Minggu, 30 September 2018

3 Jam Merayakan 18 tahun Persahabatan


  Bulan Juli 2000, 18 tahun yang lalu

Pertama kali menginjakkan kaki di Wonosobo, sebuah kabupaten kecil di lereng pegunungan Dieng untuk menuntut ilmu. Itulah pertama kali saya meninggalkan rumah, turun dari bus, saya dan orang tua melanjutkan perjalanan dengan delman dan angkot. Dan sejak saat itulah kisah klasik masa SMU sekaligus di pondok pesantren pun dimulai.

Saya masuk ke Blok I, yang entah berisi 60-70 anak. Suasana yang ramai dan penuh sesak menjadi kesan pertama. Jangan samakan dengan di rumah, sekamar sendiri dengan bantuan orang tua di sana sini. Di pondok ini masing-masing dari kami ‘hanya’ mendapat fasilitas sebuah lemari mungil 3 tingkat yang otomatis tidak bisa membawa banyak baju dan keperluan pribadi. Jadwal kegiatan juga sangat padat. Disinilah pertama kali ngerasain harus bangun jam 02.00-03.00 demi bisa dapat antrian kamar mandi. Disini pertama kali harus nyuci baju tengah malam karena Cuma pas malam airnya mengalir deras dan gak banyak antrian. Disini juga pertama kali ngerasa bagaimana rasanya punya teman dari berbagai kota, berbagai daerah, dari luar Jawa, dengan berbagai bahasa daerah, logat, kebiasaan, dan karakter yang berbeda. 

Berkali-kali nulis tentang cerita-cerita masa SMU dan rasanya sama aja, suka kebawa perasaan. Ini salah satu cerita yang berkesan banget, dan memang benar adanya bahwa hidup itu penuh dengan liku dan kejutan. Saat awal masuk pesantren, kami para santri baru mendapat seragam, kitab, Al Qur’an dan lain-lain. Saat itu ada seorang teman sekamar menawarkan untuk menuliskan nama saya di Al Quran saya (karena barang-barang pribadi kami harus diberi nama supaya tidak hilang). Menuliskan nama saya dengan huruf arab pegon. Dan itulah awal perkenalan kami, namanya Mba Fery. Dan gak menyangka di masa-masa kemudian, ada beberapa petualangan seru yang kita lakukan. Berkesan banget buat saya, entah buat dia. Secara, saya tuh orangnya introvert, sementara dia extrovert, anak gaul, banyak teman, banyak kegiatan.

Ada orang yang masuk dalam kehidupan kita dan berlalu dengan cepat

Ada yang tinggal beberapa lama dan meninggalkan jejak dalam hati kita

Dan diri kita pun tak akan pernah sama seperti sebelumnya

Kita akan menemukan kata-kata baru, pengertian-pengertian baru dan juga sikap-sikap yang baru. Kenal dan bersahabat dekat dengan seseorang itu memang membutuhkan banyak pengertian, waktu dan rasa percaya.

Sahabat adalah harta yang paling berharga

Sahabat adalah duka yang paling nestapa
(Surat Cinta - Ihsan Abdul Salam) 
Mba Fery lahir dari keluarga santri, masa SMP nya pun di habiskan di pesantren ini. Dengan sifat supel dan gaul so, dia punya banyak teman. Iya, kebalikan saya banget. Yang biasa-biasa aja. Meski gitu, saya tipe yang suka mengingat kejadian-kejadian yang pernah dialami, dan Mba Fery ini membuat 3 tahun di Wonosobo jadi banyak cerita.

