Menjelajah Pesona Cirebon

Assalamualaikum.

 Batik Cirebon dengan motif udang (dokpri)

Cirebon dikenal juga dengan sebutan Kota Udang. dikarenakan sejak awal mata pecaharian sebagian besar masyarakat adalah nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai, serta pembuatan terasi, petis dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi atau yang dalam bahasa Cirebon disebut (belendrang) yang terbuat dari sisa pengolahan udang rebon inilah berkembang sebutan cai-rebon (bahasa sunda : air rebon), yang kemudian menjadi cirebon. Adapula yang menyebut Cirebon berasal dari kata sarumban, Cirebon adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Lama-kelamaan Cirebon berkembang menjadi sebuah desa yang ramai yang kemudian diberi nama Caruban (carub dalam bahasa Cirebon artinya bersatu padu). Diberi nama demikian karena di sana bercampur para pendatang dari beraneka bangsa diantaranya Sunda, Jawa, Tionghoa, dan unsur-unsur budaya bangsa Arab), agama, bahasa, dan adat istiadat. kemudian pelafalan kata caruban berubah lagi menjadi carbon dan kemudian cerbon. Posisi Cirebon yang berada di pantura sangatlah strategis karena menghubungkan kota besar Jakarta-Semarang-Surabaya.

Kota Cirebon merupakan salah satu tujuan wisata di Jawa Barat. Kota ini kaya akan wisata sejarah, ziarah, seni, budaya dan kuliner. Di Cirebon terdapat makam Sunan Gunung Jati, salah satu dari Walisongo, sehingga Kota Cirebon dikenal juga dengan sebutan Kota Wali. Jika mengunjungi Cirebon, jangan melewatkan kesempatan tak terlupakan berwisata dan mencoba kuliner di kota ini. Berikut ada beberapa destinasi wisata yang bisa kita jelajahi saat singgah di Kota Cirebon.

  •  Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Masjid Agung Sang Cipta Rasa (dikenal juga sebagai Masjid Agung Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon) adalah sebuah masjid yang terletak di dalam kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon.  Tepatnya di Jalan Keraton Kasepuhan 43 Kelurahan Kasepuhan Kecamatan Lemahwungkuk Cirebon. Konon, masjid ini adalah masjid tertua di Cirebon, yaitu dibangun sekitar tahun 1480 M atau semasa dengan Wali Songo menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nama masjid ini diambil dari kata "sang" yang bermakna keagungan, "cipta" yang berarti dibangun, dan "rasa" yang berarti digunakan.
Menurut tradisi, pembangunan masjid ini dikabarkan melibatkan sekitar lima ratus orang yang didatangkan dari Majapahit, Demak, dan Cirebon sendiri. Dalam pembangunannya, Sunan Gunung Jati menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Selain itu, Sunan Gunung Jati juga memboyong Raden Sepat, arsitek Majapahit yang menjadi tawanan perang Demak-Majapahit, untuk membantu Sunan Kalijaga merancang bangunan masjid tersebut.

