Minggu, 21 Februari 2021

Menyusuri Jalan Kayu di Kawah Sikidang


Kami bersyukur dapat tinggal di Wonosobo, sebuah kita kecil yang berada tak jauh dari Pegunungan Dieng, setiap pagi dapat melihat matahari terbit di balik Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, dan jika jalan-jalan dapat menikmati pemandangan Gunung Bismo, Gunung Pakuwojo dan tentunya kebun-kebun sayur di tepi jalan dengan truk-truk pupuk yang seringkali lewat meninggalkan aromanya yang khas. Asiknya lagi di kota ini banyak tempat wisata yang tentunya bertema alam. Bulan Januuari lalu, kami sekeluarga  jalan-jalan ke Kawah Sikidang, salah satu objek wisata favorit di Dieng yang terletak di Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara Banjarnegara. Lokasinya tidak jauh dari Telaga Warna serta kompleks Candi Arjuna.

Sekilas Tentang Kawah Sikidang

Dataran Tinggi Dieng, menurut travel detik com, merupakan gunung berapi raksasa dengan telaga-telaga dan kawah-kawah bekas letusan yang ditempati penduduk. Kawah Skidang merupakan salah satu kawah yang masih menunjukkan aktivitas vulkanik. Pada umumnya, kawah berada di puncak gunung berapi namun Kawah Skidang berada di tanah datar sehingga kita dapat leluasa melihat lumpur panas meletup-letup dan gas atau asap berwarna putih pekat mengepul di udara. Kawah yang terbentuk sejak lama dari letusan gunung berapi di kawasan Dataran Tinggi Dieng ini masih aktif. Pada waktu tertentu, rata-rata sekali dalam 4 tahun kolam kawah akan berpindah atau seolah-olah melompat dalam satu kawasan seperti kidang (kijang) sehingga kawah ini terkenal dengan nama kawah Skidang.




Ini kali kedua kami sekeluarga jalan-jalan ke Kawah Sikidang, pertama kali tahun 2016 saat baru berempat dan kesini lagi kami sudah berlima :D


Kami berangkat dari rumah tak lama selepas shubuh, sembari menyambut mentari pagi. Jalan ke Dieng yang sempit dan menanjak membuat pak suami mesti ekstra hati-hati dalam mengemudi. Kami sampai di kawah kurang dari satu jam. Suasana masih sepi. Tapi parkiran mulai terisi. Cuaca yang dingin dan udara yang segar membuat tempat ini cocok banget untuk refreshing badan dan pikiran.



Setelah sampai, kita langsung ke loket, di sini berlaku tiket terusan Rp. 20.000 per orang untuk dua obyek yaitu Candi Arjuna dan Kawah Sikidang, namun karena kawasan Candi Arjuna masih tutup maka kami hanya membayar R. 10.000 per orang. Selain masih sepi, lantai loket juga masih kotor mungkin karena curah hujan yang tinggi di sini sehingga membuat lantai mudah kotor karena lumpur.

Kawah Sikidang telah banak berubah dan terus berbenah. Tempat parkir lebih rapi dan tentunya pengelola menyediakan tempat foto yang instagramable. Yang terbaru, pengunjung bisa menyusuri Kawah Sikidang sembari menikmati pemandangan alamnya melalui  jalan papan (boardwalk). 



Dari pintu masuk kita mengikuti jalan kayu menuju kawah. di tepi jalan terdapat beberapa pergola untuk istirahat. Tempat sampah juga banyak tersedia sehingga tidak ada alasan bagi pengunjung untuk membuang sampah sembarangan, dan tentunya dilarang membuang puntung rokok yang mudah terbakar.

Oleh-Oleh Khas Kawah Sikidang

Setelah jalan kayu habis, kami memasuki kompleks kios-kios yang menjual aneka oleh-oleh. Dulu, penjual-penjual berada di kompleks kawah, sekarang sudah tertata dan teratur. Sayangnya sudah gak ada penjual telur kawah lagi :(
Sebelum pintu keluar kami harus melewati beberapa baris kios. Oleh-oleh yang khas dari tempat ini antara lain menjual manisan carica, terong Belanda, opak, kentang ungu, kentang merah, sagon, cabe Dieng, tanaman hias, teh tambi, bunga edelweis, dan belerang. Selain itu ada pula cemilan kekinian seperti sosis, nugget, jasuke, minuman hangat, snack, kaos/pakaian, makanan matang dan aneka souvenir.




Kami membeli kentang ungu dan kentang merah, karena kentang ini nyaris tidak ada di pasar, dan tentunya manisan carica dan terong Belanda kesukaan anak-anak. Untuk harga, sangat aman di kantong dan tentunya fresh karena langsung dari petani dan masyarakat setempat.

Yang Harus Diperhatikan di Kawah Sikidang


Berwisata di kawasan kawah Sikidang dimana aktivitas vulkaniknya masih aktif membuat kita harus hati-hati. Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman, siapkan bekal makanan dan minuman yang cukup, kondisikan badan sehat, dan tentunya mematuhi aturan yang telah ditetapkan di lokasi.

Oia, apakah dirimu pernah mengunjungi Kawah Sikidang dan tempat wisata di kawasan Dieng? Bagaimana kesanmu saat mengunjungi Dieng? Jaga kesehatan selalu dan Happy Traveling :)

Senin, 01 Februari 2021

Review Hotel Grand Inna Malioboro Yogyakarta

Pertengahan Desember lalu, saya sekeluarga sempet liburan tipis-tipis ke Yogyakarta. Memanfaatkan liburan sebelum kena macet akhir tahun. Dari rumah, kita langsung menuju ke Pantai Parang Tritis, lalu jalan-jalan di Yogya, dan memutuskan menginap di Hotel Grand Inna Garuda. 

Dan, bagaimana hotelnya?

Sungguh, keren banget. Dijamin ga nyesel nginep di sini. Hotelnya cakeeep banget dan super nyaman, kami beruntung masih bisa stayed dengan suasana tenang, gak kebayang deh jika akhir tahun gimana macet dan ramainya Yogya. Kebetulan saat itu ada promo di Tiket dotcom sehingga kami bisa dapat rate terendah Rp. 379.214 per malam dengan rate normal antara sejutaan per malam.


Sekilas Tentang Hotel Grand Inna Malioboro

Sesuai dengan namanya, hotel ini terletak di jantung kota tepatnya jalan Malioboro yang merupakan salah satu pusat keramaian dan tujuan wisata belanja di Yogyakarta. Bukan hanya memiliki lokasi yang strategis, desainnya juga indah dan klasik serta memiliki nilai historis yang tinggi. Menurut situs web resminya, hotel ini dibangun pada tahun 1908. Awalnya, tahun 1908 pemerintahan kolonial Belanda membangun Grand Hotel De Djokdja atau "Hotel Yogyakarta" yang merupakan hotel terbesar dan termewah di Yogyakarta saat itu. Tahun 1942, Jepang mengubah nama hotel menjadi Hotel Asahi. Tahun 1945, hotel ini diambil alih oleh Indonesia dan diubah namanya menjadi Hotel Merdeka, bahkan hotel ini sementara menjadi kompleks kantor untuk kabinet pemerintahan pada waktu itu. Tahun 1950 pemerintah mengganti namanya menjadi Hotel Garuda, tahun 1982 hotel ini dikelola oleh PT. Natour lalu diperluas dan ditingkatkan dari satu bintang menjadi tiga bintang, namanyapun berubah menjadi Hotel Natour Garuda. Tahun 2001 PT. Natour bergabung dengan PT. Hotel Indonesia dan nama hotelpun berubah menjadi Hotel Inna Garuda hingga saat ini

Lokasi Strategis

Sangat mudah menemukan hotel legendaris berbintang empat yang terletak di Jalan Malioboro No. 60. Berada di pusat belanja Malioboro, tidak jauh dari keraton Yogyakarta, sekitar 42 Km dari Candi Borobudur dan 17 Km dari Candi Prambanan. Hotel ini juga dekat sekali dengan stasiun Tugu. Sebagai hotel klasik yang kaya sejarah, hotel ini memiliki bangunan yang cukup luas, dengan lokasi parkir di bagian kanan dan kiri hotel.

Karena adanya pandemi, hotel juga menerapkan protokol kesehatan . Banyak tempat cuci tangan meskipun di taman. Di pintu hotel terdapat hand sanitizer dan cek suhu otomatis. Para staff menggunakan masker atau face shield serta bersarung tangan untuk keamanan dan kebaikan bagi diri sendiri serta para tamu hotel.


Sebelum check-in, petugas membantu mengarahkan untuk cuci tangan, cek suhu otomatis, dan ramah banget menyapa dengan tersenyum lebar.

Lobby yang Luas dengan Furniture klasik modern

Saya dan anak-anak menunggu di lobby hingga selesai check-in. Lobby ini sangat luas dengan tiang-tiang besar dan tinggi khas bangunan tempo dulu, nuansa Yogya diperkuat dengan adanya gamelan, wayang, dan background lukisan foto hitam putih yang menggambarkan hotel di masa lalu. Nuansa tradisional ini dipadukan dengan set sofa merah dan berbagai anggrek serta tanaman cantik yang membuat lobby menjadi klasik sekaligus modern. Luasnya lobby membuat ada bagian ruangan untuk spot foto, ga selfie gak seru dong :D




Kamar yang Nyaman untuk Keluarga



Kami memesan kamar Superior dengan twins bed yang dilengkapi AC, meja TV dan TV kabel, kulkas brankas, complimentary, shower, toiletries,set sofa dan meja dan bathtub dengan ukuran kamar 26m2. Karena anak-anak masih kecil jadi cukup untuk kami sekeluarga. Dari jendela kamar kita bisa menikmati pemandangan keramaian kota Jogja dan stasiun Tugu. Unforgetable moment!

