Jamu, Menyingkap Sejarah Kesehatan Nenek Moyang Indonesia



Sangat menarik ketika saya membaca Serat Centhini versi Novel yang berjudul "Serat Centhini, Perjalanan Cinta 2". Dalam buku tersebut dikisahkan Tambangraras yang menderita kepedihan bathin selama satu tahun dua bulan karena ditinggal pergi suaminya, Syekh Amongraga, berniat move on, bangkit dari kesedihan dan kembali bersemangat menjalani kehidupan dan mencari suaminya. Tambang raras pun mandi dengan kembang leson, yaitu racikan jamu untuk mandi. Racikan ini terdiri dari berbagai obat-obatan herbal yang biasa di dapatlan di Jawa (aneka rempah-rempah, seperti kunir, jahe, cengkeh, jinten, pala, aneka dedaunan, aneka bunga dan lain sebagainya). Konon, aneka bahan itu mencapai seratus jenis lebih. Semua bahan di seduh dengan air hangat, kemudian dipakai untuk mandi, baik dengan cara biasa maupun berendam. Kembang eson biasanya dimanfaatkan oleh mereka yang habis menderita sakit, dengan alasan untuk menghilangkan sisa penyakit. Namun, yang pasti, mandi dengn ramuan ini, efek yang didapat adalah kesegaran dan bau yang wangi.

Serat Centhini, adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang memuat semua informasi tentang ilmu pengetahuan Jawa. Membacanya, kita bagai membuka ensiklopedi pengetahuan di tanah Jawa. erat Centhini merupakan kitab lainnya yang tersimpan di perpustakaan Keraton Surakarta. Buku ini dibuat oleh salah seorang putera Kanjeng Sinuhun Sunan Pakubuwono IV yang pada saat itu memerintah kerajaan Surakarta di periode 1788 – 1820 Masehi. Putera sang raja ini memerintahkan 3 bawahannya untuk mengumpulkan semua informasi ilmu pengetahuan tentang budaya Jawa yang berkaitan dengan aspek spiritual, bahan-bahan, ilmiah dan keagamaan. Hasilnya berupa laporan sebanyak 12 jilid dengan 725 stanza.Serat Centhini merupakan penjelasan terbaik tentang pengobatan penyakit di jaman Jawa kuno, di mana selalu digunakan obat-obatan yang berasal dari alam dan kebanyakan di antaranya mudah diberikan  

Selain serat Centhini, ada juga Serat Kawruh Bab Jampi-Jampi. Ini merupakan satu di antara dua catatan yang tersimpan di perpustakaan Keraton Surakarta. Serat Kawruh Bab Jampi-Jampi bisa jadi merupakan informasi yang paling sistimatis tentang jamu. Di kitab ini tercatat 1.734 resep jamu yang terbuat dari herba alami berikut rekomendasi penggunaan dan dosisnya.

Di perpustakaan keraton Surakarta juga terdapat banyak manuskrip atau primbon yang dikumpulkan dalam lebih dari 2.100 catatan – yang ada di antaranya bertanggal tahun 1720 M – tersimpan di Perpustakaan Keraton Surakarta. Catatan ini menggambarkan banyak hal dan tertulis di atas 700.000 lembar kertas. Disamping 4 bagian yang berisi catatan khasiat herba, ramuan dan dosis, primbon juga mengandung dokumen sejarah yang berkaitan dengan politik, catatan pengadilan, ramalan-ramalan, puisi, catatan-catatan moralitas, budaya dan lain-lain.
Indonesia juga memiliki Usada, Usada merupakan kumpulan tulisan yang berkaitan dengan praktek pengobatan. Walaupun tanggal dan tahun catatan-catatannya belum jelas, namun isinya tetap mengandung nilai yang tinggi bagi pengetahuan pengobatan alami menggunakan obat-obat herba alami. Dalam banyak kasus, Usada digunakan sebagai referensi untuk pengobatan tradisional dalam masyarakat Jawa.
Kata jamu pertama kali muncul pada abad 15-16 Masehi dari kata djampi yang berarti doa dan oesodo yang berarti kesehatan. Sedangkan peracik jamu disebut acaraki.
Dalam masyarakat tradisi, seorang acaraki harus berdoa dulu sebelum membuat jamu. Ia juga harus melakukan meditasi serta berpuasa untuk dapat merasakan energi positif yang bermanfaat bagi kesehatan. Ritual ini diperlukan karena bagaimanapun juga masyarakat Jawa kuno percaya bahwa Tuhanlah sang penyembuh utama.
Selain dari sumber tertulis,  sejarah jamu juga dapat kita lihat di Candi Borobudur yang termashur di bangun oleh kerajaan Syailendra di tahun 800 – 900 Masehi didekat Yogyakarta Jawa Tengah. Beberapa relief pada candi ini menggambarkan pohon Kalpataru – sebuah pohon mitoligis yang kekal abadi – di mana daun-daunnya dan bahan-bahan lain sedang digiling  untuk membuat obat herba bagi perawatan kesehatan dan kecantikan wanita.
Dari berbagai manuskrip dan catatan sejarah ini, jamu erat sekali dengan sejarah kesehatan leluhur kita, nenek moyang bangsa Indonesia. Sehingga pantaslah jamu menjadi warisan budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan. 