Sumber. klikhotel.com

Konon, dahulunya masjid ini memiliki memolo atau kemuncak atap. Namun, saat azan pitu (tujuh) salat Subuh digelar untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, kubah tersebut pindah ke Masjid Agung Banten yang sampai sekarang masih memiliki dua kubah. Karena cerita tersebut, sampai sekarang setiap salat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa digelar Azan Pitu. Yakni, azan yang dilakukan secara bersamaan oleh tujuh orang muazin berseragam serba putih.
  • Masjid Merah Panjunan 
Masjid Panjunan atau Masjid Merah Panjunan adalah sebuah masjid tua yang berada di Desa Panjunan, Lemahwungkuk, Cirebon.Masjid ini merupakan sebuah masjid berumur sangat tua yang didirikan pada tahun 1480 oleh Syarif Abdurrahman atau Pangeran Panjunan. Ia adalah seorang keturunan Arab yang memimpin sekelompok imigran dari Baghdad, dan kemudian menjadi murid Sunan Gunung Jati. Masjid Merah Panjunan terletak di sebuah sudut jalan di Kampung Panjunan, kampung dimana terdapat banyak pengrajin tembikar atau jun. Masjid Merah Panjunan ini telah dimasukkan sebagai benda cagar budaya.
Sumber. Wikipedia.org
Tampak muka Masjid Merah Panjunan yang terbuat dari susunan batu bata merah yang pintu gapuranya memperlihatkan pengaruh Hindu dari zaman Majapahit yang banyak bertebaran di daerah Cirebon. Gapura yang susunan batanya berwarna merah memberikan nama tengah kepada masjid ini. Adalah Panembahan Ratu yang merupakan cicit Sunan Gunung Jati yang membangun tembok keliling bata merah setinggi 1,5 m dan ketebalan 40 cm pada tahun 1949.
  • Astana Gunung Jati - Komplek Makam Sunan Gunung Jati dan keluarga keraton Cirebon
Cirebon di kenal pula dengan sebutan Kota Wali karena di kota ini terdapat makam salah satu dari Walisongo yaitu Sunan Gunung Jati. Terlahir dengan nama Syarif Hidayatullah, putera dari perkawinan Nyi Ratu Rarasantang (puteri Prabu Siliwangi) dengan Syarif Abdillah, penguasa kota Isma'illiyah di Timur Tengah. Ketika ayahnya mangkat, Syarif Hidayatullah sebagai putera mahkota, menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, Syarif Nurullah. Syarif Hidayatullah memilih menemani ibundanya kembali ke Caruban.
Oleh Pangeran Cakrabuana (kakak Rarasantang) keduanya diberi tempat tinggal di Gunung Sembung sembari berdakwah menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Dinikahkan dengan Nyi Ratu Pakungwati (putri dari Pangeran Cakrabuana), Syarif Hidayatullah pun menggantikan mertua sekaligus pamannya yang meninggal pada 1479. 

Dalam perjalanan dakwahnya, Syarif Hidayatullah menikah dengan Nyi Ratu Kawunganten (puteri dari Banten). Kabar Caruban sebagai negeri yang menyebarkan ajaran-ajaran Islam pun terdengar di seantero kerajaan Pajajaran hingga ke Demak. Disebut sebagai penetap panata gama Rasul tanah Pasundan, Syarif Hidayatullah pun menjadi pelengkap dari Sembilan Wali penyebar ajaran Islam dan diberi gelar Sunan Gunung Jati.
Komplek ini terbuka 24 jam bagi siapa pun yang hendak berziarah. Keramaian akan memuncak pada malam Selasa, malam Jumat Kliwon, Maulud Nabi, dan hari-hari tertentu pada penanggalan Islam. 

Sumber: blog.negerisendiri.com

Puluhan alas kaki berserakan di depan pintu masuk serambi pemakaman. Pertanda tak diperkenankan mengotori tempat yang dianggap suci. Piring-piring porselen bermotif dengan warna-warna cerah 'ditanam' di dinding serambi yang berwarna putih. Gaya hiasan serupa juga bisa ditemukan di keraton Kasepuhan dan Kanoman ini tampakya karena pengaruh perkawinan Sunan Gunung Jati dengan puteri Ong Tien dari Tiongkok pada 1481. Tak hanya piring porselen, tapi guci-guci keramik dari zaman dinasti Ming pun masih tersimpan di komplek pemakaman. Sebagian masih digunakan sebagai tempat air untuk berwudlu.

