tentunya ada rasa nyaman karena menggunakan produk alami yang aman untuk kulit

Salah satu kelebihan dari brand ini selain bahan bakunya yang organik adalah mereka menggunakan konsep zero waste. Dimana zero waste dapat menerakan konsep 3R yaitu reduce, reuse, recycle. Kemasan kosong produk Nectars dikumpulkan, dikirimkan kembali dan dapat ditukar dengan voucher belanja karena Nectars memiliki tim pengolahan limbah sendiri. Wah keren banget ya.

Karena produk hanmade, kita bisa mendapatkannya melalui pre order, dan asiknya lagi, mereka sering membuat event-event yang bersifat edukasi melalui instagram live sekaligus kuis berhadiah yang menambah wawasan para naturalist (konsumen Nectars).  Jika kamu tertarik dengan produk Nectars pastikan membeli produk asli hanya di official online storenya ya :)

Terima kasih sudah membaca sampai akhir, semoga kita semua tetap sehat selalu :)


Minggu, 21 Februari 2021

Menyusuri Jalan Kayu di Kawah Sikidang


Kami bersyukur dapat tinggal di Wonosobo, sebuah kita kecil yang berada tak jauh dari Pegunungan Dieng, setiap pagi dapat melihat matahari terbit di balik Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, dan jika jalan-jalan dapat menikmati pemandangan Gunung Bismo, Gunung Pakuwojo dan tentunya kebun-kebun sayur di tepi jalan dengan truk-truk pupuk yang seringkali lewat meninggalkan aromanya yang khas. Asiknya lagi di kota ini banyak tempat wisata yang tentunya bertema alam. Bulan Januuari lalu, kami sekeluarga  jalan-jalan ke Kawah Sikidang, salah satu objek wisata favorit di Dieng yang terletak di Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara Banjarnegara. Lokasinya tidak jauh dari Telaga Warna serta kompleks Candi Arjuna.

Sekilas Tentang Kawah Sikidang

Dataran Tinggi Dieng, menurut travel detik com, merupakan gunung berapi raksasa dengan telaga-telaga dan kawah-kawah bekas letusan yang ditempati penduduk. Kawah Skidang merupakan salah satu kawah yang masih menunjukkan aktivitas vulkanik. Pada umumnya, kawah berada di puncak gunung berapi namun Kawah Skidang berada di tanah datar sehingga kita dapat leluasa melihat lumpur panas meletup-letup dan gas atau asap berwarna putih pekat mengepul di udara. Kawah yang terbentuk sejak lama dari letusan gunung berapi di kawasan Dataran Tinggi Dieng ini masih aktif. Pada waktu tertentu, rata-rata sekali dalam 4 tahun kolam kawah akan berpindah atau seolah-olah melompat dalam satu kawasan seperti kidang (kijang) sehingga kawah ini terkenal dengan nama kawah Skidang.




Ini kali kedua kami sekeluarga jalan-jalan ke Kawah Sikidang, pertama kali tahun 2016 saat baru berempat dan kesini lagi kami sudah berlima :D


Kami berangkat dari rumah tak lama selepas shubuh, sembari menyambut mentari pagi. Jalan ke Dieng yang sempit dan menanjak membuat pak suami mesti ekstra hati-hati dalam mengemudi. Kami sampai di kawah kurang dari satu jam. Suasana masih sepi. Tapi parkiran mulai terisi. Cuaca yang dingin dan udara yang segar membuat tempat ini cocok banget untuk refreshing badan dan pikiran.



Setelah sampai, kita langsung ke loket, di sini berlaku tiket terusan Rp. 20.000 per orang untuk dua obyek yaitu Candi Arjuna dan Kawah Sikidang, namun karena kawasan Candi Arjuna masih tutup maka kami hanya membayar R. 10.000 per orang. Selain masih sepi, lantai loket juga masih kotor mungkin karena curah hujan yang tinggi di sini sehingga membuat lantai mudah kotor karena lumpur.