Dari jaman Sultan Agung, setiap lapisan masyarakat memahami filosofi jamu, bahkan hingga tukang jamu gendong. Tukan jamu gendong selalu membawa delapan jenis jamu yang melambangkan delapan arah mata angin sekaligus lambang surya Majapahit, Wilwatikta. Delapan jenis jamu tersebut adalah kunyit asam, beras kencur, cabe puyang, pahitan, kunci suruh, kudu laos, uyup-uyup/ gepyokan dan sinom.
Urutan meminum jamu yang ideal dimulai dari manis-asam, sedikit pedas-hangat, pedas, pahit, tawar, hingga manis kembali, sesuai dengan siklus kehidupan manusia. Kunyit asam yang manis-asam merupakan simbol kehidupan yang manis ketika bayi hingga pra remaja yang mulai merasakan kehidupan yang sebenarnya.
Beras kencur melambangkan masa remaja dimana manusia mulai memiliki sikap egoisme dan baru sedikit mencicipi kehidupan yang sebenarnya. Hal ini dilambangkan dengan rasa sedikit pedas. Fase selanjutnya dilambangkan dengan Cabe Puyang yang pedas-pahit seperti kehidupan manusia di usia 19-21 tahun yang mulai labil.
Pahitan melambangkan fase kehidupan selanjutnya yang meskipun pahit, harus tetap ditelan atau dijalani. Kemudian kehidupan akan menjadi landai sebagai resolusi hidup. Hal ini dilambangkan dengan tepat oleh jamu Kunci Suruh. Kunci merupakan sebuah bumbu penyedap makanan, sedangkan suruh memiliki banyak khasiat dan penyembuh berbagai macam penyakit. Jadi dapat dilambangkan bahwa kesuksesan hidup kita saat itu didasarkan pada apa yang kita pelajari sejak kecil.
Fase selanjutnya dilambangkan dengan jamu Kudu Laos yang merupakan jamu penghangat. Hal ini melambangkan siklus kehidupan ketika manusia harus mampu menjadi penghangat dan pengayom bagi orang di sekelilingnya. Fase selanjutnya bersifat penetral dan rehabilitatif dan menunjukkan pengabdian diri seutuhnya dan kepasrahan tulus seorang hamba kepada Tuhannya. Hal ini dilambangkan oleh uyup-uyup/gepyokan.
Yang terakhir adalah sinom yang dapat diartikan sirep tanpa nampa. Dalam Bahasa Indonesia hal ini bisa bermakna diam (tidur/meninggal/moksa) dengan tidak meminta apa-apa. Rasa manis jamu ini melambangkan bahwa jika manusia di awal dilahirkan dengan fitrah, maka harus kembali kepada Tuhan dengan keadaan fitrah juga.
Kebiasaan keluarga kami mengkonsumsi jamu bermula dari Bapak. Sejak kecil bapak tebiasa berolahraga dan mengkonsumsi jamu pahitan. Atau biasa disebut juga jamu godhokan. Bisa dibeli di toko yang menjual jamu tradisional dan aneka rempah-rempah. Jamu godhokan ini berupa beberapa macam daun kering yang berkhasiat. Sesampainya di rumah, jamu ini di godhok (direbus) lalu diminum. Bapak biasanya memberi kami gula merah sebagai penawar rasa pahit. Alhamdulillah, di usia beliau yang menjelang tujuh puluh tahun, bapak masih tampak bugar. Pertolongan Allah dan gaya hidup sehat beliau yang terbiasa mengkonsumsi jamu sejak muda. Jangan rasakan pahitnya, nanti terasa manfaatnya. Begitu pesan bapak.