Di sudut-sudut komplek pemakaman banyak kotak kayu dan wadah yang terbuat dari kuningan. Uang-uang logam dan lembaran uang kertas yang berserakan di dalamnya merupakan sedekah dari para peziarah. Konon sebelum wafat Sunan Gunung Jati pernah berkata, "Ingsun titip tajuq lan fakir miskin (Saya titipkan masjid/musholla dan fakir miskin)." Agar keturunannya tak lupa mendirikan sholat dan berzakat.
Wasiat itu disampaikan turun-temurun, namun untuk sebagian orang menerima sedekah disalahartikan menjadi meminta-minta yang kemudian bahkan dijadikan sebagai mata pencaharian. Bila Anda hendak bersedekah, sebaiknya letakkan uang sedekah pada kota atau wadah yang disediakan. Hal ini untuk menghindari kerumuman peminta-minta, bila Anda memberi langsung pada seseorang di antara mereka.
  • Keraton Kasepuhan
Keraton Kasepuhan adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Makna di setiap sudut arsitektur keraton ini pun terkenal paling bersejarah. Halaman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah dan terdapat pendopo di dalamnya. Keraton Kasepuhan adalah kerajaan islam tempat para pendiri cirebon bertahta, disinilah pusat pemerintahan Kasultanan Cirebon berdiri.
Keraton ini memiliki museum yang cukup lengkap dan berisi benda pusaka dan lukisan koleksi kerajaan. Salah satu koleksi yaitu kereta Singa Barong yang merupakan kereta kencana Sunan Gunung Jati. Kereta tersebut saat ini tidak lagi dipergunakan dan hanya dikeluarkan pada tiap 1 Syawal untuk dimandikan.
Bagian dalam keraton ini terdiri dari bangunan utama yang berwarna putih. Di dalamnya terdapat ruang tamu, ruang tidur dan singgasana raja.

Sumber: wikipedia.org

Keraton Kasepuhan berisi dua komplek bangunan bersejarah yaitu Dalem Agung Pakungwati yang didirikan pada tahun 1430 oleh Pangeran Cakrabuana dan komplek keraton Pakungwati (sekarang disebut keraton Kasepuhan) yang didirikan oleh Pangeran Mas Zainul Arifin pada tahun 1529 M Pangeran Cakrabuana bersemayam di Dalem Agung Pakungwati, Cirebon. Keraton Kasepuhan dulunya bernama 'Keraton Pakungwati. Sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia wafat pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua. Nama dia diabadikan dan dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.

  •  Keraton Kanoman

Lokasi Keraton Kanoman berada di Jl. Winaon, Kampung Kanoman, Kelurahan Lemah Wungkuk, Kecamatan Lemah Wungkuk, tepatnya berada dibelakang pasar Kanoman. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Stasiun Kejaksan Cirebon, dapat ditempuh sekitar 10-15 menit dengan menggunakan mobil pribadi, angkot atau menggunakan jasa ojek, kita juga bisa menggunakan becak dengan waktu tempuh sekitar 20-25 menit.
 Sumber: http://www.disparbud.jabarprov.go.id
Keraton Kanoman adalah salah satu dari dua bangunan kesultanan Cirebon, setelah berdiri keraton Kanoman pada tahun 1678 M kesultanan Cirebon terdiri dari keraton Kasepuhan dan keraton Kanoman yang merupakan pemimpin dan wakilnya. Kebesaran Islam di Jawa Barat tidak lepas dari Cirebon. Sunan Gunung Jati adalah orang yang bertanggung jawab menyebarkan agama Islam di Jawa Barat, sehingga berbicara tentang Cirebon tidak akan lepas dari sosok Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I pada sekitar tahun 1678 M. Keraton Kanoman masih taat memegang adat-istiadat dan pepakem, di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal,seminggu setelah Idul Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon Utara. Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya dengan syiar agama Islam yang giat dilakukan Sunan Gunung Jati, yang juga dikenal dengan Syarif Hidayatullah.
Kompleks Keraton Kanoman yang mempunyai luas sekitar 6 hektare ini berlokasi di belakang pasar Di Kraton ini tinggal sultan ke dua belas yang bernama Raja Muhammad Emiruddin berserta keluarga. Kraton Kanoman merupakan komplek yang luas, yang terdiri dari bangunan kuno. salah satunya saung yang bernama bangsal witana yang merupakan cikal bakal Kraton yang luasnya hampir lima kali lapangan sepak bola.

