Sekolah Kehidupan dari Bapak

Saat melihat dua anakku bermain dan bercanda dengan abi (suamiku), aku jadi ingat bapak. Bapak memang bukan tipe lelaki yang romantis dan humoris seperti suamiku. Bapak orang yang tegas, tapi bapak sangat sayang pada keluarga. Dulu, kami belum punya motor. Bapak memboncengkan aku kemana saja. Mengantar ke sekolah, ke dokter saat sakit, atau sekedar jalan-jalan. Saat aku beranjak remaja bapak bertanya,"apa kamu malu dibonceng bapak naik sepeda?"
Aku tak malu pak, aku senang bapak menyayangiku.

Bapak juga hobi jalan kaki. Kakiku sampai sakit jika ikut jalan kaki dengan bapak. Saat kami kecil, kemana-mana harus naik angkot atau bis lalu disambung jalan kaki. Saat jalan-jalan, kami sering bercerita banyak hal. Dan lagi-lagi bapak bertanya,"kamu kan sudah besar, apa gak malu jalan-jalan dengan bapak?"
Ugh, bapak, apa bapak tau kenangan ini belum tentu terulang kembali. Saat ini aku lebih sering jalan-jalan dengan suami dan anak-anak. Kapan bisa jalan-jalan lagi dengan bapak? Apalagi sekarang sudah ada motor.

Dulu, bapak sering menyuruhku mencabuti rumput di halaman. Aku sampai cape kepanasan. Bapak juga sering menyuruhku membantu membersihkan ikan. Mengajari menangkap ikan hingga membersihkan sisiknya. Saat itu aku hanya bisa mengeluh dalam hati. Cape, tangan kotor, tak bisa main. Tapi subhanallah, lihatlah pak. Sekarang aku sedang mengajari anakku berkebun, karena bapak mengajariku terbiasa merawat tanaman. Suamiku sangat menggemari masakan ikan, dan aku tak jijik membersihkan hingga mengolahnya menjadi sajian lezat untuk keluargaku.

Bapak penggemar berat buku, dan sering membawakanku buku. Sekarang, aku melakukannya pada anakku. Bapak dan ibu mengajari sholat, doa-doa, mensupport saat aku masuk pesantren, mendukung saat aku kuliah di luar kota, meski kondisi keuangan pas-pasan. Bapak dan ibu selalu mendorong kami untuk maju.

Disadari atau tidak, bapak telah banyak mengajarkan nilai-nilai kehidupan untukku. Bapak pernah bilang, sekolah kehidupan yaitu akhlak akan dipakai seumur hidup. Bapak yang tegas, tapi sayang keluarga. Bapak yang perfeksionis, dulu kami menganggap bapak galak tenyata rumah menjadi tertata dan rapi. Bapak dan ibu memang saling melengkapi. Bapak bilang,"bapak dan ibu ada kekurangannya, ambillah yang baik, tirulah yang baik dan tinggalkan yang buruk."

Aku sayang bapak, dan tak pernah menyesal menjadi anak bapak.


  "Artikel ini disertakan dalam Semut Pelari Give Away Time, Kenangan paling berkesan dengan papa"

Komentar

  1. Biasanya memang yang tegas itu yang penyayang sebenarnya ya mba :)

    Terima Kasih partisipasinya ya mba di GA Semut Pelari ;)

    BalasHapus
  2. iya pak, dulu kita menganggap bapak galak, tp memang beliau tegas.

    sama sama, smg sukses GA nya pak :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 KEHAMILAN, 3 PENGALAMAN MENAKJUBKAN

Jamu, Menyingkap Sejarah Kesehatan Nenek Moyang Indonesia