Terbiasa melihat orang tua yang mengkonsumsi jamu, menyimpan stok jamu kering di rumah membuat saya ikut terbiasa minum jamu. Sejak remaja ibu menyuruh saya untuk membiasakan diri minum kunyit asam, selain untuk meredakan nyeri haid, kunyit asam juga baik untuk kesehatan perempuan. Kebiasaan ini berhenti saat saya hamil anak pertama. Katanya sih, orang hamil dilarang mengkonsumsi jamu. Kebiasaan minum jamu berlanjut saat melahirkan. Simbah dukun bayi memberi jamu tapel/pilis untuk ditempelkan di kening. Fungsinya meredakan sakit kepala karena kurang tidur/begadang mengurus si kecil. Selain jamu tapel saya juga minum jamu uyup-uyup untuk memperlancar ASI. Dan alhamdulillah, ASI saya bisa keluar dengan deras, bahkan putri kami, Himda, bisa lulus ASI selama 2 tahun tanpa minum sufor.Selepas melahirkan, selain di beri jamu tapel, jamu uyup-uyup saya juga diberi resep tradisional untuk merampingkan perut berupa campuran kapur sirih, jeruk nipis, dan minyak kayu putih yang dibalurkan ke sekitar perut lalu ditutup/dikencangkan dengan gurita dan stagen. Jika rajin diamalkan selepas melahirkan, apalagi selama 40 hari pertama, perutpun bisa kembali ramping.

Saya kembali merasakan manfaat kunyit saat terkena typus, ibu tak lelah membuatkan saya jamu dari perasan empu kunyit di campur madu yang bermanfaat untuk memulihkan kondisi lambung. Kunyit yang memiliki khasiat melancarkan peredaran darah dan energi vital, menhilangkan sumbatan, antioksidan, anti radang (anti inflamasi), meredakan nyeri (analgesik), anti bakteri, meningkatkan produksi empedu (koleretik) dan mempercepat penyembuhan luka memang cocok untuk solusi berbagai penyakit. Empu kunyit ini merupakan umbi induk yang banyak memiliki khasiat untuk kesehatan sekaligus bisa ditanam kembali sebagai bibit. Dibanding rimpang kunyit yang bercabang, empu kunyit berwarna lebih kemerahan dan perasannya pun lebih kental. Selain kaya manfaat, kunyit juga mudah dibudidayakann dan harganyapun relatif murah.

Setelah putra pertama kami lahir, Isya, sebagai ibu saya ingin memperkenalkan obat herbal sebagai salah satu solusi saat ia sakit. Anak-anak masih rentan penyakit. Batuk adalah sakit yang pertama kali Isya alami. Panik banget waktu melihat ASI keluar dari mulutnya, menggenangi seisi kasur. Untungnya ibu menenangkan saya, dan menyarankan memberinya perasan kencur dan madu. Rasanya getir tapi hangat di tenggorokan. Reaksi jamu memang agak lambat namun relatif lebih aman bagi tubuh apalagi tubuh anak-anak yang masih sensitif. Tentu kami tak alergi dokter. Ada kalanya perlu dokter adakalanya perlu jamu. Pada usia setahun, Isya menjalani operasi Hernia. Selepas operasi, kami berusaha memberinya jamu dan madu agar daya tahan tubuhnya lebih kuat. Dan alhamdulillah, kini di usianya ke 4 tahun, ia terbiasa minum jamu. Favoritnya, jamu beras kencur. Saat daya tahan tubuhnya menurun, saya membuatkan jamu yang terbuat dari rebusan kunyit, jahe, kencur dan temulawak. Diminum dengan madu atau sedikit gula agar terasa manis. Alhamdulillah, saat terkena cacar, kami bisa merawatnya di rumah dengan memberinya jamu rebusan tadi. Dan mengoleskan campuran asem jawa, kunyit dan minyak kelapa yang dipanaskan pada kulit yang terkena cacar. Alhamdulillah seminggu kemudian ia sembuh. Kisah ini juga saya tulis disini. Jamu juga mengajarkan saya arti kesabaran. Tidak mudah panik saat anak sakit, dan bersabar saat meminumkan jamu pada anak sembari memohon pada Allah untuk kesembuhannya. Saat itu, saya mencari referensi jamu dan obat tradisional dari buku dan artikel pakar herbal Prof. Hembing Wijayakusuma.

