Menikmati Pagi di Pantai Kuta dan Monumen Bom Bali

Liburan adalah waktu yang menyenangkan dan selalu dinantikan oleh kebanyakan orang. Apalagi jika dihadapkan pada rutinitas harian yang monoton, liburan adalah waktu yang perlu diluangkan kendati terkendala singkatnya waktu dan padatnya aktivitas.

Beberapa waktu lalu, saya, si bungsu dan suami mengadakan perjalanan ke Bali.Setiap tempat di Bali sangat unik, indah dan sayang dilewatkan untuk tidak dijelajahi. Kami memilih hotel di Tuban, Bali yang tidak jauh dari bandara. Selain itu jarak dari tempat kami menginap ke Kuta ternyata tidak begitu jauh. Jadilah paginya kami memilih jalan-jalan di pantai Kuta yang hanya berjarak sekitar 5 Km atau 10 menit perjalanan dengan transportasi online.

Pantai Kuta, Kabupaten Badung, Bali



Pantai Kuta merupakan salah satu primadona wisata di Bali. Pantai ini telah menjadi objek wisata favorit sejak tahun 1970-an. Ombak di pantai ini sangat cocok untuk olahraga surfing. Dan di sepanjang pantai Kuta hingga pantai Legian banyak terdapat pertokoan, bar, hotel. Bahkan beberapa merk dunia juga tampak membuka gerai di Bali, mengingat Bali merupakan salah satu tempat wisata favorit di dunia




Sesampainya di pantai, suasana masih sepi. Jadilah kami sekedar main ombak sambil nungguin si bungsu bermain di pasir putih. Namun tetap tampak turis asing yang menikmati suasana pagi di pantai. Kami juga sempat bertemu saudara setanah air yang juga tengah berlibur di Bali. Saat itu ombakpun tenang dan tidak tampak peselancar (surfer) di pantai. Sebagai tempat wisata, pantai ini juga dilengkapi lahan parkir, kamar mandi umum, payung pantai, tempat penyewaan papan selancar dan kios-kios makanan dan minuman.


Monumen Bom Bali






Setelah puas bermain di pantai kami melanjutkan perjalanan ke Monumen Bom Bali yang berjarak sekitar 3 Km. Karena tidak terlalu jauh, kami  memilih berjalan kaki dari pantai Kuta melewati Jl. Poppies I lalu belok kiri menuju Jl. Legian sedangkan tempat yang kami tuju berada di ujung jalan. Sepanjang perjalanan kami melewati berbagai hotel, toko cinderamata, spa restoran, bar, dan pura. Kebanyakan di depan toko-toko terdapat sesaji yang di letakkan di tepi jalan maupun di altar. Hari masing pagi sehingga sebagian toko-toko yang kami lewati masih tutup. Jalan Legian ini memiliki aktivitas terpadat di daerah Kuta dan terkenal pula dengan kehidupan malamnya sehingga jalan ini tidak pernah sepi oleh pelancong dari dalam maupun luar negeri. Dan setelah sekitar 10 menit berjalan kami, sampai juga kami di sini, Monumen Bom Bali.


Paddy's Pub 




Aktivitas di Jl. Legian, di depan Monumen Bom Bali

Monumen in terletak di Jl. Legian Kaja no. 38 Kuta, Badung Bali. Pada 12 Oktober 2002 terjadi peristiwa yang mengguncang Indonesia dan dunia yang kemudian disebut peristiwa Bom Bali I. Pada malam itu terjadi dua ledakan pertama terjadi di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jl. Legian, Kuta, Bali. dan ledakan terakhir di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat. Paddy's Pub sendiri adalah tempat hiburan malam yang populer saat itu dan  pada saat kejadian tengah dipadati oleh pengunjung.  Pada peristiwa Bom Bali I ini tercatat 202 korban jiwa dan 209 cedera. Kebanyakan korban merupakan turis mancanegarayang tengah berkunjung ke Bali. Peristiwa ini dianggap terorisme terparah dalam sejarah Indonesia. Bom Bali I ini terjadi 1 tahun, 1 bulan, dan 1 hari setelah Serangan 11 September 2001 ke menara WTC, Amerika Serikat.

Monumen Bom Bali ini dibangun atas gagasan Nyoman Rudana, dan selesai dibangun pada 2003 setahun setelah terjadi pengeboman  dan diberi nama Monumen Panca Benua, Monumen ini juga dikenal dengan Ground Zero dan pada 12 Oktober 2004 di resmikan oleh bupati Badung saat itu yaitu Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi, S.H dan diberi nama Monumen Tragedi Kemanusiaan Peledakan Bom 12 Oktober 2002 atau yang lebih terkenal dengan sebutan Monumen Bom Bali. Monumen ini sangat strategis di tengah persimpangan jalan yang padat dengan pertokoan di setiap sisinya. Monumen ini menjadi menjadi mengingakan kita bahwa sebuah pemikiran yang keliru dapat menjadi bencana yang merugikan banyak orang. Monumen ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Bali  mencoba bangkit dan kembali bersinar sebagai tempat wisata favorit di Indonesia.Monumen ini dibuat oleh I wayan Gomudha terdiri dari altar sebagai tempat meletakkan sesaji bunga sebagai wujud penghormatan, nama-nama korban yang tertulis dalam prasasti, dan air mancur sebagai simbol Kuta, dimana banyak orang menggantungkan hidup baik masyarakat lokal maupun mancanegara.


Peringatan peristima bom Bali ini rutin diadakan setiap 12 Oktober yang biasanya akan dihadiri berbagai negara, perwakilan negara maupun keluarga korban untuk mengenang, meletakkan bunga dan berdoa untuk para korban. Saat ini monumen ini juga menjadi tujuan wisata yang terkenal di Kuta

Monumen ini juga mengingatkan kita bahwa kekerasan bukanlah cara yang tepat untuk memperoleh suatu tujuan, selain itu kapanpun dan dimanapun berada kita harus selalu waspada dan menjadikan Tuhan sebagai pelindung dan penolong yang utama.

Komentar

  1. bali selalu ngangenin ya, sudah 4 kali ke sana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, ini malah pertama kali saya kesana 😊

      Hapus
  2. wah ini nikmat banget sih liatnya.. asik

    BalasHapus
  3. Saya gak pernah bosen ke Bali. Dan kalau ke sana wajib banget mampir ke pantai kuta buat liat sunset. Berasa kurang lengkap kalau gak mampir :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, pantai Kuta jadi icon wisata. Ga seru kalau ga ke sana :)

      Hapus
  4. waaahhh kangen pantai Kuta, dulu kami ke Bali, sampai 2 kali ke pantai Kuta, asyik banget sih, meski panas banget, tapi ngangenin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kami kesana pas pagi jadi udaranya belum panas :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jamu, Menyingkap Sejarah Kesehatan Nenek Moyang Indonesia

Resep dan Cara Memasak Ikan Pari Goreng Gurih Tanpa Bau

Review Kosmetik Organik Aquila Herb: Day Cream, Gamat Cream, dan Sabun Sereh