Ethica: Mewujudkan Cinta Melalui Busana Muslim Keluarga

Assalamualaikum ww

Wah, tidak terasa ya, bulan ramadhan dan Syawal sudah berlalu. Akan sangat merindukan kedua bulan mulia ini, dan semoga kita semua dipertemukan dengan bulan mulia ini di tahun depan, amiin.

Bulan ramadhan, adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an dan bulan dimana umat Islam berpuasa, menahan dari segala sesuatu yang membatalkan dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Bulan ini sangat istimewa karena segala amal baik dilipatgandakan pahalanya, dan malam lailatul qadar juga terdapat pada bulan ramadhan ini, sehingga pada ramadhan seluruh umat Islam, berlomba-lomba dalam kebaikan. Masjid-masjid penuh jamaah, semua berusaha untuk memperbaiki diri, dan memperbanyak ibadah. Termasuk dalam hal sosial kemasyarakatan, kaum muslim berlomba-lomba untuk berinfaq, bersedekah, dan menyalurkan zakat sebelum tiba Shalat Ied.

Dalam keluarga sendiri, bulan ramadhan memiliki makna yang dalam. Dalam keluarga kami, misalnya, selama bulan ramadhan menjadi bulan pembelajaran bagi kami, moment yang tepat untuk belajar kembali tentang rukun Islam, berjamaah di masjid, membayar zakat, belajar berpuasa untuk anak-anak, dan sahur serta buka bersama. Alhamdulillah, anak-anak sangat bersemangat, bahkan Isya berpuasa hampir sebulan penuh (minus 2 hari terakhir karena kami mudik), dan Himda di usia 5 tahun bisa belajar berpuasa selama 2 minggu. Mereka juga antusias ikut buka puasa, sahur, dan mengikuti kegiatan ramadhan di sekolah dan di TPQ.


Saat bulan ramadhan, kami sekeluarga melihat sebuah tayangan islami yang menceritakan tentang sebuah kisah. Kisah ini terjadi di Madinah, pada suatu  pagi Hari Raya Idul Fitri. Rasulullah Saw, seperti biasa tiap hari lebaran, mengunjungi rumah demi rumah untuk mendo’akan kaum Muslim agar merasa gembira dan  bahagia pada hari raya itu.
Semua terlihat merasa gembira dan bahagia, terutama anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari ke sana ke mari dengan mengenakan pakaian yang bagus serta mainan-mainan ditanganya. Namun, tiba-tiba Rasulullah Saw melihat di sebuah sudut jalan ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih sambil menangis . Ia memakai pakaian yang sangat lusuh serta rambut yang acak-acakan dan sepatu yang telah usang.

Rasulullah pun bergegas menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis tersedu-sedu.

Rasul kemudian meletakkan tangannya dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut: “Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?”


Gadis kecil itu terkejut. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita:

“Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah Saw. Ia berjuang bersama Rasulullah Saw bahu-membahu dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?”

Setelah Rasulullah mendengar cerita itu, seketika hatinya diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang ia membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata: “Anakku, hapuslah air matamu… Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu…. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? …. Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu…. dan Aisyah menjadi ibumu…. Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?”

Begitu mendengar kata-kata itu, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya. Masya Allah! Benar, ia adalah Rasulullah Saw, orang tempat ia baru saja mencurahkan kesedihannya dan menumpahkan segala gundah di hatinya.

Gadis yatim kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah, namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah kata pun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya.

Gadis yatim kecil itu lalu bergandengan tangan dengan Rasulullah Saw menuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangan Rasulullah yang lembut itu.


Sesampainya di rumah Rasulullah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu dibersihkan dan rambutnya disisir oleh beliau. Semua memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.

Gadis kecil itu lalu dipakaikan gaun yang indah dan diberikan makanan, juga uang saku untuk hari raya. Lalu ia diantar keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya.

Anak-anak lain merasa iri pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu. Mereka merasa keheranan, lalu bertanya: “Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?”

Sambil menunjukkan gaun baru dan uang sakunya gadis kecil itu menjawab:

“Akhirnya aku memiliki seorang ayah! Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya! Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatimah. Ia menyisir rambutku dan mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.”

Rasulullah tak hanya berbaju bagus saat berlebaran, tetapi juga mengajak seorang anak yatim ikut berbaju bagus, sehingga nampak tak berbeda dengan Hasan dan Husain. Lelaki agung itu, tahu bagaimana menjadikan hari raya juga istimewa bagi anak-anak yatim. Mampukah kita meniru cara Rasul berlebaran?
Ramadhan juga menjadi moment untuk bersyukur, banyak bersyukur, sekaligus mengajarkan hablumminallah dan hablumminannas pada anak-anak. Bahwa di luar sana ada banyak saudara kita yang perlu diperhatikan dan dibantu. Disinilah peran zakat, infaq, dan shadaqah untuk mereka yang membutuhkan.