Kawah Sikidang telah banak berubah dan terus berbenah. Tempat parkir lebih rapi dan tentunya pengelola menyediakan tempat foto yang instagramable. Yang terbaru, pengunjung bisa menyusuri Kawah Sikidang sembari menikmati pemandangan alamnya melalui  jalan papan (boardwalk). 



Dari pintu masuk kita mengikuti jalan kayu menuju kawah. di tepi jalan terdapat beberapa pergola untuk istirahat. Tempat sampah juga banyak tersedia sehingga tidak ada alasan bagi pengunjung untuk membuang sampah sembarangan, dan tentunya dilarang membuang puntung rokok yang mudah terbakar.

Oleh-Oleh Khas Kawah Sikidang

Setelah jalan kayu habis, kami memasuki kompleks kios-kios yang menjual aneka oleh-oleh. Dulu, penjual-penjual berada di kompleks kawah, sekarang sudah tertata dan teratur. Sayangnya sudah gak ada penjual telur kawah lagi :(
Sebelum pintu keluar kami harus melewati beberapa baris kios. Oleh-oleh yang khas dari tempat ini antara lain menjual manisan carica, terong Belanda, opak, kentang ungu, kentang merah, sagon, cabe Dieng, tanaman hias, teh tambi, bunga edelweis, dan belerang. Selain itu ada pula cemilan kekinian seperti sosis, nugget, jasuke, minuman hangat, snack, kaos/pakaian, makanan matang dan aneka souvenir.




Kami membeli kentang ungu dan kentang merah, karena kentang ini nyaris tidak ada di pasar, dan tentunya manisan carica dan terong Belanda kesukaan anak-anak. Untuk harga, sangat aman di kantong dan tentunya fresh karena langsung dari petani dan masyarakat setempat.

Yang Harus Diperhatikan di Kawah Sikidang


Berwisata di kawasan kawah Sikidang dimana aktivitas vulkaniknya masih aktif membuat kita harus hati-hati. Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman, siapkan bekal makanan dan minuman yang cukup, kondisikan badan sehat, dan tentunya mematuhi aturan yang telah ditetapkan di lokasi.

Oia, apakah dirimu pernah mengunjungi Kawah Sikidang dan tempat wisata di kawasan Dieng? Bagaimana kesanmu saat mengunjungi Dieng? Jaga kesehatan selalu dan Happy Traveling :)

Senin, 01 Februari 2021

Review Hotel Grand Inna Malioboro Yogyakarta

Pertengahan Desember lalu, saya sekeluarga sempet liburan tipis-tipis ke Yogyakarta. Memanfaatkan liburan sebelum kena macet akhir tahun. Dari rumah, kita langsung menuju ke Pantai Parang Tritis, lalu jalan-jalan di Yogya, dan memutuskan menginap di Hotel Grand Inna Garuda. 

Dan, bagaimana hotelnya?

Sungguh, keren banget. Dijamin ga nyesel nginep di sini. Hotelnya cakeeep banget dan super nyaman, kami beruntung masih bisa stayed dengan suasana tenang, gak kebayang deh jika akhir tahun gimana macet dan ramainya Yogya. Kebetulan saat itu ada promo di Tiket dotcom sehingga kami bisa dapat rate terendah Rp. 379.214 per malam dengan rate normal antara sejutaan per malam.


Sekilas Tentang Hotel Grand Inna Malioboro

Sesuai dengan namanya, hotel ini terletak di jantung kota tepatnya jalan Malioboro yang merupakan salah satu pusat keramaian dan tujuan wisata belanja di Yogyakarta. Bukan hanya memiliki lokasi yang strategis, desainnya juga indah dan klasik serta memiliki nilai historis yang tinggi. Menurut situs web resminya, hotel ini dibangun pada tahun 1908. Awalnya, tahun 1908 pemerintahan kolonial Belanda membangun Grand Hotel De Djokdja atau "Hotel Yogyakarta" yang merupakan hotel terbesar dan termewah di Yogyakarta saat itu. Tahun 1942, Jepang mengubah nama hotel menjadi Hotel Asahi. Tahun 1945, hotel ini diambil alih oleh Indonesia dan diubah namanya menjadi Hotel Merdeka, bahkan hotel ini sementara menjadi kompleks kantor untuk kabinet pemerintahan pada waktu itu. Tahun 1950 pemerintah mengganti namanya menjadi Hotel Garuda, tahun 1982 hotel ini dikelola oleh PT. Natour lalu diperluas dan ditingkatkan dari satu bintang menjadi tiga bintang, namanyapun berubah menjadi Hotel Natour Garuda. Tahun 2001 PT. Natour bergabung dengan PT. Hotel Indonesia dan nama hotelpun berubah menjadi Hotel Inna Garuda hingga saat ini