 Masjid dan menara, foto diambil dari lantai 2 TK HJ. Maryam

Himda sedang liat ikan di kolam di samping pondok putri

Suatu ketika, saat itu kita lagi suka-sukanya sama Radio NHK Japan, dan dapat info ada pertukaran pelajar ke Jepang di Semarang, kalau tidak salah Monbukagakusho. Sementara kita gak pernah dapat pelajaran Bahasa Jepang, yang ada cuma rasa penasaran yang tinggi sama hal-hal baru. Trus kita ijin deh sama Bapak Abbas, guru Bahasa Inggris, ya mestilah jawabannya gitu deh. Karena kita juga gak ngejar juara tapi pengen ikut, akhirnya kita ijin ke keamanan pondok selama 2-3 hari untuk ke Semarang. Dan akhirnya jadilah kita ‘kabur’ dari pondok, naik bus ke Semarang lalu menginap di rumah kakak Fery di Perumahan Raden Fatah. Kebetulan Kakaknya Fery ini punya 2 anak cowok, saya kan bawa facial wash dan ditinggal di kamar mandi, eh salah satu dari mereka make facial ini, entah buat mandi atau buat mainan. Habis dah, huhuhu belum tau kamu ya dek, kalau santri ini harus ngirit.😭

Untuk kalangan santri, bisa menghirup udara di dunia luar selain masa liburan itu rasanya indaaah banget, ada aroma kebebasan yang nikmat banget. Dari Raden Fatah kita di antar kakaknya Feri ke Jalan Pandanaran, lokasi lomba. Saat peserta lain dapat support dari sekolah, dianterin, di kasih fasilitas katering, kitanya cuma modal belajar dikit,dan rasa ingin tahu yang banyak, kalah pastinya. Tapi seneng, pake banget. Karena bisa memecah rasa keingintahuan dan dapat pengalaman baru.  Jadi tahu proses pertukaran pelajar dan serangkaian ujian yang harus dilalui. Oh iya, kita juga jadi punya banyak teman baru.

Dan dari Semarang kita bablas ke rumah Fery di Salatiga, jadinya lebih lama  deh acara kita. Kita seneng banget meski sempet khawatir kalau dapat hukuman karena kita pergi lebih lama dari ijin yang diberikan pondok. Di Salatiga, engga lama kok, cuma semalam langsung balik ke Wonosobo. Dan salah satu yang saya inget, keluarganya Fery baik banget, saat mbaknya Fery bikin kue mata roda berwarna hijau dan pink dengan pisang di tengahnya.

Selain berpetualang di luar kota, selama masih SMU kita berdua juga suka silaturahmi ke para guru. Salah satunya ke Pak Yulthof, guru bahasa Arab sekaligus wali kelas kami saat kelas 3. Saat itu hari libur, kami silaturahmi ke kediaman beliau, kebetulan beliau sedang sendiri di rumah. Kami disuruh membantu mengisi raport (raportnya kita isi sendiri gaess) setelah itu disuruh masak nasi, kita berduapun ngumpet di dapur sambil kasak-kusuk jaim karena belum bisa masak nasi pakai magic com. LOL.

Selain ke Pak Yulthof kami juga pernah ke Pak Slamet, satpam sekolah saat itu. Lalu ke Pak Zuhdi, wali kelas diniyah Fery. Ini sih rame-rame sama teman-teman, saat itu sedang berlangsung Piala Dunia. Fery ini selain supel juga punya banyak banget kenalan dari santri senior, entah santri putra dan santri putri, salah satunya Fery  pernah ngajak aku nongkrong. NONGKRONG??? di photo studionya Kang Kastari dan Kang Ali. (Sayangnya sekarang studio photonya sudah tidak ada, entah pindah atau tutup). Gak sekedar main dan nongkrong sih, lebih tepatnya nemenin Fery yang lagi latihan pidato dan akhirnya juara 2 atau 3. Saat itu belum ada ponsel, jadi orang tua kami menelpon melalui telpon pondok di kantor pusat. Jamannya warnet dan afdruk foto masih hits. Saat kelas 3, saya pindah ke kost, meski begitu karena kami sekelas, kami masih suka wira-wiri kemana-mana bareng. Dan tentunya, kami juga punya teman-teman lain, baik di pondok, di sekolah dan di kost.

3 tahun penuh keseruan pun berakhir.