Koneksi internet juga lancar jaya, kamarnya sangat nyaman untuk family time. Sorenya kami keluar dari hotel menuju Malioboro yang berada tepat di depan hotel, karena turun hujan kami kembali ke hotel dan melanjutkan jalan-jalan pada malam harinya.



Pagi harinya kami menuju ke kolam berenang. Kolamnya bersih, cukup besar dan sedang dibersihkan oleh penjaga. Disisi kolam terdapat ruang fitness dan gazebo, karena sepi, kami menyempatkan olahraga sebentar di sana, sayangnya mungkin karena masa pandemi sehingga kolam renang sedang sepi saat kami kesana.

Bagaimana dengan kamar mandinya?


Kamar mandi cukup longgar dengan bathtub, shower, serta toiletries. Handuknya bersih. Secara keseluruhan fasilitas kamar nyaman banget dan menyenangkan. Tidak heran jika hotel ini menjadi Pemenang Traveloka Hotel Awards 2019 dalam Layanan Terbaik.

Fasilitas Lain yang Sangat Lengkap

Hotel megah dengan tema klasik modern ini memiliki 227 kamar yang terdiri dari Superior, Deluxe, Deluxe Colonial Building, Deluxe Premiere Floor, Junior Suite, Excecutive Suite, dan Presidential Suite atau Sudirman Suite. Hotel ini memiliki 7 lantai dengan berbagai fasilitas seperti kolam renang, penyewaan sepeda, spa, lounge, business center, money changer, boutiqe, coffee shop, tempat oleh-oleh dan Srimanganti Room untuk tamu VIP.

Hotel mewah berbintang 4 ini juga memiliki fasilitas ruang pertemuan dan Malioboro Convention Center dengan kapasitas hingga 1.000 orang yang kedepannya akan mengalami perluasan. Selain itu terdapat dua restoran multifungsi yang dapat digunakan untuk meeting mauung konferensi yaitu Sasana Handrawina dan Sekar Kedhaton. 

Berada di lokasi strategis, dengan dengan pusat pemerintahan, bisnis dan stasiun kereta membuat hotel ini sangat teat dijadikan sebagai pilihan menginap untuk berbagai tujuan kegiatan baik berbisnis, berwisata, staycation, reunian, wedding ceremony, meeting...lengkap tersedia layanannya. Tergantung aktivitas dan kebutuhan kita.

Lengkap banget!!

Pagi di Yogyakarta



Setelah berolahraga, kami turun menuju ke luar hotel. Mengajak anak-anak jalan-jalan ke stasiun dan jalan pagi di Malioboro. Toko-toko masih tutup. Jalanan masih basah terkena hujan semalam.Trotoar sepi dari pedagang sehingga memudahkan pejalan kaki yang lewat atau sekedar menikmati udara pagi kota Yogya. Jalan pagi berakhir di sebuah angkringan di depan hotel. Kami memang sengaja tidak memesan breakfast di hotel agar bisa menikmati sarapan pagi di luar. Menu nasi kucing, jahe hangat, sate telur dan gorengan untuk kami berlima hanya 35 ribu rupiah. Penjual menyediakan piring seng dan sendok untuk menikmati nasi kucing, kami menikmati sarapan diangkringan ditemani dengan suara Ngarsa Dalem dari pengeras suara yang mengingatkan untuk menjaga diri, tidak panik serta melakukan protokol kesehatan di masa pandemi ini. Di trotoar banyak terdapat tempat duduk dan penjual angkringan juga menyediakan tempat makan terpisah jadi kami tetap jaga jarak dengan pembeli lain.

Sungguh, menu sederhana dengan moment yang berharga...

Jadi, Grand Inna Malioboro Yogyakarta...

Recommended sebagai tempat menginap!

Lokasinya yang strategis memudahkan kita untuk berwisata, berbelanja, berbisnis, atau acara keluarga. Didukung dengan fasilitas yang lengkap, furniture klasik serta sejarah hotel di masa lalu dan suasana Yogya yang selalu ngangeni membuat hotel ini menjadi pilihan tepat untuk menginap. 

Yogya juga terkenal dengan kulinernya seperti gudeg, bakpia, pecel, soto, kuliner lesehan, gado-gado dan juga aneka oleh-oleh, souvenir, dan batiknya.

Namun, bagi saya yang membuat hotel ini makin istimewa adalah Jendral Sudirman pernah berkantor di sini pada masa perjuangan melawan Belanda. Di hotel ini terdapat Sudirman Suite yang memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, dapur kecil dan ruang makan. Dinamakan Sudirman Suite karena waktu itu kamar tersebut merupakan tempat kantor MBO (Markas Besar Oemoem) Tentara Keamanan Rakyat yang dipimpin Panglima Besar Jendral Sudirman. Karena istimewa tentu saja kamar ini memiliki tarif yang mahal.

Btw, karena adanya pandemi, tetap tegakkan protokol kesehatan kapanpun dan dimanapun ya teman-teman, semoga kita semua sehat selalu!

Happy Travelling