Lokasi Strategis

Sangat mudah menemukan hotel legendaris berbintang empat yang terletak di Jalan Malioboro No. 60. Berada di pusat belanja Malioboro, tidak jauh dari keraton Yogyakarta, sekitar 42 Km dari Candi Borobudur dan 17 Km dari Candi Prambanan. Hotel ini juga dekat sekali dengan stasiun Tugu. Sebagai hotel klasik yang kaya sejarah, hotel ini memiliki bangunan yang cukup luas, dengan lokasi parkir di bagian kanan dan kiri hotel.

Karena adanya pandemi, hotel juga menerapkan protokol kesehatan . Banyak tempat cuci tangan meskipun di taman. Di pintu hotel terdapat hand sanitizer dan cek suhu otomatis. Para staff menggunakan masker atau face shield serta bersarung tangan untuk keamanan dan kebaikan bagi diri sendiri serta para tamu hotel.


Sebelum check-in, petugas membantu mengarahkan untuk cuci tangan, cek suhu otomatis, dan ramah banget menyapa dengan tersenyum lebar.

Lobby yang Luas dengan Furniture klasik modern

Saya dan anak-anak menunggu di lobby hingga selesai check-in. Lobby ini sangat luas dengan tiang-tiang besar dan tinggi khas bangunan tempo dulu, nuansa Yogya diperkuat dengan adanya gamelan, wayang, dan background lukisan foto hitam putih yang menggambarkan hotel di masa lalu. Nuansa tradisional ini dipadukan dengan set sofa merah dan berbagai anggrek serta tanaman cantik yang membuat lobby menjadi klasik sekaligus modern. Luasnya lobby membuat ada bagian ruangan untuk spot foto, ga selfie gak seru dong :D




Kamar yang Nyaman untuk Keluarga



Kami memesan kamar Superior dengan twins bed yang dilengkapi AC, meja TV dan TV kabel, kulkas brankas, complimentary, shower, toiletries,set sofa dan meja dan bathtub dengan ukuran kamar 26m2. Karena anak-anak masih kecil jadi cukup untuk kami sekeluarga. Dari jendela kamar kita bisa menikmati pemandangan keramaian kota Jogja dan stasiun Tugu. Unforgetable moment!

Koneksi internet juga lancar jaya, kamarnya sangat nyaman untuk family time. Sorenya kami keluar dari hotel menuju Malioboro yang berada tepat di depan hotel, karena turun hujan kami kembali ke hotel dan melanjutkan jalan-jalan pada malam harinya.



Pagi harinya kami menuju ke kolam berenang. Kolamnya bersih, cukup besar dan sedang dibersihkan oleh penjaga. Disisi kolam terdapat ruang fitness dan gazebo, karena sepi, kami menyempatkan olahraga sebentar di sana, sayangnya mungkin karena masa pandemi sehingga kolam renang sedang sepi saat kami kesana.

Bagaimana dengan kamar mandinya?


Kamar mandi cukup longgar dengan bathtub, shower, serta toiletries. Handuknya bersih. Secara keseluruhan fasilitas kamar nyaman banget dan menyenangkan. Tidak heran jika hotel ini menjadi Pemenang Traveloka Hotel Awards 2019 dalam Layanan Terbaik.

Fasilitas Lain yang Sangat Lengkap

Hotel megah dengan tema klasik modern ini memiliki 227 kamar yang terdiri dari Superior, Deluxe, Deluxe Colonial Building, Deluxe Premiere Floor, Junior Suite, Excecutive Suite, dan Presidential Suite atau Sudirman Suite. Hotel ini memiliki 7 lantai dengan berbagai fasilitas seperti kolam renang, penyewaan sepeda, spa, lounge, business center, money changer, boutiqe, coffee shop, tempat oleh-oleh dan Srimanganti Room untuk tamu VIP.