Sunah Idul Fitri: 
Mandi, Memakai Wangi-wangian dan Mengenakan Pakaian Terbaik Sebelum Shalat Ied
 
Sebelum berangkat ke masjid atau lapangan untuk melaksanakan shalat hari raya, kita disunahkan mandi, memakai wangi-wangian dan mengenakan pakaian yang terbaik. Dalam sebuah hadits dari Hasan As Shibti disebutkan:
اَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الْعِيْدَيْنِ اَنْ نَلْبَسَ اَجْوَدَ مَا نَجِدُ وَاَنْ نَتَطَيَّبَ بِاَجْوَدِ مَانَجِدُ وَاَنْ نُضَحِّيَ بِاَثْمَنِ مَا نَجِدُ (رواه الحاكم

Artinya: “Rasulullah saw. memerintahkan kepada kami agar pada kedua hari raya memakai pakaian yang terbagus, memakai wangi-wangian yang terbaik dan berkurban dengan hewan yang paling berharga.” (HR.Al Hakim)
Sunah Idul Fitri yang lain adalah makan sebelum shalat Idul Fitri, mengambil jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang shalat Ied, bertakbir, dan shalat Idul Fitri.

Di Indonesia, moment ramadhan dan lebaran sendiri sangat unik. Karena ada tradisi yang menyertai moment istimewa ini, diantaranya mudik ke kampung halaman, adanya uang THR, ada makanan khas lebaran, ada baju baru, parcel dan halal bi halal. Seperti tahun-tahun sebelumnya, lebaran tahun ini kami juga mudik bergantian ke rumah kakek neneknya Isya, Himda, Navid. Dan untuk anak-anak, menjelang hari raya Idul Fitri yang mereka nanti apalagi kalau bukan parcel dan baju lebaran.

Fashion muslim di Indonesia berkembang sangat pesat, dari desain, model, kualitas dan harga yang beragam sehingga bisa menjangkau semua kalangan. Selama bulan ramadhan, fashion muslim yang paling dicari adalah baju keluarga dan busana muslim terbaru. Kami sekeluarga sempat jalan-jalan ke toko fashion, tidak jadi beli karena penuh dan ramai sekali. Kurang nyaman buat bayi dan anak-anak. Jalanan yang biasa lengang menjadi ramai. Toko-toko penuh pembeli. Tidak bisa dipungkiri, bulan ramadhan menggerakkan aktivitas perekonomian. Para ayah dan ibu sibuk memilihkan baju lebaran berupa busana muslim terbaru untuk putra-putri mereka. Ramadhan, dan senyuman anak-anak adalah hal yang  sangat bermakna. Masih teringat binar mata Himda saat mencoba baju lebarannya untuk pertama kali. Anak-anak belum paham harga, belum bisa membedakan mahal/murahnya pakaian. Tapi mereka bisa merasakan ketulusan dari orang tuanya. Dan orangtuanya yang harus mencukupi kebutuhan mereka, memberikan mereka baju terbaik sebatas kemampuan.

Untuk tahun ini, kami sempat hunting produk Ethica, sayang tidak menemukan yang koleksinya lengkap. Menemukan produk Ethica di salah satu agen, adanya yang Hafa Series. Lagi-lagi, tidak lengkap. Cuma ada koko anaknya. Kenapa Ethica?
 

ETHICA (baca: etika) – Fashion n Friends, adalah sebuah Brand Pakaian Anak – Remaja yang mengusung ‘Spiritualitas Islam yang Mencerahkan’ melalui kekuatan warna, variasi motif, design simple, dan matching yang terdiri atas paduan kain kaos terpilih dan kain katun berkualitas. Sebenarnya Ethica merupakan Re-Brand dari SALSAKIDS (2007), dan SALSA CLOTHING (2010) yang disempurnakan sehingga menjadi lebih matang, kuat, unik dan berkarakter. Bisnis ini dikembangkan melalui sistem keagenan dan reseller yang kini telah memiliki puluhan cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.
 
Sebelumnya kami sudah memiliki produk Salsa Clothing, dan bajunya awet, tidak luntur, modelnya bagus. Jadi baju andalannya Isya. Baik untuk ke masjid, silaturahmi, jalan-jalan, apapun acaranya, cocok pake baju ini.
Isya, saat ikut Abi ke Jakarta (dokpri)

Jadilah sekarang kami ingin memiliki baju keluarga yang bagus kualitasnya, modelnya, dan terjangkau harganya. Karena belum menemukan untuk Himda dan Navid, jadi Isya dulu yang memiliki Ethica. Kami memilihkan dari Hafa Series, warna coklat, dan dia suka. Alhamdulillah.