Di keraton ini masih terdapat barang barang, seperti dua kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yang masih terawat baik dan tersimpan di museum. Bentuknya burak, yakni hewan yang dikendarai Nabi Muhammad ketika ia Isra Mi'raj. Kereta Paksi Naga Liman menjadi semacam perpaduan tiga budaya. Timur Tengah, Tiongkok, dan India. Pelambang penyatu umat, Islam, Kong Hu Cu, Buddha, dan Hindu. Semua bagian dari kereta memiliki filosofi, yang menunjukkan betapa tingginya pemikiran para empu kala itu.
Dibuat dari kayu ulin atau kayu besi yang dikenal kuat. Detil hiasannya dibuat dari kayu pohon sawo kecik, yang melambangkan kebecikan atau kebaikan. Warna asli keunguan berasal dari kulit manggis, buah yang melambangkan kejujura. Sedangkan sayapnya berwarna kuning bersepuh emas.
Dibuat pada 1428 atau 1350 tahun saka. Kereta ini merupakan harta peninggalan Pangeran Losari (Pulosaren) dan menjadi warisan Pangeran Walangsungsang (Cakra Buana). Dulu, kereta yang ditarik 6 ekor kerabu bule ini diinaiki oleh Sultan untuk berkeliling kota pada acara-acara besar. Karena usia kayu yang terus menua, kereta ini terakhir digunakan pada 1933, pada masa pemerintahan Sri Sultan Kanoman VIII, Sultan Raja Muhammad Dzulkarnaen.
Bersamaan dengan dibuatnya kereta Paksi Naga Liman untuk Sultan, dibuat pula kereta untuk permaisuri, Ratu Dalem Kesultanan Kanoman. Istilah jempana dalam bahasa setempat jemjeming prana yang berarti kesetiaan atau jemjeming pengagem manahayang yang berarti keteguhan hati.

 Sumber:  blog.negerisendiri.com (Kereta Paksi Naga Liman)

Tidak jauh dari kereta, terdapat bangsal Jinem, atau Pendopo untuk Menerima tamu, penobatan sultan dan pemberian restu sebuah acara seperti Maulid Nabi. Dan di bagian tengah Kraton terdapat kompleks bangunan bangunan bernama Siti Hinggil.

 Hal yang menarik dari Keraton di Cirebon adalah adanya piring-piring porselen asli Tiongkok yang menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon. Tak cuma di keraton, piring-piring keramik itu bertebaran hampir di seluruh situs bersejarah di Cirebon. Dan yang tidak kalah penting dari Keraton di Cirebon adalah keraton selalu menghadap ke utara. Dan di halamannya ada patung macan sebagai lambang Prabu Siliwangi. Di depan keraton selalu ada alun alun untuk rakyat berkumpul dan pasar sebagai pusat perekonomian, di sebelah timur keraton selalu ada masjid.
  •  Gua Sunyaragi 
Gua Sunyaragi adalah sebuah gua yang berlokasi di kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon di mana terdapat bangunan mirip candi yang disebut Gua Sunyaragi, atau Taman Air Sunyaragi, atau sering disebut sebgaai Tamansari Sunyaragi. Nama "Sunyaragi" berasal dari kata "sunya" yang artinya adalah sepi dan "ragi" yang berarti raga, keduanya adalah bahasa Sanskerta. Tujuan utama didirikannya gua tersebut adalah sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya.

