Menikmati Sunrise dan Barisan Gunung di Bukit Sikunir

Adanya pandemi membuat hampir seluruh sektor terpengaruh, terutama pariwisata karena adanya anjuran untuk tidak berkerumun demi menghindari tersebarnya wabah Covid-19. Hal ini tentu tidak mudah karena ruang gerak kita menjadi terbatas demi kebaikan dan kesehatan kita semua.

Tinggal di Wonosobo selama kurang lebih 5 tahun terakhir memberikan banyak pengalaman hidup yang menarik bagi kami sekeluarga. Udara yang sejuk dingin dan minim polusi, bisa melihat matahari terbit dari balik gunung Sindoro setiap pagi, berkawan kabut terutama saat musim hujan, dan tersedia aneka macam sayuran dengan harga yang murah. Pemandangan gunung, sawah, kebun sayur, dan kebun teh menjadi pemandangan yang alhamdulillah bisa kami nikmati. Namun sejak awal tinggal di Wonosobo, ada satu tempat yang belum sempat kami kunjungi karena anak-anak masih kecil, Bukit Sikunir di Desa Sembungan. Dan alhamdulillah bisa kesana ada akhir Agustus lalu.


Bukit Sikunir terkenal dengan golden sunrise dan merupakan salah satu destinasi wisata yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Dieng. Berada di ketinggian 2.300 MDPL, bukit Sikunir terletak di Desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa. Bukit Sikunir sendiri telah dibuka kembali mulai 1 Agustus 2020 untuk umum, namun tentu saja wisatawan yang berkunjung harus menerapkan protokol kesehatan seperti mengenakan masker, mencuci tangan dengan sabun, jaga jaak serta tidak bepergian jika demam.

Kami berangkat dari rumah selepas shubuh dengan sepeda motor kurang lebih 45 menit sampai di Dieng. Sepanjang perjalanan, kami dimanjakan dengan pesona alam Dieng, matahari yang terbit di suasana yang cukup dingin, melewati perkebunan sayur di kanan kiri jalan, dan melewati beberapa tempat wisata seperti gardu pandang Tieng dan  bukit awan putih, tempat wisata baru di desa Parikesit, Kejajar, dan Tuk Bima Lukar. Lalu melewati pertigaan Dieng belok kiri melewati Telaga Warna lalu menuju ke Sembungan setelah melewati desa Sikunang. Setelah melewati telaga warna jalan yang kami lalui sedikit rusak dan terdapat jalan yang berlubang sehingga pengendara perlu berhati-hati. Meski demikian tidak menyurutkan niat para wisatawan termasuk kami menuju sembungan. Meski pandemi, kami tidak menyangka kawasan ini masih ramai pengunjung.


Di pintu masuk sembungan, kami dikenakan tiket masuk Rp. 10.000/orang. Kami sempat mengambil gambar di sini, karena matahari sudah bersinar terang, suasana sudah ramai pedagang, ojek lokal dan pengunjung yang mungkin baru turun dari bukit Sikunir. Kamipun melanjutkan perjalanan ke Sembungan, jalan yang kami lalui agak sempit, apalagi kami berpapasan dengan banyaknya pengunjung dari arah Sikunir, kadang harus berhenti dan menepi agar bisa bergantian lewat. Jalan terus hingga melewati pemukiman dan akhirnya sampai di Telaga Cebong.


Di Telaga Cebong, banyak pengunjung yang mendirikan tenda di tepi telaga. Kios-kios di area parkir dan banyak juga disediakan tempat cuci tangan. Setelah parkir, kami melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak mendaki, banyak kios di kanan kiri jalan yang menjual oleh-oleh khas Dieng . Kalau lelah, ada juga tempat makan, menyerupai kafe yang instagramable dengan view pemandangan Sikunir yang indah. Ada juga pemain musik yang menyanyikan lagu kekinian sehingga serasa makan di kafe dengan nuansa pegunungan.




Di ujung jalan setapak dimulai jalur pendakian ke Sikunir sekitar 800 meter. Jangan lupa membawa minum ya, karena mendaki tentu melelahkan sehingga tubuh perlu banyak cairan. Selain kami ada juga pengunjung keluarga yang membawa anak-anak. Jalur menuju Sikunir ini berupa tangga batu, menanjak dengan pegangan di tepi dan tengah jalan. Tak jarang kami istirahat untuk minum lalu kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa pengunjung saling memberi semangat agar bisa sampai di puncak.



