Anak-anak digital

Suatu sore, pas jalan-jalan dengan Himda dan Kak Isya, kita melewati sekelompok anak-anak yang sedang bermain. Gak sengaja dengar percakapan mereka.

A. "Eh, aku udah punya hape lho."
B. "Aku juga, nih punyaku, bagus kan." (sambil menunjukkan hapenya)
C. "Kalo hape yang gedenya segini juga ada ya?" (sambil membentangkan tangan)
A. "Itu namanya laptop, bukan hape."

Rasanya pengen senyum sendiri. Sinergi antara teknologi informasi dan teknologi komputer memang berkembang pesat, sangat pesat malah. Dulu waktu saya kelas 3 SMP, baru berkenalan dengan komputer. Itupun masih dengan disket. Komputer masih sesuatu yang eksklusif. Orang yang menguasai komputer tampak keren dan hebat. Berbanding terbalik dengan sekarang, hampir tiap rumah memiliki komputer, laptop, tablet dan aneka macam gadget. Jika dulu saat saya kecil, belum ada hape, berkomunikasi masih lewat surat, hanya beberapa orang yang ekonominya cukup yang memiliki telepon rumah, dulu ibu dan bapak harus ke wartel untuk menelpon saya saat bersekolah di pesantren dan ngekos saat kuliah. Dan sekarang, subhanallah, teknologi informasi melesat jauh. Rasanya saat ini hampir semua orang punya hape. Bahkan saat aku dan ibu berbelanja ke pasar, ada beberapa pedagang yang sedang mengobrol tentang teknologi 3G yang bisa digunakan untuk komunikasi 2 arah. Yang keterlaluan, ibu pernah memergoki seorang pengemis yang menyembunyikan hape dibalik baju kumalnya.

Isya pake mobilephone sama abi
           
             Balik lagi ke anak-anak. Anak sulung saya, Isya (3,5th) sudah terbiasa dengan televisi, sudah bisa menyalakan dan mematikan laptop dan bisa menggunakan windows phone serta android yang kami gunakan. Begitupun dengan Himda (1,5th) yang sudah bisa meminta tayangan yang ingin ia lihat di mobilephone atau televisi. Mereka adalah anak-anak digital, atau yang disebut digital natives

Digital natives merujuk pada generasi internet. Sebagaimana disebutkan oleh Bayne dan Ross (2007), digital natives juga sering dipadankan dengan istilah digital generation, net generation, technological generation, atau millenials 
Siapa persisnya mereka? Palfrey dan Gasser (2008) menyebut mereka adalah yang lahir setelah tahun 1980, yakni di era digital. Mereka ini mengakses teknologi jejaring digital serta memiliki keterampilan dan pengetahuan tentang komputer.
Kalau memang anak kita adalah digital natives, lalu siapakah kita, para orangtuanya? Kita adalah digital immigrants, yakni mereka yang telah mengadopsi dan menggunakan internet dan teknologi terkait, tetapi lahir sebelum kemunculan era digital.
Digital immigrants belajar bagaimana membuat serta menggunakan e-mail dan jejaring sosial. Namun, proses itu semua berlangsung “terlambat” dibandingkan digital natives, yang mengenyam teknologi tersebut sejak masih usia SD, bahkan sejak lahir.
Tentu saja, generasi anak-anak kita berbeda dengan kita. Digital natives belajar, bekerja, menulis, dan berinteraksi dengan orang lain melalui cara yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Digital natives sangat memahami prosedur penggunaan internet, mulai dari masuk ke browser hingga memproduksi pesan di dalamnya. Mereka ini menjadikan aktivitas berselancar di dunia maya sebagai rutinitas yang hampir setiap saat dilakukan. Dapat dikatakan, generasi ini menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia maya
 Berita tentang cybercrime, kecanduan internet, dan efek negatif internet memang membayangi kami. Untuk mengantisipasinya kami berusaha agar anak mendapat hal-hal positif saja dari teknologi informasi. Pada dasarnya, pada anak, belajar di waktu kecil seperti mengukir di atas batu. Jadi memberi mereka masukan-masukan postifit apapun medianya. baik melalui media berbasis teknologi maupun sosial. Keduanya kami usahakan seimbang. Sejak lahir (bahkan sejak dalam kandungan) Isya dan Himda sudah terbiasa mendengar murotal dan sholawat. Hal ini kami teruskan hingga kini, membelikan mereka CD sholawat anak, dan CD pembelajaran sesuai usia anak. Dengan mobilephone biasanya mereka melihat sholawat di youtube. Kalaupun "nyasar" ke video lain, kita pilihkan video doa anak, film kartun, atau video mainan. Selain itu jangan membiarkan anak terlalu lama dengan gadget meskipun yang mereka lihat positif. Jika sudah lama nonton tivi atau bermain mobilephone, harus langsung dialihkan ke aktivitas lain seperti,"eh, ada teman-teman Kak Isya lewat naik sepeda" biasanya Isya langsung beranjak dari tempatnya. Atau sering saya mengajak mereka ke sawah, melihat anak-anak bermain layang-layang, dan pak tani yang berteriak mengusir burung-burung sambil bercerita pada Isya tentang asal mula nasi, atau mempraktekkan apa yang baru ia lihat di tivi. Kami memilihkan apa yang Isya dan Himda tonton di tivi, biasanya film kartun, dan acara yang mendidik seperti unyil, si bolang atau dunia binatang, lalu kita praktekkan. Misalnya, setelah melihat kapal, Isya membuat kapal dari lego beserta batubara, nakhoda, atau truk yang mengangkut barang, ia bebas berkreasi sesuai imajinasinya. 
Untuk anak seusianya, balita dengan masa golden age yang tak akan terulang, mereka perlu belajar banyak hal seperti beribadah, bersosialisasi, berteman, berkebun, berkreasi dan banyak lagi yang semuanya diwujudkan dalam aktivitas bermain. Dengan teknologi komputer, mereka belajar melihat dunia, Isya dan Himda bisa melihat gambar apapun yang mereka ingin di komputer, dengan teknologi informasi mereka bisa berkomunikasi dengan orang tua atau saudaranya saat berjauhan baik melalui handphone maupun social media seperti skype, dan melihat berbagai video sholawat atau mainan yang disukainya lewat internet. Sebagai orangtua kita tidak bisa menghalangi kecanggihan teknologi dan kecepatan laju informasi, tapi setidaknya melatih anak sejak dini bijak berinternet dengan membiasakan memilihkan acara yang mereka lihat, mendampingi mereka, dan menjalin komunikasi yang hangat sambil menyeimbangkan dengan aktivitas yang lain adalah salah satu hal baik yang bisa kita lakukan 

referensi. http://www.ummi-online.com/berita-188-anak-kita-anak-digital--.html

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway 1st Anniversary myjavalamp.blogspot.com

Komentar

  1. "Rasanya saat ini hampir semua orang punya hape. Bahkan saat aku dan ibu berbelanja ke pasar, ada beberapa pedagang yang sedang mengobrol tentang teknologi 3G yang bisa digunakan untuk komunikasi 2 arah. Yang keterlaluan, ibu pernah memergoki seorang pengemis yang menyembunyikan hape dibalik baju kumalnya" --> Betul bu.. kayaknya pengemis tadi juga pengemis digital.. hehehe
    Terima kasih sudah ikut sebagai peserta giveaway.
    Tercatat sebagai peserta... :D

    BalasHapus
  2. sama sama Pak Darto, sukses untuk GA nya :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 KEHAMILAN, 3 PENGALAMAN MENAKJUBKAN

Jamu, Menyingkap Sejarah Kesehatan Nenek Moyang Indonesia