Sabtu, 29 Februari 2020


Belum memasuki waktu dzuhur, namun matahari mulai terasa terik saat kami memasuki wilayah Kabupaten Demak. Wajar saja karena Demak berada di pesisir utara Pulau Jawa sehingga udaranya memang lebih panas. Pada liburan semester kali ini kami mengajak anak-anak berwisata religi sekaligus belajar sejarah dengan mengunjungi Masjid Agung Demak serta makam Sunan Kalijaga di Demak, lalu Sunan Kudus dan Sunan Muria di Kudus. Dari sembilan Walisongo, di Jawa Tengah terdapat tiga orang wali yang kebetulan lokasinya berdekatan. Jka bisa membagi waktu, dalam sehari kita bisa berziarah ke 3 makam Walisongo ini sekaligus berjalan-jalan menyusuri toko-toko oleh-oleh dan souvenir di kompleks makam, sekaligus napak tilas sejarah perjuangan Walisongo dan penyebaran agama Islam di Jawa Tengah. 


Jika menggunakan kendaraan pribadi, kita bisa memarkir kendaraan di depan halaman masjid, dan jika menggunakan bus, ada tempat parkir khusus yang disediakan untuk para peziarah. Masjid ini menyatu dengan kompleks makam dan museum, begitu kita memasuki area antara masjid dan museum terdapat situs kolam wudhu tempo dulu. Kolam ini berukuran 10x25 meter. Masjid Agung Demak selain sebagai tempat beribadah juga menjadi tempat berkumpulnya Walisongo, dan kolam ini merupakan tempat berwudhu para Walisongo. Meski sudah tidak terpakai, namun tampak masih sangat terawat. Karena belum tiba waktu shalat, kamipun berziarah, lalu berkeliling kompleks, menuju museum, lalu keluar melewati kompleks makam, dan pintu keluar terhubung dengan toko-toko oleh-oleh dan souvenir.

Masjid Agung Demak dan Sejarah yang Menyertainya

Menjelang akhir abad ke-15, Kerajaan Majapahit mengalami  kemunduran. Hal itu menyebablan beberapa wilayah kekuasaannya memisahkan diri.

Sejarah islam  di tanah Jawa tidak lepas dari kisah heroik para Wali Songo dan Masjid Agung Demak, sebagai kerajaan islam pertama dan terbesar di pantai utara Jawa. Kerajaan ini muncul seiring dengan keruntuhan kerajaan Majapahit.  Pendirian Masjid Agung Demak ini tidak lepas dari peran Raden Fatah yang didukung oleh Wali Songo.




Raden Fatah adalah putra raja Majapahit Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) dan ibunya Putri Liang dari Campa. Menurut Purwaka Caruban Nagari, selir ini bernama Siu Ban Ci, putri Tan Go Hwat ( Syaikh Bantong/Kyai Batong)dan Siu Te Yo dari Gresik. Menurut Manaqib yang tertera di Masjid Agung Demak, Raden Fatah lahir pada 1448 M/1370 Saka dan memiliki nama kecil Pangeran Jin Bun.



Menurut Babad Tanah Jawi, karena Ratu Dwarawati sang permaisuri  merasa cemburu, maka Brawijaya dengan terpaksa memberikan selirnya kepada adipatinya di Palembang yaitu Arya Damar (Swan Liong/Sapu Talang).  Menurut kronik Tiongkok dari kuil Sam Po Kong, Arya Damar/Swan Liong  merupakan putra Yang-wi-si-sa (Hyang Purwawisesa atau Brawijaya III) dari selir Tiongkok. Dari perkawinan kedua ini lahirlah Kin San (Raden Kusen). Sedangkan Pangeran Jin Bun oleh Adipati Arya Damar diberi nama Raden Hasan.

Menurut Babad Tanah Jawi, Pangeran Jin Bun/Raden Hasan menolak menggantikan Arya Damar menjadi Adipati Palembang, dan memilih berkelana ke Pulau Jawa bersama Raden Kusen. Keduanya lalu berguru pada Sunan Ampel di Surabaya. Sunan Ampel lalu memberi nama Raden Fatah. Setelah berguru, Raden Kusen lalu mengabdi pada Majapahit. Sementara Raden Fatah menuju Jawa Tengah, membuka hutan Glagahwangi lalu membuat pesantren. Dengan dibantu para santri dan masyarakat, Raden Fatah membangun masjid di lingkungan pesantren yang menjadi cikal bakal Masjid Agung Demak ditandai Candra Sengkala ‘Naga Mulat Sariro Wani’ atau prasasti bermakna tahun 1338 Saka atau tahun 1466 M.  Seiring berjalannya waktu, pesantren Glagah Wangi semakin maju. Meski pada awalnya Bhre Kertabumi (Brawijaya) di Majapahit khawatir dengan pengaruh Glagahwangi, namun akhirnya mengakui Raden Fatah sebagai putranya. Raden Fatah diangkat sebagai  adipati bergelar Adipati Notoprojo pada tahun 1475 M dan Glagahwangi berganti nama menjadi Demak dengan ibukota Bintara. Pada tahun 1477 M ditandai prasasti atau Candra Sengkala ‘Koritrus Gunaning Jatmi’ Raden Fatah menyempurnakan Masjid Glagahwangi menjadi Masjid Kadipaten Glagahwangi.