Kami lulus SMU, Fery kuliah di Purwokerto jurusan Matematika, saya di Bandung jurusan Logistik. Kami masih berkomunikasi, lewat surat dan email. Saat itu ponsel masih barang mihil. Kalau pas libur kuliah pernah juga beberapa kali main-main di kost Fery yang tidak jauh dari kampusnya di Unsoed, dan saat kuliah kamipun pernah sengaja ke Wonosobo, reuni dengan teman-teman saat haflah Khotmil Quran di pondok. Setelah menjadi alumni, reuni adalah salah satu cara mengobati kerinduan masa sekolah, menyambung silaturahmi dengan para guru dan teman-teman. Dan sejak menjadi alumni, hubungan dengan teman seangkatan berubah. Ada yang dulu sahabat dekat, lalu kehilangan jejak. Ada yang dulu ga akrab, menjadi dekat. Tidak ada sekat, karena semua sama-sama alumni. Selepas kuliah, saya memanfaatkan ilmu di Semarang, Fery masih di Purwokerto, dan kita masih terhubung dan berkomunikasi. Curhat kita pun bergeser, dari kisah seru masa SMU, menjadi kegiatan-kegiatan selama kuliah dan tentunya ke masalah-masalah pribadi. Salah satunya yang membuat saya bersyukur, Allah memberi sahabat seperti Fery adalah, dia bisa mendengarkan (Iyes, karena perempuan harus mengeluarkan 20.000 kata per hari 😅), dan nyaman banget buat tempat curhat tanpa takut bocor, ketawa-ketiwi, dan juga berkeluh kesah.

Seorang sahabat bisa menyembuhkan luka hati

Menarikmu dari nada-nada sedih yang melingkupi

Menerangi langitmu yang kelabu

Menjernihkan dusta-dusta yang menipu

Seorang sahabat selalu siap dengan tangan terbuka

Untuk menghiburmu dan melindungimu dari marabahaya

Untuk membantu menyimpan segala rahasiamu

Untuk menemanimu saat kau ingin bersenang-senang

Seorang sahabat selalu ada disamping dalam suka dan duka

Dalam saat-saat bahagia atau penuh ketakutan

Selalu menyenangkan dan ceria

Dan ikatan diantara sahabat akan senantiasa abadi

(Chicken Soup for The Teeange Soul III- Harmony Davis)

Tahun 2010, 8 tahun yang lalu.

Masing-masing dari kami sudah menikah. Saat itu saya baru melahirkan anak pertama, 2 bulan setelah melahirkan, Fery dan suaminya datang menengok. Saat itu Fery baru saja keguguran. Setahun Kemudian Fery melahirkan putra pertama. Dan entah takdir atau kebetulan belaka, padahal gak janjian, anak pertama kami bernama nyaris sama. Putra Fery, Hanana Ahmad Nurul Musthofa. Putra saya, Ahmad Aisya Nurul musthofa.

Setelah menyandang status istri sekaligus ibu, obrolan kami pun mulai bergeser jadi seputar dunia emak-emak, jadi ngerasa banget bagaimana kita itu dari teman dolan, teman berpetualang, dari jamannya jadi remaja sok tau dengan tingkat keingintahuan dan penasaran akan pengalaman baru yang sampai level akut sekarang jadi emak-emak milenial yang berburu ilmu parenting di buku, seminar dan pastinya social media. Alhamdulillah, kita juga terkoneksi dari jamannya pake hape monochrome sampe sekarang bisa WA-an, dan juga sama-sama jualan online. Sebenarnya kita sempat bertemu sekitar 3 tahun yang lalu, saat acara haflah khotmil Quran, Fery beserta suami dan kedua anaknya, datang dan seneng banget saat itu kita bisa ketemu dengan status yang sama, mahmud abad (mamah muda anak baru dua). LOL.

