Pengalaman Cooking Class dI Mute Area

Selama bersekolah di PAUD,  sekolah Navid membuat 2 kali acara outing class, diantaranya cooking class yang acaranya di dalam kota pada semester pertama dan piknik luar kota di semester kedua.

Di semester pertama ini, Navid, teman-teman sekelas, bunda Susi dan Bunda Riza serta wali murid mengadakan acara cooking class, sekolah memilih Mute Area sebagai lokasinya. Kegiatan ini diikuti guru, orang tua murid, dan siswa-siswi  PAUD.. Cooking class ini sendiri bertujuan merealisasikan kegiatan belajar dan bermain yang sudah disampaikan oleh guru  dalam pembelajaran di semester satu, selain itu untuk mengasah ketrampilan  fisik dan motorik, kognitif, bahasa dan sosial emosional serta kemandirian  pada anak di usia dini.

Awalnya saya belum tahu lokasi Mute Area, bahkan baru mendengar namanya. Menurut Mba Echa, manager di Mute Area, restoran ini memang belum lama dibuka baru sekitar setahun yang lalu.

Mute Area  tidak hanya menyediakan makanan yang nikmat untuk menemani kita ngopi sambil kumpul bareng teman atau keluarga namun juga menyediakan salon dan spa. Dan yang istimewa semua pekerjanya kaum tuli dewasa (tuna rungu). Di sini selain menyediakan cooking class juga membuka wisata edukasi  tentang belajar tanaman hidroponik,  Tapi kami mengambil cooking class saja. .

Begitu turun dari kendaraan, anak-anak langsung berlarian masuk ke halaman Mute Area. Lokasinya berada di tepi jalan utama sehingga harus didampingi orang tua. Mba Echa langsung menyambut kami, dan anak-anak langsung  memilih tempat duduk dan memakai celemek anak yang telah disediakan. Namun acara belum mulai, kami masih menunggu Mas Wawan yang akan mendampingi anak-anak belajar.

Tidak  perlu lama menunggu, Mas Wawan pun datang dan bersama Mba Echa menyapa anak-anak dengan riang, bernyanyi bersama lalu belajar bahasa isyarat. Yup, Mas Wawan adalah salah satu tunarungu yang bekerja di Mute Area, anak-anak belajar bahasa isyarat tentang huruf A hingga Z, lalu ucapan selamat, seperti terima kasih dan sampai jumpa. Wah, ibu-ibu juga ikut belajar nih.


                        

Setelah belajar bersama Mas Wawan, anak-anak menuju ke dapur untuk membuat burger. Mereka bebas memilih burger warna-warni yang disukai. Navid memilih roti burger dengan warna merah, lalu menyerahkan roti ke ibu koki untuk dipanggang,  setelah itu dibantu Mas Wawan, mereka mengoles roti dengan mentega lalu meletakkan berbagai isian seperti daging, tomat, selada, mayonaise dan saos. Setelah selesai anak-anak kembali ke tempat duduk untuk makan bersama.

Sambil menunggu anak-anak makan, ibu-ibu juga bisa sekalian memesan aneka kudapan atau dessert. Restoran ini cukup luas, nyaman banget jika digunakan untuk acara rame-rame, dan tentunya ada spot foto untuk selfie-selfie dan ada lantai atas untuk salon.

Cooking class sendiri bertujuan mengenalkan profesi koki pada anak. Selain itu di Mute Area anak-anak juga mengenal tentang kaum difabel yang ada di sekitar mereka. Hal ini bermanfaat untuk mengajarkan toleransi dan saling menghormati sejak dini.  Cooking class di Mute Area ini biayanya sangat terjangkau. Cukup R. 10.000/anak, anak-anak bisa belajar membuat burger, bahan-bahan telah disediakan dan dipinjamkan celemek. Cocok banget untuk acara-acara sekolah. Terima kasih Mba Echa, Mas Wawan, dan tim Mute Area.


Mute Area

Jl. Bismo No. 110

Sumberan Utara Wonosobo Timur

Wonosobo



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jamu, Menyingkap Sejarah Kesehatan Nenek Moyang Indonesia

Review Kosmetik Organik Aquila Herb: Day Cream, Gamat Cream, dan Sabun Sereh

GIZI SUPER CREAM, KOSMETIK ALAMI DAN HALAL UNTUK WAJAH AYU ALAMI