 Sumber: Disparbud.jabarprov.go.id

Gua Sunyaragi merupakan salah satu benda cagar budaya yang berada di Kota Cirebon dengan luas sekitar 15 hektare. Objek cagar budaya ini berada di sisi jalan by pass Brigjen Dharsono Kampung Karang Balong, Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi Cirebon. Konstruksi dan komposisi bangunan situs ini merupakan sebuah taman air. Karena itu Gua Sunyaragi disebut taman air gua Sunyaragi. Pada zaman dahulu kompleks gua tersebut dikelilingi oleh danau yaitu Danau Jati. Lokasi di mana dulu terdapat Danau Jati saat ini sudah mengering dan dilalui jalan by pass Brigjen Dharsono, sungai Situngkul, lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Gas, Sunyaragi milik PLN, persawahan dan menjadi pemukiman penduduk. Selain itu di gua tersebut banyak terdapat air terjun buatan sebagai penghias, dan hiasan taman seperti Gajah, patung wanita Perawan Sunti, dan Patung Garuda. Gua Sunyaragi merupakan salah satu bagian dari keraton Pakungwati sekarang bernama keraton Kasepuhan.

 Sumber: Wikipedia.org

Secara visual, motif Wadasan dan Mega Mendung ini sangat mendominasi di sebagian besar tembok kompleks Gua Sunyaragi. Pasangan-pasangan batu karang ditata sedemikian rupa sehingga membentuk corak Wadasan dan Mega Mendung. Kemudian bagian-bagian tertentu dilengkapi pula dengan motif-motif tanaman rambat, baik berupa patran maupun simbaran. Di situs ini, motif Wadasan dan Mega Mendung diyakini merupakan simbol kehidupan. Mega melambangkan langit atau udara sedangkan Wadas yang berarti batuan melambangkan bumi. Sedangkan motif-motif tanaman merambat, patung-patung hewan dan manusia melambangkan isi dari dunia yang memiliki bumi dan langit beserta isinya.
Selain suasana gaya klasik, Gua Sunyaragi dilengkapi juga dengan gaya Tiongkok kuno seperti ukiran kembang kanigaran, bentuk bunga persik, matahari dan teratai serta penempelan keramik-keramik Cina pada dinding yang tidak terlalu tinggi. Hal ini dapat dimaklumi, karena ketika dibangunnya Goa Sunyaragi, banyak sekali bantuan yang diperoleh dari orang-orang Cina, terutama keturunan pengikut Puteri Ong Tien Nio isteri Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Kalijaga).
  •  Kerajinan Batik Trusmi 
Ke Cirebo tak seru jika belum berbelanja batik. Batik Cirebon sendiri ada 2 jenis batik, yaitu batik keraton dan batik trusmi. Batik Cirebon sendiri termasuk golongan Batik Pesisir. Secara umum, batik asal Cirebon muncul dengan warna-warna kain yang lebih cerah dan berani. Selain itu, gambar motifnya juga lebih bebas, melambangkan kehidupan masyarakat pesisir yang egaliter, seperti gambar aktivitas masyarakat di pedesaan atau gambar flora dan fauna yang memikat.
 Sumber: Disparbud.jabarprov.go.id

Kisah membatik desa Trusmi sendiri berawal dari peranan Ki Gede Trusmi. Salah seorang pengikut setia Sunan Gunung Jati ini mengajarkan seni membatik sembari menyebarkan Islam. Sampai sekarang, makam Ki Gede masih terawat baik, malahan setiap tahun dilakukan upacara cukup khidmat, upacara Ganti Welit (atap rumput) dan Ganti Sirap setiap empat tahun. Disepanjang jalan utama yang berjarak 1,5 km dari desa Trusmi sampai Panembahan, saat ini banyak kita jumpai puluhan showroom batik. Berbagai papan nama showroom nampak berjejer menghiasi setiap bangunan yang ada di tepi jalan. Munculnya berbagai showroom ini tak lepas dari tingginya minat masyarakat terutama dari luar kota terhadap batik Cirebon.