Sekali lagi, moment terbaik kadang datang tak terduga, tanpa rencana. setelah 3 tahun pertemuan terakhir, tahun 2018 ini kita bisa ketemu lagi. Jadi Pesantren Al Asyariyyah rutin mengadakan Haflah Khotmil Qur’an setiap tanggal 10 Muharram,  atau tepatnya 20 September lalu. Perhelatan besar bukan cuma bagi pondok, tapi juga warga sekitar. Bukan cuma tamu undangan dan wali santri yang datang menghadiri tapi juga para alumni, yang membuktikan kebahagiaan, kebanggaan pada almamater dan hormat takdzim pada Kyai dan para guru. Selain itu mengingatkan diri sendiri, kalau dulu juga pernah ikut khataman, dan berharap itu bukan sekedar seremonial belaka, tapi pengingat agar selalu dekat dan mendekati Al Quran, insyaallah.

Jadi grup WA alumni angkatan kami mengadakan semaan Qur'an seminggu sekali dan khatam malam jumat. Kebetulan sekali Haflah Khotmil Quran pada 10 Muharam tahun ini bertepatan pada hari kamis malam jumat. Salah satu teman kami, Uli Maftuhah, yang rumahnya selalu menjadi basecamp utama para alumni angkatan kami mengadakan khotmil Quran sederhana (yang alhamdulillah sudah memasuki putaran 102), beberapa teman alumni sudah mengkonfirmasi kedatangannya. Sayangnya, sorenya saya gak bisa datang padahal banyak teman-teman alumni yang sudah banyak yang ngumpul di rumah Uli.

Agar tak kehilangan moment berharga, Jumat pagi setelah Isya dan Himda berangkat sekolah, saya langsung mengajak Navid ke rumah Uli. Sayangnya Uli sudah berangkat mengajar. Untungnya bisa ketemu Fery di penginapan alumni SMP Takhassus di rumah Pak Mukodam di Kalibeber. Hiks, sayangnya cuma sekitar 3 jam dari jam 07.30-10.30. Keberuntungan tidak datang tiba-tiba, namun harus diperjuangkan. Setelah mengobrol kami langsung ziarah ke nDero Duwur di makam Simbah KH. Muntaha Al Hafidz. 

FYI, KH. Muntaha Al Hafidz adalah  adalah ulama Indonesia yang memiliki julukan Pecinta Al-Qur'an Sepanjang Hayat. Julukan tersebut beliau terima karena hampir seluruh hidupnya ia habiskan untuk mendalami dan menyebarkan ajaran al-Qur'an. Ia adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Asy'ariyah Kalibeber Wonosobo. Melalui pesantren asuhannya, telah terbit sebuah tafsir al-Qur'an tematik (maudhu'i) yang telah memberi sumbangsih terhadap perkembangan kajian ilmu-ilmu al-Qur'an . Gagasannya yang paling monumental adalah membuat mushaf al-Qur'an akbar (al-Qur'an raksasa) setinggi dua meter, dengan lebar tiga meter dan berat lebih dari satu kuintal.

Karena waktu bertemunya dibatasi selama jam Cinderela, kami langsung ngobrol banyak hal, dari masalah anak-anak, dagangan kita, sampai kabar teman-teman saat ini. Sebenarnya kurang banget waktnya. Sayangnya emak Cinderela harus segera pulang, sebelum anak-anak kembali dari sekolah dan Fery juga harus segera kembali ke Salatiga. Meski cuma 3 jam, rasanya bahagia dan terharu, hingga saat ini kurang lebih 18 tahun kami berteman, tak terasa masa muda kita lewati berganti menjadi ibu dari anak-anak yang hilir mudik mengiringi.

Wefie-lah sebelum berpisah

Beruntungnya hidup di jaman smartphone 

Sebelum berpisah dan kembali ke aktivitas masing-masing, untungnya kita inget untuk wefie dulu. Entah kapan bisa bertemu lagi. Untungnya saat ini sudah ada smartphone yang bisa mengabadikan momen-momen penting, merekam, berkomunikasi dan juga menjemput rezeki. Saya jadi ingat saat awal-awal pertemuan dengan suami, menikah lalu menjalani kehamilan. Alhamdulillah semua terdokumentasi, meski tidak terlalu lengkap. Seringkali saat ingin membuat video untuk merekam aktivitas si kecil, memori ponsel harus dikosongkan dulu, dipindah dulu ke komputer karena memori ponselnya terbatas, karena belum sempat dipindah, akhirnya ga jadi bikin video deh. Padahal gallery foto di ponsel sangat bermanfaat untuk mengabadikan moment-moment keseharian dan juga momen penting yang akan selalu menjadi kenangan.

Kebutuhan akan memori ponsel juga bertambah, karena saat ini memori ponsel saya penuh dengan gambar jualan, sehingga selain membuat memori penuh saya juga tidak bisa seenaknya menginstal aplikasi yang sebenarnya dibutuhkan. Ponsel juga menjadi sering lola (loading lama), karena terlalu penuh. Beberapa hari yang lalu, saya dan suami sempat browsing mencari ponsel yang bisa memenuhi segala kebutuhan kami. Iya, suami juga sedang mencari pengganti ponsel lama yang layarnya pecah.


Dan saya jadi inget smartphone Huawei Nova 3i, smartphone impian saya di tahun 2018. Dari smartphone ini, saya yakin kebutuhan dan keinginan akan smartphone bisa terpenuhi. Mau tahu kenapa?

Storage 128 GB paling besar di kelas smartphone mid-end saat ini


Jadi, buat saya memori ini penting banget. Ribet banget kalau pas dalam perjalanan, mau mengabadikan moment penting, atau pas harus download produk jualan ternyata gak bisa karena memori penuh. Dengan menggunakan Huawei Nova 3i, tak perlu khawatir lagi karena didukung chipset Kirin 710 berkonsep octa-core yang dipadukan dengan 4GB RAM dan 128GB ROM (microSD hingga 256GB).

Model dan warnanya keren

Huawei Nova 3i ini memiliki tiga model warna: black, irish purple dan camaro. Di bagian belakang terdapat corak yang indah, dilengkapi bingkai metal di bagian tengah, cantik banget. Selain itu dengan ukuran layar 6,3 inch FHD+ (2340x1080) berat 169 gram dan ketebalan hanya 7,6 mm membuat smartphone ini nyaman banget digenggam.


Kameranya cerdas dan mudah dioperasikan

Memiliki kamera yang cerdas, canggih, tapi simpel digunakan adalah salah satu poin saya dalam memilih smartphone. Objeknya bagus, eh saat dilihat hasil fotonya ternyata kurang memuaskan. Sayang sekali kan? Huawei Nova 3i ini keren banget untuk fotografi karena memiliki  kamera depan ganda dengan konfigurasi 24MP dan 2MP serta 16MP dan 2MP untuk kamera belakang. Lensa utama bertugas untuk merekam detail sementara lensa kedua (2MP) menghasilkan efek kedalaman (bokeh) yang profesional dan alami. Huawei nova 3i juga diperkuat oleh algoritma AI yang didorong pengetahuan lebih dari 100 juta gambar. AI HUAWEI nova 3i mampu mengingat 22 kategori dari 500+ momen, dan menyediakan hasil potret yang dioptimalkan. Dengan AI di Smartphone Huawei, berbagai momen indah bisa direkam dengan mudah. Jadi gak repot harus mencari sinar yang oke saat mengambil gambar, meski dalam rumah atau cahaya minim tetap bisa mendapat gambar yang keren. Sip!
Hemat energi

Point yang tidak kalah penting dalam memilih smartphone adalah yang hemat energi. Kami perantau, dan hal ini terasa banget saat kita mudik, lalu power bank kosong, secanggih apapun smartphone kalau baterainya habis gak bisa dipakai kan? Sementara dalam perjalanan penting banget memiliki ponsel dengan performa maksimal supaya bisa dimanfaatkan selama perjalanan. Biasanya sih, kita memakai smartphone untuk putar musik, murotal, film, atau game agar anak-anak tidak bosan di kendaraan yang biasanya memakan waktu lama. Kelebihan Huawei Nova 3i ini dilengkapi teknologi GPU Turbo. Buat para mobile gamer ini penting banget, karena bisa nge-game suka-suka tanpa membuat performa boros, malah 30 persen lebih hemat. 

Kesimpulannya, Huawei Nova 3i ini memang keren! Dengan smartphone ini saya bisa tenang mengabadikan momen-momen berharga, terutama tumbuh kembang anak-anak yang akan sangat berharga dan memorable banget, tak terlupakan dan tak akan terulang kembali, untuk jualan online juga juara. Gak usah khawatir lagi menyimpan foto produk dalam jumlah banyak, selain itu ukurannya yang ideal, bikin nyaman dibawa kemana saja.

Finally, terima kasih yaa sudah membaca, semoga bermanfaat. Apa saja nih momen terbaik teman-teman di tahun 2018 ini? Sharing yuk.





Kamis, 27 September 2018

Review Buku. I Can Not Hear (Perjalanan Seorang Anak Tuna Rungu Menuju Dunia Mendengar)


Judul: I Can (Not) Hear. Perjalanan Seorang Anak Tuna Rungu Menuju Dunia Mendengar
Penulis:  Feby Indirani & San C. Wirakusuma
Penerbit: Gagas Media
Edisi: Cetakan 1 – Jakarta, 2009
Halaman: 354
ISBN: 979-780-363-5

Apa jadinya kalau bayi mungil yang kita tunggu kehadirannya, kita cintai sejak dalam kandungan, selalu rutin memeriksakan kehamilan ke dokter yang baik, ternyata terlahir tuna rungu? Jadi, bagian mana yang salah?
The moment a child is born, the mother is also born.
(Bhagwan Shree Rajneesh)

Saat itu musim semi,  18  Mei di Rumah sakit Matilda Hongkong. Sansan melahirkan bayi cantik dengan pipi merona merah, Gwen namanya. Nama Gwendolyne diambil dari salah satu tokoh di buku favoritnya, Malory Towers karangan Enid Blyton.  Gwen bayi yang sangat tenang, pernah suatu malam terjadi angin topan hingga level 8, level tertinggi tapi dia tetap tertidur nyenyak.  Merasa ada yang aneh, Sansan membawa Gwen ke dokter dan hasilnya sangat mengejutkan. Dari hasil tes DPOAE (Distortion Product Otoacoustic Emissions) dan Tympanometry, Gwen mengalami gangguan pendengaran yang cukup berat, adanya infeksi telinga dan mixed hearing loss. Artinya, selain memiliki gangguan telinga tengah. dia pun mengalami gangguan pada telinga bagian dalam. Padahal dari hasil tes selama kehamilan, saat kehamilan 4 bulan Sansan bersih dari virus rubela dan campak jerman. 

Masa-masa sulit pun dilalui Sansan dan keluarga. Gwen mulai menjalani tes demi tes, terapi demi terapi. Seperti tes ABR (Auditory Brainstem Response) untuk melihat grafik respon otak saat diberi bunyi. Hasilnya Gwen tidak menunjukkan respon terhadap suara sampai kerasnya 100 desibel. Jadi, kalaupun Gwen berdiri di samping pesawat terbang yang akan lepas landas, dia belum mendengar suara tersebut karena dia tidak mempunyai sisa pendengaran bahkan sampai 100 desibel.

Tes di Klinik Dr, Goh di Queen Mary Hospital menunjukkan bahwa gangguan pendengaran Gwen disebabkan virus CMV. Hasil tes darah juga menunjukkan bahwa  Sansan pernah terjangkit virus CMV sehingga ia memiliki antibodi terhadap virus tersebut. Hasil tes darah Gwen negatif tapi hasil tes urin terhadap rasio virus CMV masih tinggi. Dr. Goh menganjurkan Gwen mengikuti physiotherapy dan occupational terapi. 

Tahun 2000 usia Gwen sekitar 17 bulan, iapun menjalani operasi. Rambutnya digunduli. Kepalanya dibuka, lalu tengkoraknya dibor untuk membuat lubang. Di dalamnya, dimasukkan internal implant yang terdiri dari elektroda dan housing yang berisi magnet dan chip komputer. Housing terhubung dengan elektroda yang dimasukkan jauh melingkari rumah siput yang tujuannya untuk menstimulasi syaraf-syaraf pendengaran dan mengantarkan suara ke otak tempat suara diterima melalui alat luar (external device).