Sunan Ampel memberi nama Raden Fatah, berasal dari kata al-Fatah, yang artinya “ Sang Pembuka”, karena ia memang pembuka kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Menurut Babad Tanah Jawi beliau bergelar Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama, sedangkan menurut Serat Pranitiradya bergelar Sultan Syah Alam Akbar.. Dan menurut manaqib di Masjid Agung Demak bergelar Sultan Raden Abdul Fattah Al Akbar Sayidin  Panatagama merupakan seorang Amirul Mukminin yang adil dan bijaksana. Memerintah selama 40 tahun (1478-1518M).

Raden Fatah memperkenalkan Salokantara sebagai kitab undang-undang kerajaan. Beliau bersikap toleran pada umat agama lain. Kuil Sam Po Kong di Semarang tidak dipaksa kembali menjadi masjid, sebagaimana dulu saat didirikan oleh Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam. Beliau juga tidak memerangi umat Hindu dan Budha sebagaimana wasiat Sunan Ampel, gurunya.

Setelah Raden Fatah wafat, beliau digantikan putra pertamanya Raden Pati Unus selama 3 tahun (1518-1521M) dan pemerintahan dilanjutkan oleh adiknya Raden Trenggana  yang memimpin selama 25 tahun (1521-1546M). Di bawah kekuasannya wilayah kekuasaan Demak meluas sampai ke Jawa Timur. Setelah Sultan Trenggono wafat, kekuasaan dipegang oleh putranya Sunan Prawoto (1546-1547 M). Pada tahun 1547 M karena perebutan kekuasaan, Sunan Prawata dan istrinya terbunuh oleh pengikut Arya Penangsang. Arya Penangsang  (1547-1554M) kemudian naik takhta menjadi raja Demak kelima dan Arya Penangsang memerintah kerajaan ini dari Kadipaten Jipang (sekarang dekat Cepu) Kotaraja Demak dipindahkan ke Jipang  sehingga periode ini dikenal dengan Demak Jipang. Pada tahun 1554 M terjadi pemberontakan yang dilakukan Adipati Pajang Joko Tingkir (Hadiwijaya). Dalam peristiwa ini Arya Penangsang terbunuh dan berakhirlah era kerajaan Demak. Joko Tingkir memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang dan mendirikan kerajaan Pajang.



Masjid ini selalu ramai dengan peziarah yang umumnya datang bersama rombongan ziarah para wali. Meski begitu banyak pula pemudik  yang sengaja berkunjung untuk shalat sekaligus berziarah. Serambi masjid cukup luas dan selalu dipadati jamaah. Terdapat ruangan khusus untuk jamaah wanita dan kamar mandinya pun luas dan nyaman. Masjid ini bagai oase di tengah teriknya cuaca Demak. Apalagi saat bulan ramadhan, banyak pengunjung yang beriktikaf, membaca Al Quran da mendengarkan ceramah.

Museum Masjid Agung Demak



Museum Masjid Agung Demak berisi benda-benda peninggalan kerajaan Demak, dan Walisongo.  Melihat peninggalan bersejarah di museum ini rasanya kami seperti menaiki mesin waktu menuju masa-masa kerajaan.  Masjid Agung Demak yang didirikan oleh Raden Fattah bersama Walisongo  memiliki  bangunan induk dan serambi. Bangunan induk ini memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Saka di sisi tenggara dibuat oleh Sunan Ampel, sebelah barat oleh Sunan Gunung Jati, barat daya oleh Sunan Bonang dan di sebelah timur laut oleh Sunan Kalijaga. Masing-masing saka guru ini memiliki kisah yang unik, penuh hikmah sekaligus menunjukkan kesaktian dan karomah para wali. Saka buatan Sunan Kalijaga adalah yang paling unik. Terbuat dari serpihan kayu yang diikat sehingga dinamakan saka tatal, meski begitu kekuatannya sama dengan saka lainnya.