Lain anak lain cerita. Jika Isya terbiasa mengkonsumsi jamu sejak kecil, Himda baru beberapa bulan ini mengenal jamu. Mendapat full ASI 2 tahun membuat badannya sehat dan alhamdulillah tidak menderita sakit, tidak mengkonsumsi obat dokter dan sufor selama 2 tahun. Tapi begitu disapih, daya tahan tubuhnya menurun dan terkena diare. Entah pencernaannya yang sedang berkenalan dengan sufor atau memang terkena infeksi dari luar, pastinya diare dan muntah membuat badannya menyusut. Sebelum mengambil opsi ke dokter, saya mencoba memberinya rebusan daun jambu dan di beri madu saat akan diminum. Alhamdulillah esoknya diarenya sembuh. Memang masih muntah, namun bertahap sedikit-demi sedikit alhamdulillh 3 hari kemudian Himda sudah ceria kembali. Mengurus 2 balita membuat saya mengenal jamu cabe lempuyang, untuk mengobati pegal linu dan kelelahan. Kini di dapur kami wajib ada jahe, kunyit, kencur, temulawak, cengkeh, kayu manis dan jinten. Selain untuk jamu jika sewaktu-waktu dibutuhkan, aneka rempah ini juga maknyus untuk bumbu masak.
Jamu seolah mengandung filosofi akan kesehatan dan kesabaran. Saat sakit, kita ingin segera sembuh, ingin beraktivitas seperti sedia kala, ingin obat yang segera menyembuhkan kita. Namun obat apapun bukanlah sulap yang simlalabim, kita langsung sembuh. Sakit adalah nikmat dari Allah dan jamu memberi kita ilmu tentang kesabaran, sedikit demi sedikit badan kembali pulih. Meski pahit terasa, namun jangka panjang manfaatnya. Belajar dari cara menjaga kesehatan nenek moyang Indonesia di masa lalu, dimana alam menyediakan kebutuhan manusia sehingga manusia harus terus menjaga kelestarian alam agar tetap terjaga.

Dalam Serat Centhini di ceritakan bahwa masyarakat pada jaman tersebut terbiasa minum minuman hangat seperti air tebu, teh, kopi wedang bunga srigading, minuman blimbing wuluh, minuman bunga tempayang, minuman bunga sridenta, wedang jahe, wedang daun kemadhuh, wedang temulawak. Saya sendiri baru pernah mendengar minuman tersebut kecuali wedang jahe dan wedang temulawak yang memang masih familiar dan banyak dijual dari angkringan sampe swalayan.

Saat search tentang wedang bunga srigading, minuman yang terkenal berkat Serat Centhini ini ternyata memiliki banyak khasiat. Biji, bunga, dan daun mengandung bahan-bahan pemicu imunitas, pelindung hati, anticacing, antivirus dan antijamur.  Daunnya dipakai dalam pengobatan Ayurweda, pengobatan tradisional di India. Meski saat itu belum ada laboratorium atau riset, Tuhan dan alam mengajarkan nenek moyang kita obat-obatan dari lingkungan sekitar dan cara mengolahnya.



bunga Srigading. sumber

Bagaimana dengan minuman bunga tempayang?  Ternyata bunga tempayang merupakan tanaman herbal yang berkhasiat menurunkan demam, mengobati sembelit dan panas dalam. Saya juga baru pernah dengar. Dan kita bisa menemukannya di kios obat tradisional. Bentuknya seperti buah yang dikeringkan.

bunga Tempayang. sumber

Indonesia adalah salah satu laboratoriun tanaman obat terbesar di dunia. Sekitar 80 persen herbal dunia tumbuh di negeri ini. Indonesia memiliki sekitar 35 ribu jenis tumbuhan tingkat tinggi, 3.500 di antaranya dilaporkan sebagai tumbuhan obat. Namun dalam prakteknya, di sekitar kita banyak dtemukan cabang-cabang klinik pengobatan tradisional dari luar negeri, sebaliknya banyak juga masyarakat Indonesia yang merasa cocok berobat atau memilih pengobatan yang berasal dari negara lain. Apa yang salah dengan jamu kita?
1. Kurang Promosi
Temu lawak memiliki hasil lebih baik daripada ginseng. Namun promosi herbal ginseng lebih kuat dari temu lawak. Selain itu, jamu masih identik dengan minuman tradisional yang kuno. Promosi jamu juga tidak segencar promosi herbal asing di berbagai media baik cetak maupun elekstronik. Salah satu solusinya, terus berinovasi dengan produk jamu, seperti ice cream jamu, pudding jamu, membuat kafe jamu sebagaimana yang dilakukan Uwi Mathovani-co-owner kedai Suwe Ora jamu. Dimana jamu bisa diolah dengan berbagai sajian dengan nuansa kafe yang modern.