Beberapa motif batik Cirebon
Batik Trusmi berhasil menjadi ikon batik dalam koleksi kain nasional. Batik Cirebon sendiri termasuk golongan Batik Pesisir, namun juga sebagian batik Cirebon termasuk dalam kelompok batik keraton. Hal ini dikarenakan Cirebon memiliki dua buah keraton yaitu Keratonan Kasepuhan dan Keraton Kanoman, yang konon berdasarkan sejarah dari dua keraton ini muncul beberapa desain batik Cirebonan Klasik yang hingga sekarang masih dikerjakan oleh sebagian masyarakat desa Trusmi diantaranya seperti motif Mega Mendung, Paksinaga Liman, Patran Keris, Patran Kangkung, Singa Payung, Singa Barong, Banjar Balong, Ayam Alas, Sawat Penganten, Katewono, Gunung Giwur, Simbar Menjangan, Simbar Kendo dan lain-lain. Saya sendiri memiliki batik dengan motif udang. Sesuai dengan ikon Cirebon yang terkenal dengan rebon atau terasi udangnya.

Menjelajah wisata Cirebon tak cukup sehari dua hari. Jika liburan sempatkanlah berwisata ke Cirebon. Menikmati pesona alamnya, menyelami budayanya, kembali belajar sejarah betapa di masa lalu peradaban telah berkembang maju melalui keraton dan situs-situs sejarah di Cirebon. Ada pertunjukan khas masyarakat Cirebon antara lain Tarling, Tari Topeng Cirebon, Wayang Kulit Cirebon, Sintren, Kesenian Gembyung, dan Sandiwara Cirebonan.Kabupaten ini juga memiliki beberapa kerajinan tangan di antaranya topeng Cirebon,  kerajinan kerang, kerajinan tembikar, lukisan kaca, bunga rotan, dan tentu saja batik.
Beberapa tempat wisata yang patut dikunjungi di Cirebon juga bisa kita lihat di video berikut.


Jalan-jalan berwisata ke suatu daerah tak lengkap rasanya tanpa menikmati kuliner khasnya. Jangan pernah melewatkan kesempatan berburu kuliner jika mampir ke Kota Udang. Berikut beberapa kuliner Cirebon yang mesti dicoba.

Tahu Gejrot 

Sumber: Wikipedia.org

Ini adalah makanan khas Cirebon yang tidak boleh dilewatkan. Tahu dipotong-potong dengan bumbu bawang merah dan cabe serta siraman kuah dengan citarasa manis, pedas, asin, sedikit asam. Pokoknya segar dan bikin nagih. Tahunya khas, berbeda dengan tahu daerah lain. Ada penjual tahu gejrot yang keliling dengan pikulan tapi ada juga yang ready atau mangkal tepatnya di jalan Lemah Wungkuk.

Nasi Jamblang 

Sumber: pergidulu.com
 
Nasi Jamblang merupakan salah satu kuliner khas Cirebon yang diburu warga lokal dan kini wisatawan yang semakin banyak berkunjung ke daerah yang dijuluki kota Udang ini. Nasi itu dibungkus dengan daun jati, dan dilengkapi berbagai lauk pauk antara lain tempe, telur dadar, sambal cabai dan lain-lain. Ada banyak warung nasi Jamblang salah satunya nasi jamblang Mang Dul di Jalan Dr Cipto Mangunkusumo. Lauknya juga beragam bisa dipilih sesuai selera.
Empal Gentong

 Sumber: tripadvisor.com.au

Empal gentong adalah makanan khas masyarakat Cirebon, Jawa Barat. Makanan ini mirip dengan gulai (gule) dan dimasak menggunakan kayu bakar (pohon mangga) di dalam gentong (periuk tanah liat). Daging yang digunakan adalah usus, babat dan daging sapi. Empal gentong berasal dari, Kabupaten Cirebon. makanan khas cirebon lainya masih ada lagi yaitu tahu gejrot dan docang.
Selain menggunakan kayu bakar dan gentong, makanan ini disajikan menggunakan kucai dan sambal berupa cabai kering giling.Empal gentong bisa  disajikan dengan nasi atau juga lontong. Selain empal gentong, biasanya juga disediakan juga empal asem dan sate kambing muda.