Di serambi teras masjid terdapat dua buah bedug berukuran 3,5x2,5 meter. Serambi  ini berbentuk limas yang ditopang delapan tiang dan disebut juga Saka Majapahit karena memiliki ukiran kayu khas Majapahit. Saat itu agama Islam berkembang ketika agama Hindu dianut oleh mayoritas masyarakat sehingga Raden Fattah membuat atap berundak yang merupakan akulturasi budaya dengan agama Hindu.  Atap limas masjid ini megambarkan makna Iman, Islam dan Ihsan.


Di museum ini juga tersimpan pintu bledeg atau pintu petir yang merupakan prasasti Candra Sengkala  yang berbunyi Naga Mulat Salira Wani yaitu tahun 1388 Saka atau 1466 Masehi atau 887 Hijriah. Tahun ini diprediksi sebagai tahun pendirian Masjid Agung Demak Pintu ini merupakan salah satu koleksi utama di museum ini. Pintu ini dibuat oleh Ki Ageng Selo. Konon, Ki Ageng Selo memiliki kesaktian bisa menangkap petir. Pintu yang terbuat dari kayu jati ini diyakini sebagai penangkal petir sehingga dinamakan pintu bledeg. Pintu ini didominasi warna merah dengan berbagai ukiran termasuk dua kepala naga sebagai simbol petir. Awalnya pintu ini digunakan sebagai pintu masukmasjid, karena telah berumur ratusan tahun, pintu ini sekarang sudah rapuh dan disimpan sebagai salah satu koleksi berharga mseum. Pintu ini dikelilingi dengan kaca pelindung sehingga kita tidak bisa menyentuhnya secara langsung sebagaimana koleksi museum lainnya.



Di museum ini tersimpan pula dua buah gentong (tempayan besar)dari Dinasti Ming hadiah dari Putri Campa abad ke-14, selain itu terdapat foto-foto Masjid Agung Demak Tempo dulu, lampu-lampu dan peralatan rumah tangga dar kristal dan kaca yang merupakan hadiah dari Paku Buwono I tahun 1710 Masehi, Kitab Suci Al Quran tulisan tangan, maket masjid Demak tahun 1845-1864, dan beberapa prasasti kayu.




Kompleks Makamdi Masjid Agung Demak

Selain beribadah di masjid, umumnya para pengunjung sekalian berziarah ke makam di kawasan masjid. Terdapat makam Raden Fattah, Syekh Maulana Maghribi, R. Pati Unus, Sultan Trenggono, R. Arya  Penangsang, dan masih banyak lagi.



Setelah melewati kompleks makam, kami menjumpai pintu keluar yang terhubung ke bagian belakang masjid. Karena kendaraan kami di depan masjid jadi kami harus berjalan memutar. Tidak begitu jauh, namun harus melewati para pedagang oleh-oleh dan souvenir. Umumnya para pedagang menjual buku-buku kisah Walisongo beserta kaos bertuliskan atau bergambar Walisongo, tasbih, makanan ringan, buah-buahan, dan aksesoris. Banyak pula ojek yang menawari kami tumpangan. Ojek ini biasanya mengantarkan pengunjung rombongan ke lokasi parkir bus.


Jika teman-teman berkunjung membawa keluarga, penting banget nih untuk bisa bekerjasama bergantian menggendong misalnya. Wisata religi dan bernuansa sejarah memang cocoknya untuk anak-anak ke atas, kami kesinipun salah satunya karena keinginan si sulung yang punya minat tinggi ke bidang sejarah. Namun karena si bungsu masih balita (4 tahun), dia sempat bilang capek karena banyak jalan kakinya. Untungnya saya bawa tas bekal berisi minum dan sedikit cemilan untuk anak-anak. Perjalanan kami di Masjid Agung Demak  pun berakhir, setelah ini kami melanjutkan perjalanan ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak, Jika teman-teman juga akan travelling pastikan kondisi badan sehat dan kendaraan fit agar perjalanan aman, menyenangkan, nambah ilmu, dan nambah kebaikan. Terima kasih !


2 komentar

Senang sekali bisa mampir ke tulisan Mba. Selain jadi teringat pelajaran sejarah di jaman sekolah dulu, juga jadi tahu kalau di Kompleks Masjid Agung Demak juga terdapat Makam dan Museum. Beneran tempat wisata religi.

REPLY

keren ini, kalau ada kesemptana mau juga ke sana

REPLY

Lathifah's Blog . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates