Jumat, 20 Desember 2013

KADER POSYANDU: ANTARA KELUARGA DAN MASYARAKAT

 Rabu pertama setiap bulan menjadi hari yang harus saya dan ibu ingat. Bagi saya, ini hari dimana Isya (3,5 tahun) dan Himda (1,5 tahun) ke Posyandu untuk di timbang berat badannya. Bagi ibu, karena beliau kader Posyandu, sehari sebelumnya ibu sudah berkoordinasi dengan kader lain menentukan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) apa yang akan dibuat esok hari.

Entah sudah berapa tahun ibu menjadi kader Posyandu. Seingat saya, sejak saya SD, di rumah pernah menjadi tempat Posyandu. Dulu masih jamannya Kartu Menuju Sehat (KMS), dimana tumbuh kembang anak dicatat di kertas yang bisa dilipat menjadi 3 bagian. seiring waktu berjalan, Poyandu dilakukan bergiliran di rumah para kader. Saat ini Posyandu sudah istiqomah di rumah Bu Neni yang menjadi ketua kader Posyandu di RW 2 tempat kami tinggal

Menjadi kader Posyandu, tidak sekedar menimbang, ada Bidan yang mendampingi untuk imunisasi tiap bulan. Berat badan anak di kontrol, jika bulan berikutnya berkurang, kader harus menanyakan pada si ibu, atau memberi saran untuk kebaikan ibu dan anak. Setiap bulan ketua kader dan perwakilan kader mengikuti rapat di puskesmas kecamatan, kadang ada rapat (ibu menyebutnya kumpulan) di Posyandu RW yang lain. Setiap tahunnya, ada pendataan yang harus di kerjakan. RW kami terdiri dari 6 RT (Rukun Tetangga), tiap kader dibagi tugasnya mendata kondisi tiap RT. Ibu kebagian data RT.5 tempat kami tinggal. Apa saja yang didata? Pendataan membutuhkan data setiap KK (Kepala Keluarga), dari data lengkap KK beserta keluarganya, kondisi rumah, air, listrik, jumlah anak, pendidikan keluarga, alat kontrasepsi yang digunakan. Data ini diperbaharui tiap tahun karena pasti berubah. Saya tahu karena sering membantu ibu mengerjakannya. Yang sulit, karena jumlah KK yang banyak dan menyalin nomor KTP/NIK yang nyaris tak terlihat. Selain pendataan ini, ada juga pendataan lain seputar ibu dan anak di wilayah masing-masing.

Selain pendataan, tiap bulan juga ada PMT untuk balita yang ditimbang. Balita yang disarankan ke Posyandu mulai dari umur 0-5 tahun. setelah balita mendapat imunisasi dasar lengkap (HPT, BCG, DPT, POLIO CAMPAK), mereka ditimbang dan di beri PMT. Kadang PMT nya bubur kacang hijau. Ibu berbelanja sehari sebelumnya, dan setelah shubuh mulai membuat bubur lalu membungkusnya, sekitar pukul 08.00, bubur mulai diantar ke Posyandu di rumah Bu Neni. Kadang PMTnya berupa telur puyuh dan pisang. PMT dijual Rp.1000/bungkus. Jauh lebih murah dibanding harga jual pasaran karena tujuannya memang membantu balita mendapat makanan bergizi dan murah. Pernah juga nasi dan lauk bergizi namun kurang diminati kaum ibu karena umumnya mereka sudah memasak di rumah.

Apa yang ibu dapatkan dengan menjadi kader Posyandu? Pada awal-awal bergabung (artinya bertahun-tahun yang lalu), tidak ada fee sama sekali. Murni karena dorongan hati. Masyarakat butuh Posyandu dan butuh kader yang memberi perhatian pada balita. Kadang, para kader juga memiliki peran ganda seperti mensosialisaskan program pemerintah. Seperti membantu mensurvei warga yang benar-benar membutuhkan untuk kepentingan BLT, Jamkesmas, Jamkesda, dan sebagainya karena para kader terbiasa bersosialisasi dengan warga.

Beberapa tahun terakhir, menurut ibu, pemerintah mulai memberi perhatian pada Posyandu, seperti ada fee tiap beberapa bulan sekali, adanya ongkos transport jika ada rapat di kecamatan, dan mendapat seragam. Jumlahnya memang tidak seberapa namun membuktikan pemerintah mulai memperhatikan Posyandu dan kadernya. Selain itu, ibu meski telah lansia (usia beliau 58 tahun), masih gesit berorganisasi. Ibu mendapat banyak informasi yang bermanfaat, dan pengalaman berharga seperti bertemu banyak kalangan, bisa mengikuti seminar yang diadakan Posyandu, dan dari seminar itu ibu bisa menerangkan bahaya rokok, bahaya dan cara mengatasi stroke, Hak Anak, pengetahuan seputar kontrasepsi, dan seputar kesehatan ibu hamil dan menyusui.

Dari ibu saya belajar bahwa menjadi seorang perempuan, lalu menjadi istri dan seorang ibu adalah anugrah Allah yang luar biasa sekaligus amanah yang harus dijaga. Menjadi istri dan ibu haruslah menjadi pembelajar sejati. Bagaimana menjadi istri yang baik, bagaimana mendidik anak yang baik. Dan meski "hanya" seorang ibu rumah tangga, kita bisa gaul yang sehat dan bemanfaat. Ibu sangat suka berorganisasi. Beliau menjadi ketua Dasa Wisma (Dawis), tergabung dalam PKK tingkat RT, PKK tingkat RW, PKK tingkat kelurahan, dan kader Posyandu. 

Dan, karena para kadernya ibu-ibu (dan semanya ibu-ibu setengah baya alias anaknya udah gede malah udah punya cucu), permasalahan ada pada kader sendiri. Ada kader yang inkonsisten karena sibuk dengan masalah intern keluarga sehingga tidak fokus di Posyandu. Sehingga dibutuhkan kader yang bisa meluangkan waktu antara keluarga dan organisasi. Biasanya para kader adalah para ibu yang anaknya sudah dewasa jadi tidak repot dengan urusan dapur. Saat ini Bu Neni, agak repot mencari kader baru yang benar-benar mau konsisten.

Di kota-kota besar, mungkin peran Posyandu tidak begitu dominan. Di sebuah stasiun televisi swasta saya pernah melihat tayangan di Indonesia Timur, dimana saat kunjungan ke Posyandu adalah saat dimana anak mendapat makanan bergizi. Asli, ini bukan promo program pemerintah. Di kampung saya, tidak (belum) ada komunitas sosial, karena ibu saya seorang kader, dan karena Posyandu memegang peran penting. Apapun bentuknya, apapun medianya, apapun komunitasnya, yuuk temen-temen, kita beri perhatian pada ibu hamil, ibu menyusui, balita dan anak-anak terutama dari kalangan tidak mampu. Ibu yang sehat akan melahirkan anak yang sehat dan anak yang sehat akan menjadi generasi sehat dari bangsa yang sehat.

Buat temen-temen, terutama sesama perempuan atau ibu-ibu, yuk gaul sehat dengan ikut organisasi di lingkungan masing-masing. Mau PKK, Posyandu, atau mungkin kegiatan sosial. Selain menambah keakraban dengan tetangga, juga mengasah intelektualitas, dan bukan tidak mungkin nambah rejeki. Masuk dalam komunitas sosial juga butuh keikhlasan dan panggilan jiwa. Bahagia pun menjadi sederhana. 





Kamis, 19 Desember 2013

SERUNYA NGE-BLOG BARENG MY TELKOMSEL

gambar dari : www.telkomsel.com


Wah, alhamdulillah gak terasa nih, udah setahunan punya laptop sendiri. Bisa nge-blog dan internetan kapan saja (selama urusan rumah tangga kelar dan anak-anak udah tidur). Maklumlah, emak-emak, mesti keluarga kan yang utama? Dulu, saya dan suami punya satu laptop. Karena suami pulang tiap akhir pekan, saya cuma bisa pake pas beliau di rumah. Sering sampe lembur malam pas anak-anak tidur. Akibatnya laptop nge-hank. Kecapean di pake full seminggu. Di bawa ke reparasi,  ternyata harus ganti yang baru. Untunglah data-data bisa di selamatkan. Semua data-data penting, dari foto-foto kita, kerjaan suami, dan tugas-tugas kuliahnya. Alhamdulillah deh data nya selamat. Dan alhamdulillah lagi, Allah memberi rezeki untuk beli yang baru. Selalu ada yang bisa disyukuri di setiap musibah :)

Mungkin geregetan sama saya yang selalu menyabotase laptopnya pas di rumah, suami saya membeli 2 laptop. Kebetulan pas pameran komputer jadi harganya agak miring. Yang kecil buat beliau, biar bisa masuk ransel, praktis dibawa kemana-mana, lha saya malah dibeliin yang gede, baiknya suamiku :)


Katanya sih, biar saya terhibur, ga bosen dengan pekerjaan rumah, bis browsing, internetan, dan menyalurkan hobi menulis dari kecil. Saking pengertiannya, suamiku memberi hadiah laptop ini lengkap dengan modem dan paket internet. Anak-anak juga bisa merasakan manfaatnya, mereka bisa download video murotal, mengaji, dan video edukatif lain dari youtube. Saya sih terima beres aja, ga sempet ngurus yang begituan. Suamiku memberi paket internet dari Simpati Loop. Katanya sih, provider ini kan sudah banyak pengalaman di dunia telekomunikasi, dan paket internetnya bagus...wuzz...wuzz..selain itu di daerah kami jaringannya juga bagus. Jadi ga salah pilih kan?