2. Perlunya Saintifikasi jamu
Saat ini, Pemerintah baru mengembangkan 100 jenis tanaman jamu dari 900 jenis tanaman yang ada di Indonesia. Selain itu menurut Menkes, hingga tahun 2012  baru 20 persen etnis (bahan jamu) yang dikaji, yaitu 221 dari 1.068 etnis yang ada di Indonesia. Kita perlu Saintifikasi Jamu yakni penelitian berbasis pelayanan untuk mendapatkan bukti ilmiah kemanfaatan dan keamanan sehingga dapat diintegrasikan dalam pelayanan kesehatan formal,serta adanya Pusat Rempah dan Jamu Indonesia, Museum Jamu Indonesia, Festival Jamu Indonesia dan juga seminar-seminar mengenai jamu agar masyarakat akan lebih mengenal rempah dan jamu Indonesia. Pemerintah juga perlu menguatkan potensi jamu dengan mempatenkan jamu asli Indonesia dan mengurangi investasi asing di bidang farmasi dan obat-obatan agar potensi jamu serta herbal asli Indonesia menjadi kuat, bermanfaat untuk masyarakat dan bisa dieskpor ke luar negeri. Sayang kan, jamu yang dipertahankan dengan berbagai upaya bisa terancam di rumah sendiri karena serbuan  herbal asing yang belum tentu aman untuk kesehatan.
3. Perlu edukasi ke masyarakat
Promosi jamu kemasyarakat bukan sekedar sebagai solusi pengobatan alternatif, tetapi juga kelebihan, kekurangan, komposisi bahan yang terkandung di dalamnya, termasuk legalitas suatu produk merupakan langkah penting yang harus diperhatikan. Produk jamu yang sudah terdaftar dalam pengawasan BPOM biasanya memiliki nomor TR dan nomor MD untuk suplemen lokal atau ML untuk import. Sebagai konsumen kita juga harus hati-hati apakah jamu tercampur dengan obat kimia atau bahan-bahan dari hewan yang belum tentu aman dan jelas kehalalannya. Jamu ilegal sangat merugikan kesehatan masyarakat juga industri jamu Indonesia. Dari data tahun 2013, peredaran jamu ilegal di Indonesia bernilai Rp 2 triliun. Diperkirakan untuk tahun 2014 jumlahnya tidak jauh berbeda dari tahun 2013 tersebut. Perlu sanksi yang tegas terhadap produsen jamu ilegal agar tidak merusak nama baik jamu dan produsen/pedagang jamu legal.
 

4. Perlu  Regenerasi
Konsumsi jamu umumnya karena turun-temurun dari orang tua kita. Agar ilmu pengetahuan tentang jamu tidak punah dan seperti negara China yang pengobatan tradisionalnya maju karena dukungan pemerintah, Jamu juga penting dimasukkan dalam mata kuliah agar dapat bersinergi dengan ilmu kesehatan barat. Saat ini sudah ada beberapa universitas di Indonesia yang tertarik mengembangkan jamu. Misalnya, Universitas Airlangga Surabaya akan membuka program sarjana ilmu tradisional yang banyak mempelajari jamu. Selain itu jamu juga bisa dipelajari di Jurusan DIII Jamu Poltekkes Solo. Semoga universitas lain di Indonesia bisa menyusul sehingga lebih banyak masyarakat Indonesia yang mempelajari tentang jamu.
5. Memasyarakatkan kembali TOGA (Tanaman Obat Keluarga)
Bukan hanya tanaman hias yang bisa mempercantik halaman rumah kita. Meski lahan pekarangan terbatas, kita bisa memanfaatkannya untuk menanam tanaman obat yang berkhasiat, lidah buaya, kunyit, sirih merah, seledri, kumis kucing, pepaya, jambu, jeruk nipis dan lain-lain. TOGA bisa ditanam di pot, polybag atau kaleng bekas. Halaman pekarangan asri, kitapun bisa memanfaatkannya sewaktu-waktu. TOGA juga bisa dibudidayakan di halaman kantor, instansi atau sekolah untuk mengenalkan siswa pada tanaman obat yang berkhasiat. Sebagaimana batik yang mulai masuk ke berbagai kalangan, instansi dan sekolah, kita juga perlu membuat "hari jamu". Misalnya satu hari dalam seminggu  kita bisa mengkonsumsi jamu yang bervariasi tiap minggunya. Menjaga kesehatan, membudidayakan tanaman obat herbal Indonesia sekaligus memberdayakan usaha jamu.