Isya dengan Ethica K70 coklat

Setelan koko yang dipakai Isya dari Ethica Hafa Series dengan kode K70. Setelan ini terdiri dari koko lengan pendek warna coklat dengan aplikasi di kerah dan saku di bagian kiri atas, dipadukan celana panjang warna coklat tua dengan saku samping yang dihias aplikasi senada dengan atasan. 
Kami suka baju ini karena harganya terjangkau, nyaman sekali untuk Isya yang super aktif. Celananya tebal tapi tidak mudah kusut. Bahkan meskipun belum disetrika, bajunya juga  tidak mudah kusut. Saat dicucipun tidak luntur. Setelan koko anak Ethica umumnya berlengan pendek. Menyesuaikan tipikal anak lelaki yang aktif, banyak bergerak, banyak berkeringat sehingga memerlukan atasan yang nyaman, menyerap keringat dan tidak mudah kusut serta celana yang tebal agak tidak mudah sobek.


Fashion muslim Ethica lengkap sekali, untuk koko ayah, gamis ibu, koko anak, gamis anak dan remaja.
Untuk fashion dewasa, Ethica begitu serasi membuat mix and match sehingga menghasilkan baju yang anggun, casual, dan cerah. Ada banyak  model seperti : Arlisa, GM, GCT, GST, ST, IMARI, MyLia, Stalya dan Majma.



Sedangkan untuk anak ada berbagai pilihan model seperti: MyLia Kids, koko anak, OSK, ORK dan RSK yang terbuat dari katun dan kaos yang nyaman untuk anak-anak sehingga bisa leluasa beraktivitas.
Selain itu, ada pula model Kagumi, Elfa, Ohya dan Seply. Kekuatan warna dari Ethica yang kuat, dipadukan dengan kain yang berkualitas, menjadikan produk-produk Ethica banyak digemari. Dan sepertinya stoknya juga terbatas, sehingga EthicaLovers harus segera order jika sudah mantap dengan pilihannya agar tidak diambil EthicaLovers lainnya. ^_^

Melihat koleksi terbaru Ethica yang cantik, saya jadi pengen banget bisa tampil kompak dengan baju keluarga dari Ethica. Apalagi tahun depan Navid sudah lepas ASI jadi bisa pakai baju koko kembar dengan Kak Isya. Pas banget menjadikan Ethica sebagai pilihan untuk baju sarimbit 2018. Untuk sarimbit sendiri kita bisa memilih ada sarimbit pasangan dan juga baju keluarga. 

 Couple Series dari Ethica, bisa tampil kompak dengan pasangan

Saya sendiri sangat tertarik dengan produk gamis untuk ibu dan anak. Selain bisa kompak dengan anak, perpaduan warna dan desainnya sangat bagus. Modelnya anggun dan feminin, jadi ngebayangin gimana reaksi Himda nanti. Mengenakan baju keluarga seperti mewujudkan cinta, menumbuhkan kekompakan, mengeratkan kasih sayang dalam keluarga. Saat si kecil yang sholih tampil serasi bersama ayahnya, ke masjid bersama, melakukan aktivitas bersama, dan buah hati yang sholih mendapatkan figur ayah yang hangat dan mencintai.
Si kecil sholihah juga bisa tampil percaya diri, menutup aurat sejak dini. Dia bisa tampil menjadi princess yang baik hati.  Busana muslim mengajarkan kita, untuk menutup aurat, dan memotivasi untuk memperbaiki diri. Sebagaimana slogan Ethica "Spiritualitas Islam yang Mencerahkan".



Ethica juga memiliki koleksi baju pasangan dan baju keluarga yang elegant. Sangat tepat dijadikan pilihan untuk baju sarimbit 2018. Ethica selalu up to date, termasuk untuk model busana muslim 2018. 
Untuk baju keluarga sendiri, Ethica justru membuat saya bingung, bingung milih karena semua bagus. 


Biar tidak kehabisan, kita bisa membeli langsung produk Ethica di sini:


Atau di agen-agen terdekat di kota kita, misalnya di Jawa Tengah. Kita bisa mendapatkan Ethica di sini:


Dan untuk selalu mengikuti perkembangan produk Ethica tanpa repot harus ke tokonya, kita juga bisa liat produk-produk Ethica di:
Website: https://ethicafashion.com
Instagram: @ethica.id
Twitter: @ethica_id
facebook: /ethicaofficial 













Sumber Referensi dan gambar :
http://ethicafashion.com/
http://www.pilarislam.com/2016/06/kisah-sunah-di-idul-fitri-kisah-sunah.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 KEHAMILAN, 3 PENGALAMAN MENAKJUBKAN

Jamu, Menyingkap Sejarah Kesehatan Nenek Moyang Indonesia