Sejak pertama punya handphone, kami sudah pakai Telkomsel, saat itu alasannya simple, karena orang tua pakai simpati, kita berdua pake AS. Saudara-saudara juga kebanyakan memakai telkomsel jadi mudah banget untuk berkomunikasi termasukperlu pulsa, tinggal berbagi aja.


Seiring perkembangan teknologi telekomunikasi, muncul lagi istilah gadget. Ada tablet, smartphone, Iphone, Ipod, dan sebagainya. Karena kebutuhan, dan handphone lamanya sudah rusak, apalagi sering dijatuhin sama si kecil, kami membeli handphone baru dengan teknologi windows dan android. Sama sekali bukan buat gaya-gayaan loh, murni kebutuhan, apalagi sekarang hampir semua orang berinteraksi melalui social media. Kebetulan belinya pas menjelang ulang tahun saya, jadi kado cinta deh, si android plus paket internetnya :). Untuk kartunya, kami pakai Telkomsel. Asyik banget, ternyata  ada layanan My Telkomsel. Langsung aja kami download dan install. My Telkomsel memberikan banyak kemudahan.  Misalnya  berbagi pulsa, mengirim paket data, cek tagihan kartu Halo, sampai mengisi paket internet di tablet yang tak punya fitur telepon.

Awalnya dimulai dari sini nih,
                                                                 dok.pribadi

Untuk masuk ke My Telkomsel, password yang digunakan akan dikirim lewat pesan di inbox melalui *323#. Password cuma bisa digunakan sekali pakai.  Setelah masuk ke My Telkomsel, kita bisa mendapat informasi tentang sisa kuota, sisa pulsa dan paket yang digunakan. Seperti ini nih:
                                                                    dok.pribadi

Di My Telkomsel, ada banyak fitur yang bisa kita manfaatkan lho..:)


                                                                        dok. pribadi

Ini dia aplikasi menarik lainnya :) Kita paling suka pake Skype. Meski suami sering keluar kota, kita bisa saling komunikasi dan anak-anak juga seneng banget bisa liat wajah Abinya sambil ngobrol.
 
dok.pribadi

Fitur yang jadi favorit nih, transfer pulsa, ga perlu kemana-mana tinggal klik aja

                                                                   dok.pribadi

Selain untuk transfer pulsa, bisa transfer kuota juga. Kita bisa menyesuaikan kuota yang kita butuhkan. Lagi asik nge-blog, tus kuota habis? Ga perlu khawatir, tinggal minta transfer kuota deh, praktis dan ekonomis. Ga pake lama, ga perlu kemana-mana :)
dok.pribadi



Ada  flash gift juga lho
dok.pribadi

Kita juga bisa bayar tagihan Kartu Halo disini


                                                                  dok.pribadi 

Dan asyiknya lagi ada video tutorial yang memudahkan kita untuk dapet informasi lengkap kap tentang semua produknya My telkomsel. Ini dia videonya :



Selain video tutorial, kita juga dapat mengetahui lebih jauh tentang fitur My Telkomsel, bisa baca-baca apa saja layanan yang ditawarkan, fitur-fitur yang ada, pembayaran tagihan, customer service dan juga bisa download buku panduan My Telkomsel DISINI


 gambar dari: www.telkomsel.com


Nah, udah ga ragu lagi kan pake Telkomsel, apalagi di jamannya smarthphone dan tablet, informasi dan social media udah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. My Telkomsel memfasilitasinya dengan berbagai fitur yang membantu kita memudahkan isi ulang, pembelian paket, dan kemudahan lainnya. Untung ada My Telkomsel, mudah, praktis dan hemat kan! Bener-bener kebanggaan Indonesia deh :)
Yuk download My Telkomsel sekarang :)


 gambar dari : www.telkomsel.com

Selasa, 10 Desember 2013

SEHAT (SEHARUSNYA) MILIK SEMUA

Bocah itu tak mau lepas dari pangkuan ibunya. Sesekali menangis, ia menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Bocah itu bernama Ratna (8). Sejak 26 November 2013 lalu ia dirawat di RS. Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa, Bogor. Ia didiagnosis menderita gangguan gizi, Marasmus Kwashiorkor dan anemia.Ratna merupakan pasien gangguan gizi ke-14 yang ditangani oleh RST Dompet Dhuafa. Selama lebih dari 1 tahun berdiri, RST Dompet Dhuafa telah menangani 36 kasus pasien gangguan gizi. Sebanyak 14 pasien ditangani di rawat inap dan sisanya merupakan pasien rawat jalan

 Ratna didampingi ibunya. Gambar dari sini


Menurut Direktur Utama Dompet Dhuafa  Ahmad Juwaini, dalam Republika, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum berdampak pada menurunnya jumlah penduduk miskin di Indonesia. Alhasil, target pemerintah untuk mengurangi angka kemiskinan hingga delapan persen pada 2014 dirasa sulit direalisasikan. Jika menggunakan definisi Badan Pusat Statsitik (BPS), pada 2012, penduduk miskin sekitar 12,15 persen atau 29,13 juta jiwa. Sementara pada 2013 pada angka 11,23 persen. Prosentase ini setara dengan 27,48 juta penduduk. 
Jika menganut makna kemiskinan versi Bank Dunia, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada 2013 mencapai 97,9 juta jiwa. Atau setara dengan 40 persen penduduk.
Menurutnya, yang bisa mengurangi angka kemiskinan adalah keterlibatan rakyat dalam kegiatan ekonomi. AC Nielsen mencatat ada 29 juta orang yang pendapatan per kapitanya di atas 3000 dolar per tahun pada 2010. 
Jumlah orang kaya itu setara dengan jumlah orang miskin yang ada. Jika satu orang kaya bisa memberdayakan satu orang miskin, maka angka kemiskinan di Indonesia bisa dipangkas dengan cukup cepat. Masalahnya adalah bagaimana cara memangkasnya?

Pada kenyataannya, yang kita jumpai di sekitar kita masih banyak kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Selalu ada berita, tentang masyarakat yang hidup kurang layak, tidak bisa meneruskan pendidikan, gizi buruk, pengangguran, hingga berebut zakat berjam-jam lamanya hingga berdesakan, terinjak, bahkan ada yang meninggal. Ironis sekali, mengingat negeri ini di kenal dengan negeri yang gemah ripah loh jinawi. Dimanakah kekayaan Indonesia, sehingga banyak rakyatnya yang masih berada dalam garis kemiskinan sementara menurut dompett dhuafa, di penghujung tahun ini sebuah majalah ekonomi internasional merilis 40 orang terkaya Indonesia. Yang mengejutkan, total kekayaan 40 orang tersebut mencapai 10,3 persen dari PDB Indonesia, setara dengan Rp 710 triliun atau setengah dari APBN 2011. Fakta ini sangat menyedihkan, karena secara vulgar menampakkan jurang kesenjangan yang sangat lebar antara kelompok si kaya dan jumlah masyarakat miskin di Indonesia. Bahwa kekayaan dan perputaran uang di bangsa ini sebagian besar hanya dikuasai sekelompok orang tertentu saja.

Marilah kita contoh Khalifah Umar bin Abdul Aziz .  Sang Khalifah berkata kepada istri dan anaknya : “Aku termenung dan terpaku memikirkan nasib para fakir miskin yang sedang kelaparan dan tidak mendapat perhatian dari pemimpinnya. Aku juga memikirkan orang-orang sakit yang tidak mendapati obat yang memadai. Hal yang sama terpikir olehku tentang orang-orang yang tidak mampu membeli pakaian, orang-orang yang selama ini dizalimi dan tidak ada yang membela, mereka yang mempunyai keluarga yang ramai dan hanya memiliki sedikit harta, orang-orang tua yang tidak berdaya, orang-orang yang menderita dipelosok negeri ini, dan lain sebagainya”.

Dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kita belajar bagaimana seriusnya beliau mengelola zakat. Sehingga tidak ada rakyat yang mau menerima zakat karena negara sudah makmur dan tercukupi . Bukan tidak mungkin metode beliau diterapkan di Indonesia. Kita perlu pemimpin yang mencintai rakyat, tidak bermewah-mewahan sementara rakyatnya kekurangan, memilih pejabat negara yang jujur dan mengutamakan kepentingan rakyat serta mendirikan Baitul Mal untuk mendistribusikan zakat dan kekayaan negara pada rakyat yang membutuhkan. Agar pendistribusian zakat merata, diperlukan Baitul Mal yang terpusat dari pemerintah hingga desa. Agar tidak ada penyelewengan, diperlukan Amil Zakat yang jujur dalam mengelola dana zakat. Dana zakat diperuntukkan salah satunya untuk fakir miskin atau kaum dhuafa. Dana zakat ini bisa dikelola menjadi modal usaha. Dengan tetap di awasi dan diarahkan oleh Baitul Mal, modal usaha ini bisa dikembangkan sehingga kaum fakir miskin/dhuafa yang awalnya mustahik (penerima zakat) meningkat taraf kehidupannya dan menjadi muzakki (pemberi zakat). Dengan menjadi muzakki, masyarakat yang sebelumnya adalah fakir miskin/dhuafa menjadi mandiri secara ekonomi. Bisa mencukupi kebutuhan hidupnya termasuk mengurus masalah kesehatan, dari menjaga kesehatan hingga memiliki biaya untuk berobat saat sakit. Kita beruntung sejak 4 September 1994, Yayasan Dompet Dhuafa didirikan dan tahun 2001 dikukuhkan sebagai Lembaga Amil Zakat tingkat nasional. Lembaga nirlaba ini mengumpulkan dana dari masyarakat dalam bentuk zakat, infak, shadaqah untuk berbagai program kemanusiaan seperti kesehatan, pendidikan , bantuan bencana dan juga ekonomi. 
Pemerintah, melalui Departemen Kesehatan pun banyak mengeluarkan kebijakan seperti adanya JAMKESMAS, JKN, dan jaminan perlindungan kesehatan lainnya untuk membantu masyarakat mendapat perlindungan kesehatan yang baik.

Dalam sistem pemerintahan, kesehatan bukan cuma tanggung jawab satu pihak karena dalam negara satu masalah saling terkait. Misalnya demam berdarah yang timbul akibat banjir dimana-mana. Perlu dikaji, apakah banjir berasal dari bencana alam, atau timbunan sampah karena perilaku masyarakat yang kurang bersih, atau tata kota yang perlu dibenahi. 

Kesehatan adalah nikmat yang paling istimewa dan besar yang telah allah SWT berikan kepada hamba-hambanya karena jika nikmat sehat telah di cabut oleh Allah SWT maka harta benda kita menjadi tidak bernilai. Dengan kesehatan kita dapat dengan mudah melakukan ibadah, bekerja serta memberikan kontribusi kepada Agama, keluarga dan masyarakat banyak, sebab itu sudah seharusnya kita mensyukuri dengan selalu meningkatkan kualitas ibadah setiap saat.

Terkait dengan ini Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa yang badannya sehat dan hidup aman di tengah masyarakatnya serta memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia seisinya telah diberikan kepadanya.” (Riwayat At-Tirmidzi). 
Sehat adalah nikmat terbesar setelah nikmat iman. Rasulullah SAW bersabda,”Mohonlah kepada Allah kesehatan ( keselamatan ). Sesungguhnya karunia yang lebih baik sesudah keimanan adalah kesehatan (keselamatan).( Riwayat Ibnu Majah Apalah artinya harta melimpah jika tubuh terbaring sakit, tak ada gunanya sebanyak apapun makanan terhidang, tak ada gunanya jabatan setinggi apapun jika tidak bisa dinikmati. Sungguh, sehat adalah harapan setiap manusia. Karena sehat adalah bekal kita hidup di bumi. Sehat bukan cuma dimaknai secara fisik namun juga psikis. Karena jiwa yang sehat akan menghasilkan pemikiran yang positif, tindakan yang baik, tidak dilarang agama dan tidak merugikan sesama. 

Pengobatan gratis. Gambar dari sini


Sehat seharusnya memang milik semua. Oleh karena itu pemerintah dan masyarakat perlu saling mendukung dalam mewujudkannya melalui sosialisasi gaya hidup sehat, lingkungan yang bersih, dan pelayanan kesehatan yang baik. Baik dalam arti pelayanan maupun fasilitas. Ada sehat ada sakit. Keduanya saling berpasangan. Sehat dan sakit adalah ketentuan dari Allah. Saat sakit datang, tentunya perlu usaha untuk mengobati. Namun bagaimana jika kaum miskin seperti ratna dan dhuafa yang lain mengalaminya serta tidak memiliki biaya untuk berobat? Jangan lagi ada istilah "orang miskin tak boleh sakit di negeri ini". Mari bergandengan tangan saling membantu karena kita semua perlu sehat. Salah satunya dengan mensosialisasikan gerakan hidup sehat yang bisa dilakukan melalui blog . Dengan jangkauan internet yang makin meluas, blog dapat menjadi sarana komunikasi dan juga informasi bagi masyarakat.

Selamat Hari Kesehatan Nasional
Semoga bukan sekedar seremonial tahunan, namun kesehatan masyarakat bisa diwujudkan di negeri ini.