Saat ini jamu bisa dikonsumsi tidak hanya berupa minuman, namun juga berupa jamu instan dalam kemasan dan juga kaplet. Untuk menjamin keamanan dan kualitasnya BPOM menggolongkan obat tradisional Indonesia menjadi 3 golongan yaitu:


1. Jamu adalah ramuan dari bahan bahan herbal alami yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
2. Obat Herbal terstandar
Obat herbal terstandar adalah sama dengan jamu hanya saja telah dibuktikan keamanannya dan khasiatnya secara ilmiah dengan ujian praklinis.
3. Fitofarmaka
Fitofarmaka sedikit lebih maju dari hobat herbal terstandar dengan dibuktikan berupa penggunaan hewan percobaan ada obat ini dan tentu juga telah melalui uji klinis pada manusia disamping itu bahan baku dan produknya telah distandarisasi.


Di Indonesia kita juga memiliki Biofarmaka IPB sebagai pusat penelitian tanaman obat yang telah menghasilkan produk -produk penelitian yang berupa obat-obatan herbal yang dapat dimanfaatkan baik untuk manusia maupun hewan. Sudah sekitar 144 jenis tanaman obat yang sudah dimanfaatkan seperti brotowali, samiloto, sedagori, seledri dan lain-lain.  Produk obat-obatan herbal biofarmaka juga sudah menjadi  produk unggulan hasil penelitian. Produknya dibuat dalam bentuk ekstrak, kapsul,suplemen dan permen seperti Nuratik yaitu berupa kapsul untuk asam urat, biolangsing, gano instan,Biogra untuk meningkatkan vitalitas dan lumricap untuk jantung selain itu untuk produk permennya adalah : permen minyak kayu putih untuk masuk angin, permen jahe dan permen temulawak untuk nafsu makan. Cocok sekali untuk mengenalkan anak pada jamu dengan cara yang manis.
Produk-produk Biofarmaka IPB dapat dengan mudah diperoleh  di Botani square, Al-amin, Agrimart  dan Kios Herbal Taman Kencana dan responnya sudah sampai ke Kalimantan dan Sulawesi.
Jamu, tidak hanya dimanfaatkan untuk kesehatan tetapi juga kecantikan. Ada jamu yang diminum, dibalurkan (misalnya lulur), dioleskan (seperti pada cacar yang dialami anak saya) dan juga untuk mandi (misalnya kembang leson yang digunakan setelah sembuh dari penyakit). Alangkah baiknya jika jamu dikembangkan menjadi pengobatan yang menyeluruh, dimana pasien bisa meminum jamu setelah sebelumnya berdoa memohon kesembuhan pada Tuhan, menikmati lulur rempah sembari menikmati tembang macapat yang kini makin jarang terdengar, lalu mandi kembang leson untuk menyegarkan badan lalu mengkonsumsi jamu secara teratur untuk menjaga kesehatan. Adakalanya kita tidak disarankan mengkonsumsi jamu tertentu misalnya saat hamil, hal ini bisa kita konsultasikan dengan dokter atau tenaga medis.
Dengan perhatian pemerintah pada jamu serta informasi tentang jamu yang aman pada masyarakat semoga bisa membawa jamu menjadi minuman yang bergengsi sebagaimana pada jaman majapahit. Jamu, mengingatkan kita pada sejarah kesehatan nenek moyang yang hidupnya menyatu dengan alam, selalu menyertakan Tuhan pada setiap perbuatan serta menghargai arti pentingnya kesehatan dan kehidupan.