Hotel mewah berbintang 4 ini juga memiliki fasilitas ruang pertemuan dan Malioboro Convention Center dengan kapasitas hingga 1.000 orang yang kedepannya akan mengalami perluasan. Selain itu terdapat dua restoran multifungsi yang dapat digunakan untuk meeting mauung konferensi yaitu Sasana Handrawina dan Sekar Kedhaton. 

Berada di lokasi strategis, dengan dengan pusat pemerintahan, bisnis dan stasiun kereta membuat hotel ini sangat teat dijadikan sebagai pilihan menginap untuk berbagai tujuan kegiatan baik berbisnis, berwisata, staycation, reunian, wedding ceremony, meeting...lengkap tersedia layanannya. Tergantung aktivitas dan kebutuhan kita.

Lengkap banget!!

Pagi di Yogyakarta



Setelah berolahraga, kami turun menuju ke luar hotel. Mengajak anak-anak jalan-jalan ke stasiun dan jalan pagi di Malioboro. Toko-toko masih tutup. Jalanan masih basah terkena hujan semalam.Trotoar sepi dari pedagang sehingga memudahkan pejalan kaki yang lewat atau sekedar menikmati udara pagi kota Yogya. Jalan pagi berakhir di sebuah angkringan di depan hotel. Kami memang sengaja tidak memesan breakfast di hotel agar bisa menikmati sarapan pagi di luar. Menu nasi kucing, jahe hangat, sate telur dan gorengan untuk kami berlima hanya 35 ribu rupiah. Penjual menyediakan piring seng dan sendok untuk menikmati nasi kucing, kami menikmati sarapan diangkringan ditemani dengan suara Ngarsa Dalem dari pengeras suara yang mengingatkan untuk menjaga diri, tidak panik serta melakukan protokol kesehatan di masa pandemi ini. Di trotoar banyak terdapat tempat duduk dan penjual angkringan juga menyediakan tempat makan terpisah jadi kami tetap jaga jarak dengan pembeli lain.

Sungguh, menu sederhana dengan moment yang berharga...

Jadi, Grand Inna Malioboro Yogyakarta...

Recommended sebagai tempat menginap!

Lokasinya yang strategis memudahkan kita untuk berwisata, berbelanja, berbisnis, atau acara keluarga. Didukung dengan fasilitas yang lengkap, furniture klasik serta sejarah hotel di masa lalu dan suasana Yogya yang selalu ngangeni membuat hotel ini menjadi pilihan tepat untuk menginap. 

Yogya juga terkenal dengan kulinernya seperti gudeg, bakpia, pecel, soto, kuliner lesehan, gado-gado dan juga aneka oleh-oleh, souvenir, dan batiknya.

Namun, bagi saya yang membuat hotel ini makin istimewa adalah Jendral Sudirman pernah berkantor di sini pada masa perjuangan melawan Belanda. Di hotel ini terdapat Sudirman Suite yang memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, dapur kecil dan ruang makan. Dinamakan Sudirman Suite karena waktu itu kamar tersebut merupakan tempat kantor MBO (Markas Besar Oemoem) Tentara Keamanan Rakyat yang dipimpin Panglima Besar Jendral Sudirman. Karena istimewa tentu saja kamar ini memiliki tarif yang mahal.

Btw, karena adanya pandemi, tetap tegakkan protokol kesehatan kapanpun dan dimanapun ya teman-teman, semoga kita semua sehat selalu!

Happy Travelling









Rabu, 18 November 2020

 Siapa nih yang suka banget ngemil? Kalau iya, tos dulu. Kita samaan nih. Apalagi sekarang saat sudah punya anak, harus nyiapin stok cemilan di rumah. Selama pandemi ini, anak-anak banyak belajar dan beraktivitas di rumah sehingga saya perlu menyediakan cemilan atau snack yang bergizi untuk menemani mereka belajar atau reward lebih semangat mengerjakan tugas dari sekolah.