Kamipun sampai di Pos 1, jarak ke pos 1 ini sekitar 450 meter, terdapat musholla, tempat sampah dan kamar mandi, sehingga pengunjung bisa istirahat sejenak. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan, masih ada sekitar 15 meter menuju puncak, hingga akhirnya sampai juga kami ditujuan, akhir dari pendakian yang cukup melelahkan. Bagi adventur atau pendaki profesional mungkin jalur ini termasuk ringan, tapi bagi pemula atau ibu-ibu lumayan melelahkan. Sebelum mendaki perlu kondisi tubuh yang fit, pakaian yang nyaman, hangat dan menyerap keringat serta alas kaki yang aman dan nyaman untuk mendaki.

Puncak Sikunir dan golden sunrise terbaik



Terbayar sudah segala lelah sesampainya di puncak Sikunir, golden sunrise di Sikunir diklaim sebagai sunrise terbaik di Indonesia, sehingga wajar saja pandemi tidak menyurutkan niat pengunjung untuk mengunjungi tempat ini. Di sini tersaji pemandangan yang luar biasa, landskap beberapa gunung tinggi di Pulau Jawa seperti Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Ungaran, Gunung Merbabu berselimut kabut. Saat kabut menghilang, pemandangan gunungpun terlihat jelas, subhanallah. Jadi tau rasanya kenapa banyak yang jauh-jauh bela-belain naik ke puncak Sikunir demi menikmati salah satu lukisan Tuhan. Meski sampai di puncak saat matahari telah bersinar terang, tidak mengurangi rasa syukur kami, akhirnya bisa sampai disini

Oleh-oleh Unik Khas Dieng

Berkunjung ke Dieng akan lebih lengkap bila membawa pulang oleh-oleh khas setempat. Ada beberapa makanan yang mungkin cuma bisa kita temui disini, jadi jangan lupa diborong ya :D 
  • Carica
Carica merupakan kerabat pepaya yang tumbuh di dataran tinggi. Pohonnya kecil mirip pepaya biasa namun bercabang lebih banyak.  Buah ini biasa dijadikan sirup, jus, manisan, selai dan keripik buah. Mengandung kalsium, gula, vitamin A dan C serta minyak atsiri sehingga carica diklaim memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. 
  • Mie Ongklok dan tempe kemul
Ke Wonosobo belum lengkap rasanya jika belum mencoba mie ongklok. Mie rebus dengan potongan kol, kucai dan disiram kuah berkanji. Biasa disajikan dengan sate sapi dan tempe kemul, yaitu tempe yang digoreng  dengan campuran terigu dan tepung tapioka atau pati teles dan potongan daun kucai.
  • Kentang ungu dan kentang merah Dieng

Di sekitaran kios sebelum mendaki Bukit Sikunir, ada beberapa kios yang menjual kentang ungu dan kentang merah Dieng. Dieng memang terkenal sebagai daerah penghasil kentang. Kentang ungu merupakan salah satu komoditas andalan petani, memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh dan harganya lebih mahal dari kentang biasa. Di pasar jarang banget ada kentang ini. 
  • Semur Kentang

Dieng terkenal dengan kentang karena banyak ditanam di daerah ini. Kita bisa menikmati semur kentang yang manis pedas setelah lelah mendaki. Harganya pun terjangkau hanya Rp.5000/cup.
  • Terong belanda

Terong belanda memiliki bentuk menyerupai tomat. Berwarna merah, hijau, kuning dan mengandung banyak vitamin, antioksidan dan mineral sehingga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan seerti meningkatkan metabolisme,, mencegah kanker, sembelit dan mengkatkan daya tahan tubuh. Buah ini dapat dikonsumsi langsung atau dibuat asinan, dimasak, dijus, dan sebagainya.
  • Edelweis

Bunga edelweis merupakan tumbuhan edemik yang tumbuh di daerah pegunungan. Bunga ini mengandung hormon etilen yang dapat mencegah kerontokan bunga sehingga dapat mekar sampai 10 tahun lamanya sehingga dijuluki bunga abadi. Saat ini edelweis terancam punah sehingga dilindungi undang-undang. Tidak diperbolehkan mencabut dan membawa edelweis turun dari gunung karena ia akan layu dan mati. Namun jangan khawatir, kita bisa kok membeli edelweis yang telah dibudidayakan petani. Sejatinya bunga-bunga akan indah saat berada di pohon dan bergoyang saat angin bertiup, bukan saat berada di tangan.

Nah, itulah beberapa oleh-oleh khas yang bisa kita dapatkan di Dieng, tentu akan lebih banyak macamnya jika teman-teman datang langsung kesana. Mana saja tempat wisata di Dieng yang ernah teman-teman kunjungi? Yuk sharing ^^














Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jamu, Menyingkap Sejarah Kesehatan Nenek Moyang Indonesia

Resep dan Cara Memasak Ikan Pari Goreng Gurih Tanpa Bau

Review Kosmetik Organik Aquila Herb: Day Cream, Gamat Cream, dan Sabun Sereh