Sumber Referensi:
http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal\
http://jamuherbaindonesia.blogspot.com/2013/12/catatan-sejarah-jamu-indonesia.html
http://seratcenthini.wordpress.com/2009/11/20/kuliner-tempo-dulu-versi-serat-centhini/
http://id.wikipedia.org/wiki/Srigading
http://gairahksa.blogspot.com/2011/08/daftar-tumbuhan-herbal-1-adem-ati.html
http://eagerema.blogspot.com/2012/06/bunga-tempayang.html
http://portalunique.blogspot.com/2012/12/4-negara-herbal-di-dunia.html
http://www.tribunnews.com/bisnis/2012/09/18/kurang-promosi-temu-lawak-kalah-pamor-dari-ginseng
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/kesehatan/10/10/16/140517-investasi-asing-ancam-industri-farmasi-nasional
http://www.vemale.com/ragam/69243-filosofi-jamu-indonesiaku-3.html
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/08/26/182920026/Jamu.Ilegal.Marak.BPOM.Diminta.Blusukan.ke.Pasar
http://www.tempo.co/read/news/2013/01/31/079458294/Pengobatan-Jamu-Diusulkan-Menjadi-Mata-Kuliah
http://sehateasy.com/penggolongan-khasiat-obat-tradisional-herbal-indonesia/

Komentar

  1. aku baru tahu tentang serat centhini itu, mak. kalo jamunya aku sering minum, lebih alami dibanding makan obat dari dokter.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku baca versi novelnya dan ulasannya dr beberapa sumber. lengkap banget spt ensiklopedi jawa gitu Ila.
      iya jamu lebih alami dan skrg banyak yg kemasan jd lebih praktis ..makasih ya Ila :)

      Hapus
  2. Aku juga sukaaaa jamu. Kalo badan pegel2, cukup minum jamu plus madu aja dah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kalo badan pegel2 bisa minum jamu cape lempunyang lalu istirahat :)
      terimakasih kunjungannya :)

      Hapus
  3. huwa komplit ya mak, saya juga suka jamu hidup jamu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, saya juga suka artikel jamu nya mak dame..ulasannya juga lengkap banget.
      yeay mari minum jamu :)

      Hapus
  4. Wah....cerita tentang jamu ternyata sudah ada sejak jaman dulu ya dan tertuang dalam serat centhini... Memang benar sekali ya Mak bahwa jamu adalah warisan kuiner dan budaya nusantara... Terbukti sejak jaman dulu hingga kini, baik muda maupun tua semua pernah ngerasain deh cita rasa jamu... Bahkan produk jamu kini sudah meluas sampai ke manca negara ... Ini menandakan bahwa industri jamu sangat menjanjikan... Aku sendiri mengenal jamu sejak masih kecil... Awalnya ikut2an mama minum jamu gendong... Lalu ketika menginjak remaja aku dibelikan jamu kemasaan buat gadis remaja... Itu lho yang iklannya dibintangi Chicha Koeswoyo... Hingga kini kecintaanku akan jamu tetap aku pertahankan... Hmapir tiap pagi aku minum jamu gendong yang berjualan di samping kantorku... Bila gak minum jamu gendong badan ini rasanya koq mudah sekali lesu, pegal2 dan masuk angin... Btw, selamat ngikutin kontes ya semoga sukses dan menjadi yang terpilih karyanya untuk menang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mak rita, saya juga terbiasa minum jamu, tapi begitu pindah ke wonosobo minumnya jamu instan karena gak ada tukang jamu disini. harus nyari di pasar. terimakasih kunjungannya mak :)

      Hapus
  5. Keren Mak ulasannya..:) sukses ya..semoga juara.....

    BalasHapus
  6. luar biasa ya orang jaman dulu bisa menciptakan sebuah produk jamu untuk atas penyakit, kita sebagai generasi penerus harus bisa melestarikan nya ;)

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  12. Salam,,
    Saya sedang cari info tapi ga nemu nemu,,ada yg tau wangkean?
    Terima kasih

    BalasHapus
  13. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus
  14. Cancer has become a modern epidemic and millions of people die each year from the disease.
    suksestoto

    BalasHapus
  15. halo mba, aku lagi Tugas Akhir tetang jamu. kira2 filosofi jamu itu ada di buku mana ya mbak? mohon informasinya, terima kasih. bisa email saya untuk menjelaskannya rocktaliza93@gmail.com terimakasih mbak.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 KEHAMILAN, 3 PENGALAMAN MENAKJUBKAN