FYI, kita tentu harus bijak dalam memilih cemilan. Saya mengusahakan cemilan untuk keluarga pastinya halal, sehat dan bergizi. Oh ya tentunya harganya aman di kantong dan tetap mengutamakan makanan pokok tentunya. Cemilan ini biasanya saya sediakan sebelum makan siang, atau sore hari. Biasanya kita ngemil bareng-bareng sambil nonton sampe ga kerasa cemilannya habis.

Nah, belum lama ini saya memesan cemilan yang agak berat dari Ciomy (bakso aci yummy). Cemilan berupa bakso aci kemasan memang sedang hits, rasanya yang gurih pedas dan disantap hangat-hangat cocok banget untuk mengisi perut sebelum waktu makan. Kenapa pilih Ciomy?

Jadi, saya sedang berusaha mengurangi MSG buatan, tapi banyak godaan ternyata. Jadilah nyobain Ciomy yang gurihnya menggunakan garam Himalaya dan tanpa MSG buatan. Setelah mencoba, ternyata rasanya memang enak gurih dan bikin nagih. ada surprise daging dalam bakso aci saat di gigit dan kenyalnya pas, mudah digigit serta ditelan. Karena pengen coba banyak varian jadi saya memesan Ciomy Cup, Ciomy Cuankie Chicken Cheese, Ciomy Cuankie Chicken Spicy, Ciomy sachet ayam, dan Ciomy sachet mix. 


Untuk penyimpanan, Ciomy ini dapat bertahan di suhu ruang selama 10 hari, dalam chiller selama 88 hai, dan dalam freezer selama 189 hari. Kemasannya juga gemesh, praktis banget dan bisa dibawa travelling. Setiap kemasan Ciomy terdiri dari mie, bakso aci, cuankie, d'tella, cabai dan bumbu serta minyak ebi. Kebetulan kami memiliki agenda ke Yogya sehingga bisa membawa Ciomy sebagai bekal perjalanan untuk anak-anak.

Cara menikmati Ciomy ini sangat simpel, bisa direbus selama 5 menit agar bumbunya meresap atau diseduh dengan air panas. Karena sedang dalam perjalanan, kita menikmati Ciomy di hotel dengan diseduh air panas. Cukup tuang isian Ciomy dalam wadah, lalu siram dengan air panas/mendidih. Tunggu sekitar 3 menit dan Ciomy siap disantap. Karena bumbu dan cabenya terpisah, kita bisa mengatur tingkat pedasnya, untuk si bungsu tanpa cabe dan si kakak dan mba sedikit cabe. Kata mereka,pedasnya huhhah, tapi gurih dan enak banget.




Nah, gimana nih? Apakah teman-teman ingin mencoba atau bahkan suka banget menikmati Ciomy?

Yang pengin mencoba atau pengen tau tentang Ciomy bisa cek di:

Instagram

@kunikitaofficial

@ciomyofficial

@cemilankunik

Senin, 05 Oktober 2020

Menikmati Sunrise dan Barisan Gunung di Bukit Sikunir

Adanya pandemi membuat hampir seluruh sektor terpengaruh, terutama pariwisata karena adanya anjuran untuk tidak berkerumun demi menghindari tersebarnya wabah Covid-19. Hal ini tentu tidak mudah karena ruang gerak kita menjadi terbatas demi kebaikan dan kesehatan kita semua.

Tinggal di Wonosobo selama kurang lebih 5 tahun terakhir memberikan banyak pengalaman hidup yang menarik bagi kami sekeluarga. Udara yang sejuk dingin dan minim polusi, bisa melihat matahari terbit dari balik gunung Sindoro setiap pagi, berkawan kabut terutama saat musim hujan, dan tersedia aneka macam sayuran dengan harga yang murah. Pemandangan gunung, sawah, kebun sayur, dan kebun teh menjadi pemandangan yang alhamdulillah bisa kami nikmati. Namun sejak awal tinggal di Wonosobo, ada satu tempat yang belum sempat kami kunjungi karena anak-anak masih kecil, Bukit Sikunir di Desa Sembungan. Dan alhamdulillah bisa kesana ada akhir Agustus lalu.