Gwen bisa mendengar? Belum, dia masih harus belajar mendengar dan enam bulan hingga setahun pertama setelah pemasangan cochlear implant adalah masa pengulangan saat Gwen harus banyak mendengar. Setiap hari, setiap waktu mommy Sansan mengajarkan kata baru, dan terus mengulanginya. Semakin jauh sumber suara, semakin sulit Gwen menangkap dengan utuh apa yang ia dengar.
Empat bulan sesudah implan, Gwen berlari menuju Sansan dan menunjuk telinganya.
“ai ear e...”
Kalau anak-anak lain, kata pertamanya adalah ‘papa’ atau ‘mama’. Kata pertama yang Gwen ucapkan secara spontan adalah ‘I hear that”. (halaman 168).

Demi Gwen, Sansan dan Gwen pindah ke Australia karena lingkungannya berbahasa Inggris dan program terapi mendengarnya sudah mapan, sementara papa John mengurus bisnis di Jakarta. Di Australia, Sansan juga kuliah di Macquarie University Special Education Center, sekolah khusus untuk anak-anak yang mengalami gangguan di bidang disleksia (gangguan kesulitan membaca) karena masalah kesulitan belajar, Attention Deficit Disorder (ADD), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) ataupun autisme.

Di Sydney, Gwen juga di implan ulang, setelah itu kemajuannya pesat. Selama ini pengucapannya kurang bagus karena pendengaran yang kurang bagus dari alat implant yang lama. Tak lama setelah itu Gwen bersekolah di Pre School dan mommy setelah lulus program  S2  Special Education melanjutkan belajar di program Primary Education. Sansan juga mengikuti program mentoring bersama Cheryl Dickson untuk mendalami pengetahuan di bidang gangguan pendengaran. Tahun 2006, mommy Sansan bersama beberapa orangtua sepakat mendirikan Yayasan Indonesia Mendengar sebagai wadah informasi untuk para orang tua yang mempunyai anak gangguan pendengaran yang memakai alat bantu dengar konvensional ataupun cochlear implant.



Membaca buku ini seperti merasakan langsung apa yang dialami mommy Sansan, saat malaikat kecil yang ditunggu hadir kedunia dengan tubuh mungilnya yang mempesona siapa saja. Beribu doa dipanjatkan, beribu rencana jangka panjang telah dirancang, tapi jika rencana manusia tidak sama dengan rencana Tuhan, tidak ada yang bisa dilakukan selain terus berjuang, karena perjalanan hidup tidak pernah kita duga. Proses terapi Gwen sejak bayi hingga bisa mendengar dengan cochlear implant juga diceritakan secara runtut dan detail, menyertakan waktu dan lokasinya.  Begitupun interaksi Sansan dengan suami, ibu dan tentu saja Gwen yang sangat menguras emosi. Dari buku ini pembaca juga bisa tahu bagaimana menghadapi anak tuna rungu, cara berkomunikasi, cara mengajari banyak hal, juga bersosialisasi dengan dunia luar. Jika para orang tua yang dikaruniai anak sehat  saja seringkali mengalami kesulitan dalam merawat, mengurus dan mendidik anak, bagaimana dengan para orang tua dan keluarga dengan anak yang memiliki kekurangan? Tentu butuh perjuangan, dan kesabaran yang tak terbatas. 

Buku ini berlatar belakang Hongkong, Singapura, Jakarta dan Sidney, yang mungkin membantu pembaca menemukan referensi pengobatan untuk anak dengan gangguan pendengaran. Buku ini juga dilengkapi dengan kata-kata mutiara yang inspiring  di setiap chapternya, foto-foto Gwen dan keluarga dari bayi hingga usia sekolah, dan pembatas buku. Beberapa gambar Gwen yang ala manga juga menghiasi buku ini. Selain itu membeli buku ini sekaligus telah menyumbang Rp.1.000 untuk Yayasan Indonesia Mendengar.

Selamat Membaca