Nasi Lengko
Sumber: cireboninternet.com
Nasi lengko merupakan salah satu makanan khas Cirebon yang terdiri dari nasi, potongan tahu, tempe taoge, kerupuk mi yang disiram dengan kuah kacang dan kecap. Nasi Lengko Haji Barno di Jalan Pagongan adalah salah satu tempat makan yang sudah berdiri sejak 1968. Biasanya tersedia sate kambing untuk melengkapi nasi lengko ini. 

Docang
Sumber: tripadvisor.com
 
Docang biasanya dijual pagi hari untuk sarapan pagi. Docang dari bahasa Cirebon singkatan dari dua kata yaitu; Bodo (baceman) dari oncom dage + Kacang Hijau yang dijadikan Toge. Lagi pula Docang bisa jadi masuk kuliner Nasional makanan khas Cirebon, yang merupakan perpaduan dari lontong, daun singkong, toge, dan kerupuk, yang berkolaborasi sayur Oncom Dage/Oncom Gembos yang terbuat dari ampas tahu dicampur sedikit bungkil kacang tanah (sisa perasan dijadikan minyak) yang disebut gempa (yang dihancurkan) serta di kombinasikan dengan parutan kelapa muda.
Makanan ini mempunyai rasa khas yang gurih dan ni’mat apabila disajikan dalam keadaan panas/hangat dan untuk harga relatif terjangkau semua kalangan. 
Masih banyak  pesona wisata alam, wisata budaya dan wisata kuliner yang ada di Cirebon. Kita bisa menjadikan Cirebon sebagai tujuan wisata di Jawa Barat karena Cirebon juga memiliki hotel-hotel untuk staycation, tempat-tempat wisata baru, dan yang tak kalah menarik secara berkala ada event-event budaya yang sayang dilewatkan misalnya event Gotrasawala, budaya 1 Muharram, Caruban Carnival, dan masih banyak lagi event wisata Cirebon yang layak dikunjungi. Cirebon terus berbenah dalam membangun kotanya terutama dalam sektor pariwisatanya. 

Kita juga bisa terus mengikuti perkembangan wisata Kota Cirebon,  dan bisa menemukan rekomendasi hotel murah saat singgah disana melalui aplikasi Rebon.org. Rebon.org adalah komunitas blogger Cirebon, yang menulis, meliput, mengedukasi, dan membangun Cirebon melalui internet dan teknologi serta memiliki misi mewujudkan Cirebon Smart City. Saya sudah install aplikasi ini di playstore  dan user friendly banget, cepat dan gratis dengan kapasitas 6,4MB jadi tidak memberatkan kapasitas memori ponsel. Dan isinya sesuai dengan misi Rebon.org, ada berita terbaru tentang dunia pariwisata, event dan budaya. Kita bisa mengakses dan mengikuti perkembangan wisata Cirebon, mendukung wisata dalam negeri, mendukung produk dalam negeri untuk maju dan berkembang. Saya beri bintang lima deh untuk aplikasinya. 
Saya sudah download aplikasi Rebon.org, kamu juga yaa ..^^

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Wisata dan Budaya Cirebon 2017
 





Sumber referensi:
https://rebon.org
http://www.disparbud.jabarprov.go.id
https://id.wikipedia.org
http://blog.negerisendiri.com/

Komentar

  1. Ah Cirebon keren.. Mesti masuk wishlish daerah yang harus dikunjungi nih kak.. ^^

    BalasHapus
  2. iya mba, kudu piknik ke cirebon nih :-)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 KEHAMILAN, 3 PENGALAMAN MENAKJUBKAN

Jamu, Menyingkap Sejarah Kesehatan Nenek Moyang Indonesia