Bukit Sikunir terkenal dengan golden sunrise dan merupakan salah satu destinasi wisata yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Dieng. Berada di ketinggian 2.300 MDPL, bukit Sikunir terletak di Desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa. Bukit Sikunir sendiri telah dibuka kembali mulai 1 Agustus 2020 untuk umum, namun tentu saja wisatawan yang berkunjung harus menerapkan protokol kesehatan seperti mengenakan masker, mencuci tangan dengan sabun, jaga jaak serta tidak bepergian jika demam.

Kami berangkat dari rumah selepas shubuh dengan sepeda motor kurang lebih 45 menit sampai di Dieng. Sepanjang perjalanan, kami dimanjakan dengan pesona alam Dieng, matahari yang terbit di suasana yang cukup dingin, melewati perkebunan sayur di kanan kiri jalan, dan melewati beberapa tempat wisata seperti gardu pandang Tieng dan  bukit awan putih, tempat wisata baru di desa Parikesit, Kejajar, dan Tuk Bima Lukar. Lalu melewati pertigaan Dieng belok kiri melewati Telaga Warna lalu menuju ke Sembungan setelah melewati desa Sikunang. Setelah melewati telaga warna jalan yang kami lalui sedikit rusak dan terdapat jalan yang berlubang sehingga pengendara perlu berhati-hati. Meski demikian tidak menyurutkan niat para wisatawan termasuk kami menuju sembungan. Meski pandemi, kami tidak menyangka kawasan ini masih ramai pengunjung.


Di pintu masuk sembungan, kami dikenakan tiket masuk Rp. 10.000/orang. Kami sempat mengambil gambar di sini, karena matahari sudah bersinar terang, suasana sudah ramai pedagang, ojek lokal dan pengunjung yang mungkin baru turun dari bukit Sikunir. Kamipun melanjutkan perjalanan ke Sembungan, jalan yang kami lalui agak sempit, apalagi kami berpapasan dengan banyaknya pengunjung dari arah Sikunir, kadang harus berhenti dan menepi agar bisa bergantian lewat. Jalan terus hingga melewati pemukiman dan akhirnya sampai di Telaga Cebong.


Di Telaga Cebong, banyak pengunjung yang mendirikan tenda di tepi telaga. Kios-kios di area parkir dan banyak juga disediakan tempat cuci tangan. Setelah parkir, kami melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak mendaki, banyak kios di kanan kiri jalan yang menjual oleh-oleh khas Dieng . Kalau lelah, ada juga tempat makan, menyerupai kafe yang instagramable dengan view pemandangan Sikunir yang indah. Ada juga pemain musik yang menyanyikan lagu kekinian sehingga serasa makan di kafe dengan nuansa pegunungan.




Di ujung jalan setapak dimulai jalur pendakian ke Sikunir sekitar 800 meter. Jangan lupa membawa minum ya, karena mendaki tentu melelahkan sehingga tubuh perlu banyak cairan. Selain kami ada juga pengunjung keluarga yang membawa anak-anak. Jalur menuju Sikunir ini berupa tangga batu, menanjak dengan pegangan di tepi dan tengah jalan. Tak jarang kami istirahat untuk minum lalu kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa pengunjung saling memberi semangat agar bisa sampai di puncak.



Kamipun sampai di Pos 1, jarak ke pos 1 ini sekitar 450 meter, terdapat musholla, tempat sampah dan kamar mandi, sehingga pengunjung bisa istirahat sejenak. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan, masih ada sekitar 15 meter menuju puncak, hingga akhirnya sampai juga kami ditujuan, akhir dari pendakian yang cukup melelahkan. Bagi adventur atau pendaki profesional mungkin jalur ini termasuk ringan, tapi bagi pemula atau ibu-ibu lumayan melelahkan. Sebelum mendaki perlu kondisi tubuh yang fit, pakaian yang nyaman, hangat dan menyerap keringat serta alas kaki yang aman dan nyaman untuk mendaki.

Puncak Sikunir dan golden sunrise terbaik



Terbayar sudah segala lelah sesampainya di puncak Sikunir, golden sunrise di Sikunir diklaim sebagai sunrise terbaik di Indonesia, sehingga wajar saja pandemi tidak menyurutkan niat pengunjung untuk mengunjungi tempat ini. Di sini tersaji pemandangan yang luar biasa, landskap beberapa gunung tinggi di Pulau Jawa seperti Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Ungaran, Gunung Merbabu berselimut kabut. Saat kabut menghilang, pemandangan gunungpun terlihat jelas, subhanallah. Jadi tau rasanya kenapa banyak yang jauh-jauh bela-belain naik ke puncak Sikunir demi menikmati salah satu lukisan Tuhan. Meski sampai di puncak saat matahari telah bersinar terang, tidak mengurangi rasa syukur kami, akhirnya bisa sampai disini

Oleh-oleh Unik Khas Dieng

Berkunjung ke Dieng akan lebih lengkap bila membawa pulang oleh-oleh khas setempat. Ada beberapa makanan yang mungkin cuma bisa kita temui disini, jadi jangan lupa diborong ya :D 
  • Carica
Carica merupakan kerabat pepaya yang tumbuh di dataran tinggi. Pohonnya kecil mirip pepaya biasa namun bercabang lebih banyak.  Buah ini biasa dijadikan sirup, jus, manisan, selai dan keripik buah. Mengandung kalsium, gula, vitamin A dan C serta minyak atsiri sehingga carica diklaim memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. 
  • Mie Ongklok dan tempe kemul
Ke Wonosobo belum lengkap rasanya jika belum mencoba mie ongklok. Mie rebus dengan potongan kol, kucai dan disiram kuah berkanji. Biasa disajikan dengan sate sapi dan tempe kemul, yaitu tempe yang digoreng  dengan campuran terigu dan tepung tapioka atau pati teles dan potongan daun kucai.
  • Kentang ungu dan kentang merah Dieng

Di sekitaran kios sebelum mendaki Bukit Sikunir, ada beberapa kios yang menjual kentang ungu dan kentang merah Dieng. Dieng memang terkenal sebagai daerah penghasil kentang. Kentang ungu merupakan salah satu komoditas andalan petani, memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh dan harganya lebih mahal dari kentang biasa. Di pasar jarang banget ada kentang ini. 
  • Semur Kentang

Dieng terkenal dengan kentang karena banyak ditanam di daerah ini. Kita bisa menikmati semur kentang yang manis pedas setelah lelah mendaki. Harganya pun terjangkau hanya Rp.5000/cup.
  • Terong belanda

Terong belanda memiliki bentuk menyerupai tomat. Berwarna merah, hijau, kuning dan mengandung banyak vitamin, antioksidan dan mineral sehingga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan seerti meningkatkan metabolisme,, mencegah kanker, sembelit dan mengkatkan daya tahan tubuh. Buah ini dapat dikonsumsi langsung atau dibuat asinan, dimasak, dijus, dan sebagainya.
  • Edelweis

Bunga edelweis merupakan tumbuhan edemik yang tumbuh di daerah pegunungan. Bunga ini mengandung hormon etilen yang dapat mencegah kerontokan bunga sehingga dapat mekar sampai 10 tahun lamanya sehingga dijuluki bunga abadi. Saat ini edelweis terancam punah sehingga dilindungi undang-undang. Tidak diperbolehkan mencabut dan membawa edelweis turun dari gunung karena ia akan layu dan mati. Namun jangan khawatir, kita bisa kok membeli edelweis yang telah dibudidayakan petani. Sejatinya bunga-bunga akan indah saat berada di pohon dan bergoyang saat angin bertiup, bukan saat berada di tangan.

Nah, itulah beberapa oleh-oleh khas yang bisa kita dapatkan di Dieng, tentu akan lebih banyak macamnya jika teman-teman datang langsung kesana. Mana saja tempat wisata di Dieng yang ernah teman-teman kunjungi? Yuk sharing ^^